www.rmolsumsel.com – Sidang perdana kasus korupsi tambang di Pengadilan Tipikor menghadirkan 12 terdakwa sekaligus. Perkara besar seperti ini biasanya terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, di era gadget serba terhubung, tiap detail persidangan bisa menyebar cepat ke layar ponsel. Transparansi hukum tidak lagi hanya bergantung pada ruang sidang, tetapi juga pada teknologi yang kita genggam.

Kisah korupsi tambang menyentuh banyak sisi: kerusakan lingkungan, kerugian negara, hingga runtuhnya kepercayaan publik. Gadget ikut berperan ganda. Di satu sisi, ia membuka akses informasi lebih luas. Di sisi lain, banjir konten berisiko mengaburkan esensi perkara. Tulisan ini mencoba membedah sidang dakwaan 12 terdakwa korupsi tambang, sekaligus melihat bagaimana budaya digital memengaruhi cara publik memandang keadilan.

Sidang Korupsi Tambang di Tengah Sorotan Gadget

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menggelar sidang pembacaan dakwaan terhadap 12 terdakwa kasus korupsi sektor pertambangan. Jumlah terdakwa sebanyak itu menandakan dugaan praktik sistemik, bukan sekadar ulah individu. Jaksa memaparkan konstruksi perkara mulai dari proses penerbitan izin, pengelolaan produksi, hingga aliran uang. Bukan hanya soal pelanggaran prosedur administratif, melainkan dugaan persekongkolan terencana guna memeras sumber daya alam untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

Uniknya, perhatian publik terhadap sidang semacam ini kini banyak dimediasi oleh gadget. Warganet memantau perkembangan lewat portal berita, live report, hingga potongan video singkat. Narasi hukum kemudian bertarung dengan narasi media sosial. Ringkasan kilat yang muncul di layar ponsel bisa menguatkan transparansi, namun juga berpotensi menyederhanakan perkara rumit menjadi sekadar drama politik. Di sinilah tantangan literasi hukum bertemu kultur digital cepat saji.

Dari sudut pandang hukum, pembacaan dakwaan merupakan panggung penentuan arah. Di fase ini, publik mendapat gambaran awal tentang skema dugaan korupsi tambang. Bagaimana izin dieksploitasi, siapa saja diduga terlibat, serta seberapa besar kerugian negara dan kerusakan ekologis. Namun bagi pengguna gadget, momen penting tersebut sering hanya hadir sebagai notifikasi singkat. Penting bagi media dan pembaca untuk mengupayakan kedalaman, bukan sekadar kecepatan.

Gadget, Transparansi, dan Ilusi Keterbukaan

Sering muncul anggapan bahwa semakin banyak informasi beredar melalui gadget, semakin transparan pula proses hukum. Pandangan itu tidak selalu tepat. Keterbukaan sejati menuntut akses dokumen, pemahaman konteks, serta ruang kritik sehat. Sementara itu, informasi yang berputar di linimasa lebih sering berupa kutipan parsial, judul bombastis, atau potongan video tanpa penjelasan. Kecepatan distribusi jauh melampaui kemampuan publik untuk mencerna.

Pada kasus korupsi tambang ini, gadget bisa menjadi alat kendali sosial. Masyarakat mampu mengawasi lewat pemberitaan, lalu menekan lembaga penegak hukum agar tidak bermain mata. Namun, gadget sekaligus menyisakan jebakan: kelelahan informasi. Terlalu banyak kasus korupsi bermunculan di layar membuat sebagian orang menjadi apatis. Skandal tambang yang merugikan negara triliunan rupiah terasa sama beratnya dengan isu remeh temeh, karena semua hadir sebagai notifikasi berukuran serupa.

Dari sudut pandang pribadi, saya melihat perlunya sikap lebih selektif memanfaatkan gadget sebagai jendela hukum. Pengguna perlu membangun kebiasaan membaca lebih dari satu sumber, memeriksa ulang data, serta membedakan opini dengan fakta hukum. Tanpa itu, gadget hanya menciptakan ilusi keterlibukaan. Sidang Tipikor menjadi tontonan, bukan ruang pembelajaran publik tentang bagaimana sistem peradilan bekerja menghadapi korupsi sumber daya alam.

Mengawal Keadilan di Era Layar Kecil

Sidang bacaan dakwaan terhadap 12 terdakwa korupsi tambang adalah cermin pertarungan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan keadilan sosial jangka panjang. Di tengah hiruk pikuk informasi dari gadget, kita mudah terjebak pada peran penonton pasif. Padahal, warga bisa memilih menjadi pengawas kritis: mengikuti proses persidangan, mendukung jurnalisme mendalam, serta menuntut pembenahan tata kelola tambang. Jika gadget kita gunakan untuk memperkuat ingatan kolektif, bukan sekadar melupakan kasus lama saat isu baru muncul, maka layar kecil itu justru dapat menjadi alat perlawanan terhadap budaya korupsi yang mengakar. Refleksi akhirnya sederhana: keadilan tidak cukup diumumkan; ia mesti dikawal, dikritisi, juga selalu diingat.