www.rmolsumsel.com – Setiap musim hujan, kata longsor seakan menjadi berita rutin yang mudah ditebak. Di banyak kota, terutama di jalur padat seperti ring road, tebing yang tergerus air selalu kembali memakan badan jalan. Kasus longsor berulang di tebing Ring Road ini seharusnya bukan sekadar berita musiman, melainkan peringatan keras mengenai cara kita merencanakan serta merawat infrastruktur. Apalagi ketika penanganan sebelumnya tampak lambat dan setengah hati, bencana mudah terulang.

Longsor bukan sekadar masalah alam yang sulit dicegah. Peristiwa ini mencerminkan gabungan faktor: tata ruang lemah, pembangunan terburu-buru, hingga respon aparat yang kurang sigap. Ketika tebing ring road kembali longsor, pertanyaannya bukan lagi “mengapa terjadi?” tetapi “mengapa pelajaran sebelumnya tidak dipegang?”. Artikel ini mengurai duduk perkara longsor, menilai penanganan, serta menawarkan sudut pandang mengenai cara mengurangi risiko serupa di masa depan.

Longsor Ring Road: Bencana yang Sudah Diprediksi

Longsor di area tebing ring road bukan kejadian pertama. Warga sekitar sudah lama memperhatikan retakan kecil pada lereng, aliran air hujan yang menggerus tanah, bahkan suara gemeretak saat hujan deras turun. Tanda-tanda pergerakan tanah jelas tampak, namun respons teknis terasa lambat. Ketika akhirnya bagian tebing runtuh dan menutup sebagian badan jalan, publik hanya bisa mengelus dada karena skenario serupa pernah terjadi beberapa kali sebelumnya.

Pola yang terlihat begitu familiar. Setelah longsor terjadi, barulah alat berat didatangkan, garis pembatas dipasang, lalu jalur dialihkan. Rangkaian tindakan tersebut penting, tetapi sifatnya reaktif. Padahal, longsor bisa dipetakan sejak awal melalui kajian geologi, pemantauan drainase, serta penguatan struktur lereng. Kegagalan membaca sinyal bahaya mengubah potensi ancaman menjadi kenyataan pahit bagi pengguna jalan dan warga sekitar.

Dari sudut pandang tata kelola, longsor berulang ini menyiratkan dua masalah utama. Pertama, minimnya inspeksi berkala pada tebing jalan strategis. Kedua, upaya perbaikan sebelumnya tampak hanya menyasar permukaan, bukan akar persoalan. Pemasangan penahan tanah sementara tanpa rekayasa lereng menyeluruh membuat ancaman longsor sekadar tertunda, bukan terselesaikan. Tebing ring road menjadi simbol betapa pencegahan sering dikorbankan demi solusi cepat yang tampak murah, namun mahal di kemudian hari.

Akar Masalah: Dari Drainase hingga Tata Ruang

Untuk memahami kenapa longsor terus menghantui ring road, perlu melihat faktor teknis sekaligus non-teknis. Dari sisi teknis, banyak tebing berada pada tanah labil dengan sudut kemiringan curam. Ketika hujan deras turun, air meresap ke retakan lalu meningkatkan tekanan pori tanah. Tanpa saluran drainase memadai, air tertahan di lereng sehingga daya ikat tanah melemah. Pada titik tertentu, gaya gravitasi menang, dan terjadilah longsor yang menghantam sisi jalan.

Situasi semakin pelik ketika tata ruang kurang memperhatikan daya dukung kawasan. Pembangunan permukiman di atas tebing, pengupasan vegetasi untuk lahan baru, serta pembuangan air hujan dari rumah ke lereng memperparah kondisi. Akar pohon yang sebelumnya membantu mengikat tanah diganti beton atau pagar. Air hujan tidak lagi diserap perlahan, tetapi dialirkan cepat ke bagian lereng rapuh. Kombinasi ini menciptakan bom waktu longsor setiap kali curah hujan meningkat.

Faktor non-teknis tidak kalah besar pengaruhnya. Anggaran pemeliharaan tebing seringkali kalah prioritas dibanding pembangunan proyek baru. Sementara koordinasi antarinstansi belum solid. Dinas yang mengurus jalan, tata ruang, serta lingkungan berjalan dengan agenda masing-masing. Tanpa rencana terpadu, tebing ring road hanya menerima tindakan tambal sulam. Dari kacamata pribadi, ini mencerminkan budaya reaktif yang masih kuat, di mana risiko longsor dipandang sebagai urusan nanti, bukan sekarang.

