www.rmolsumsel.com – Nama Marhaen tiba-tiba muncul lagi di timeline Gen Z, seolah sosok petani sederhana itu baru saja dibuatkan akun media sosial. Di tengah banjir konten, istilah Marhaenisme menjelma bahan diskusi, meme, bahkan materi pemasaran gagasan politis. Fenomena ini menarik karena terjadi saat generasi muda justru sering disebut apatis terhadap isu sosial, namun ternyata antusias mengulik ajaran lama dengan cara baru.

Ledakan minat tersebut bukan sekadar romantisme sejarah. Ada proses pemasaran ideologis yang berlangsung sangat halus, memadukan bahasa ringan, visual menarik, serta narasi keadilan sosial. Ketika figur publik seperti Pramono Anung menyinggung Marhaenisme di ruang publik, penyebaran konsep itu semakin cepat. Gen Z pun menjadikannya semacam “dalil baru” untuk membaca ulang realitas ekonomi, pekerjaan, hingga cara mereka memaknai kemandirian.

Marhaenisme Masuk Era Pemasaran Digital

Marhaenisme lahir dari perjumpaan Soekarno dengan petani kecil bernama Marhaen, simbol rakyat pekerja yang punya alat produksi sendiri namun tetap rentan. Dulu konsep itu hidup lewat pidato, selebaran, serta diskusi kader. Kini, masuk era pemasaran digital, ajaran tersebut bertransformasi menjadi konten singkat penuh analogi. Kutipan-kutipan Soekarno dikemas ulang sebagai caption Instagram, potongan video, hingga thread edukatif di media sosial.

Di sisi lain, Pramono Anung menilai kebangkitan minat terhadap Marhaenisme tidak lepas dari kondisi ekonomi serba tidak pasti. Gen Z merasakan langsung tekanan biaya hidup, persaingan kerja fleksibel, serta tuntutan produktivitas tanpa batas. Ketika narasi sukses arus utama terasa menjauhkan, konsep yang menempatkan rakyat kecil sebagai pusat perhatian jadi terasa relevan. Marhaenisme pun bergeser fungsi, dari sekadar ajaran politik menjadi bahan baku pemasaran nilai keadilan.

Strategi pemasaran yang menempelkan Marhaenisme ke isu kekinian membuat istilah itu terasa segar. Konten kreator menghubungkannya dengan gig economy, pekerja lepas, sampai wirausaha kecil yang mengandalkan ponsel sebagai modal utama. Kanal YouTube mengupas Marhaenisme melalui studi kasus ojek online, reseller, hingga petani modern. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa gagasan klasik bisa bertahan, selama dibungkus ulang sesuai bahasa generasi baru.

Gen Z, Identitas Sosial, dan Pemasaran Gagasan

Gen Z tumbuh di tengah banjir pesan pemasaran: dari iklan produk, kampanye politik, hingga promosi gaya hidup. Mereka kritis terhadap jargon kosong, tetapi justru tertarik pada narasi yang menyentuh pengalaman sehari-hari. Marhaenisme menawarkan paket lengkap: kisah akar rumput, kritik struktural, serta ajakan mandiri. Ketika dipromosikan melalui format visual menarik, ajaran tersebut tampak seperti aplikasi nilai sosial yang bisa diunduh ke keseharian.

Pemasaran gagasan ke kalangan muda tidak bisa lagi mengandalkan ceramah berkepanjangan. Konten pendek, jelas, serta mudah dibagikan menjadi kanal utama. Di sini, Marhaenisme mendapatkan “kehidupan kedua”. Nilai keberpihakan pada kaum kecil diubah menjadi template konten: “tips jadi Marhaen modern”, “mindset pekerja kecil tapi berdaulat”, atau “cara menolak eksploitasi halus di kantor”. Format seperti ini membuat ideologi terasa praktis, bukan sekadar teori di buku pelajaran.

Dari sudut pandang pribadi, kebangkitan Marhaenisme di kalangan Gen Z menunjukkan keberhasilan pemasaran narasi alternatif. Mereka tidak menelan bulat-bulat ajaran lama, melainkan melakukan remix. Sebagian mengambil semangat anti penindasan untuk membaca ulang fenomena start-up, sistem kontrak kerja, serta budaya hustle. Di sini ada dialektika menarik: generasi yang sering dituduh individualis justru mencari pijakan moral kolektif, lalu mengemasnya ulang sesuai kebutuhan zaman.