Penanganan Lambat dan Dampaknya bagi Warga

Penanganan yang terlambat saat longsor terjadi membawa konsekuensi luas bagi warga. Kemacetan panjang muncul di ring road karena jalur harus dipersempit. Waktu tempuh bertambah, ongkos logistik naik, pedagang kecil sekitar lokasi sepi pembeli. Pengguna jalan pun waswas melewati area longsor, meski sudah dibersihkan, sebab kepercayaan mereka pada keamanan tebing menurun. Warga sekitar juga cemas setiap mendengar ramalan hujan lebat, takut longsor susulan kembali memutus akses utama mereka. Situasi ini menunjukkan bahwa ketidaksiapan menghadapi longsor bukan cuma persoalan teknis, tetapi juga beban psikologis dan ekonomi bagi banyak orang.

Mengelola Risiko Longsor, Bukan Sekadar Membersihkan Material

Pandangan umum terhadap longsor kerap berhenti pada aktivitas pembersihan material dari badan jalan. Begitu truk pengangkut tanah pergi serta aspal tampak bersih, banyak pihak merasa tugas selesai. Padahal, inti manajemen risiko longsor justru terletak pada upaya sebelum bencana terjadi. Monitoring tebing, perbaikan drainase, penguatan lereng, hingga pengaturan vegetasi adalah contoh langkah preventif yang seharusnya masuk rutinitas, bukan program darurat musiman.

Pada kasus tebing ring road, idealnya ada pemantauan berkala terhadap pergerakan tanah. Alat sederhana seperti patok pengamatan retakan dapat dipasang di titik rawan. Jika pergeseran melewati batas tertentu, peringatan bisa segera dikeluarkan. Selain itu, inspeksi drainase saat awal dan akhir musim hujan penting dilakukan agar aliran air lancar. Langkah teknis ini sebenarnya tidak rumit, hanya membutuhkan komitmen serta disiplin pelaksana.

Saya memandang bahwa kegagalan mengelola risiko longsor berakar dari cara pandang terhadap infrastruktur. Jalan sering dilihat hanya sebagai hamparan aspal, bukan satu kesatuan dengan tebing, vegetasi, dan sistem air di sekitarnya. Selama kita memandang longsor sekadar insiden yang datang tiba-tiba, bukan gejala dari sistem yang rapuh, maka siklus bencana berulang akan sulit terputus.

Peran Pemerintah, Warga, dan Komunitas Teknis

Tanggung jawab mengurangi risiko longsor memang tidak bisa dipikul satu pihak saja. Pemerintah daerah memegang peran kunci dalam menyusun peta rawan longsor, menetapkan zona aman, serta menyiapkan anggaran pemeliharaan tebing. Namun, tanpa partisipasi warga dan dukungan komunitas teknis, kebijakan mudah berhenti di atas kertas. Kolaborasi menjadi kata kunci untuk keluar dari pola reaktif menuju pola preventif.

Warga sekitar tebing bisa berkontribusi melalui pengawasan harian. Laporan cepat mengenai retakan baru, aliran air tidak wajar, ataupun suara tanah bergerak sangat membantu. Informasi lokal semacam ini sering kali lebih cepat dibanding data sensor resmi. Komunitas teknis seperti akademisi dan ahli geologi dapat membantu mengevaluasi desain penahan tanah, memberikan masukan berbasis riset, hingga mengedukasi publik terkait tanda awal longsor.

Dari sudut pandang pribadi, momentum longsor di ring road seharusnya dimanfaatkan sebagai titik balik. Alih-alih sekadar mencari kambing hitam, lebih baik dijadikan kesempatan memperkuat mekanisme kolaborasi. Forum lintas sektor bisa dibentuk untuk membahas titik rawan longsor, menyusun prioritas, serta membagi peran secara jelas. Dengan begitu, penanganan tidak lagi bergantung pada satu institusi saja.

Menuju Infrastruktur Tahan Longsor

Kasus longsor berulang di tebing ring road mengajarkan bahwa infrastruktur masa depan harus dirancang dengan perspektif ketahanan bencana. Bukan hanya kuat menahan beban kendaraan, tetapi juga mampu menghadapi perubahan iklim dan curah hujan ekstrem. Penggunaan teknologi seperti dinding penahan fleksibel, sistem drainase berlapis, serta vegetasi berakar kuat perlu diprioritaskan. Namun, teknologi secanggih apa pun tidak akan cukup bila budaya pemeliharaan lemah. Pada akhirnya, refleksi paling penting ialah keberanian mengubah cara kerja: dari mengejar perbaikan instan menjadi membangun perlindungan jangka panjang. Longsor mungkin tidak pernah bisa dihapus sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat ditekan ketika peringatan tidak lagi diabaikan.