Pemasaran Politik: Antara Edukasi dan Komodifikasi

Memasuki tahun politik, Marhaenisme berpotensi berubah menjadi komoditas pemasaran politik. Nama Marhaen bisa muncul di spanduk, slogan kampanye, hingga program kerja. Di satu sisi, pelibatan istilah itu membuka ruang edukasi sejarah. Namun, risiko penyederhanaan berlebihan juga mengintai. Marhaenisme bisa direduksi menjadi sekadar kata pemanis, tanpa penjelasan menyeluruh soal struktur ekonomi maupun relasi kuasa yang dikritiknya.

Pertanyaannya: apakah generasi muda hanya menjadi target pemasaran, atau justru aktor utama yang membalik arah komunikasi? Tanda-tandanya, Gen Z tidak mudah terjebak jargon. Mereka cepat membongkar inkonsistensi antara narasi dan praktik. Ketika politisi mengklaim berpihak pada Marhaen, tetapi kebijakan tidak menyentuh akar masalah, media sosial segera menjadi ruang pengadilan terbuka. Meme, parodi, serta komentar tajam menjadi bentuk kontrol sosial baru.

Dari kacamata penulis, disinilah Marhaenisme berpotensi menemukan relevansi baru. Bukan hanya sebagai label perjuangan, tetapi sebagai alat ukur kejujuran pemasaran politik. Klaim keberpihakan bisa diuji melalui data, testimoni warga, serta pengalaman langsung. Gen Z memiliki senjata kuat: literasi digital dan keberanian bersuara. Kalau ajaran Marhaenisme benar-benar dihidupkan, dampaknya bukan sebatas trending topic, melainkan koreksi nyata terhadap kebijakan publik.

Marhaenisme Sebagai Brand Nilai Sosial

Dalam lanskap pemasaran modern, bukan hanya produk yang dipasarkan, melainkan juga nilai. Marhaenisme perlahan berperan seperti sebuah brand sosial. Ia membawa asosiasi kejujuran, kesederhanaan, serta keberpihakan pada kelompok rentan. Konten kreator, komunitas, hingga pelaku usaha mikro mulai memakainya sebagai identitas. Mereka menyatakan diri dekat dengan “rakyat kecil” untuk menegaskan posisi moral di tengah ketimpangan ekonomi.

Namun, setiap brand berisiko kehilangan kedalaman ketika terlalu sering dipakai tanpa pemahaman. Marhaenisme bisa terperangkap menjadi sekadar label keren. Misalnya dipakai untuk mempromosikan produk yang sebenarnya tidak menyentuh kehidupan kaum kecil. Di sini, tanggung jawab etis pemasaran menjadi penting. Mengusung nama Marhaen semestinya dibarengi praktik usaha adil, upah layak, serta rantai pasok transparan.

Menurut saya, peluang ke depan justru terletak pada kolaborasi antara aktivis, akademisi, serta pelaku pemasaran. Mereka bisa merancang kampanye yang bukan hanya menjual cerita, tetapi juga mengubah perilaku. Misalnya, gerakan belanja dari produsen kecil dengan sistem bagi hasil lebih adil. Atau program edukasi digital bagi pekerja informal agar tidak tergantung pada perantara eksploitatif. Marhaenisme, dalam bentuk ini, tidak berhenti pada simbol, melainkan mendorong praktik ekonomi lebih manusiawi.

Belajar Pemasaran Nilai dari Marhaenisme

Kebangkitan Marhaenisme di mata Gen Z memberikan pelajaran penting bagi dunia pemasaran: nilai tidak bisa selamanya dipoles tanpa isi. Generasi muda bersedia menerima gagasan lama bila disajikan secara jujur, relevan, serta menghormati kecerdasan mereka. Pemasaran bukan sekadar upaya mendorong konsumsi, melainkan media merapikan cara pikir kolektif. Marhaenisme menjadi contoh bagaimana ajaran keadilan sosial dapat dipasarkan tanpa harus kehilangan roh kritis. Pada akhirnya, pertanyaan reflektif bagi kita semua ialah: apakah kita hanya memakai nama Marhaen sebagai hiasan diskusi, atau sungguh menjadikannya kompas saat mengambil keputusan, berbisnis, serta memilih pemimpin? Di titik inilah nasib Marhaenisme sebagai “dalil baru” Gen Z akan ditentukan: jadi tren sesaat, atau pijakan panjang menuju masyarakat lebih adil.