www.rmolsumsel.com – Isu kedatangan Presiden Joko Widodo ke Makassar pada 29 Januari mendadak menghangat. Bukan sekadar kunjungan kerja rutin, kabar ini langsung dikaitkan dengan agenda besar Rakernas PSI di Makassar yang digadang-gadang akan jadi panggung politik penting jelang kontestasi berikutnya. Banyak mata tertuju ke Sulawesi Selatan, menanti kejelasan: apakah ini hanya soal protokol kenegaraan, atau ada sinyal politik yang lebih dalam.
Bagi publik, rakernas PSI di Makassar bukan sekadar rapat internal partai. Kota ini punya posisi strategis di peta politik nasional, terutama sebagai barometer dukungan di kawasan Indonesia Timur. Jika Jokowi benar hadir pada momentum besar itu, dinamika koalisi, suksesi kekuasaan, serta peta dukungan anak-anak muda berpotensi berubah arah. Di sinilah menariknya membaca manuver ini secara lebih jernih, tidak sebatas euforia acara akbar.
Rakernas PSI di Makassar: Panggung Baru Politik Nasional
Rakernas PSI di Makassar berpotensi menjadi titik balik strategi partai yang selama ini mengusung citra anak muda. Memilih Makassar, bukan Jakarta, sebagai lokasi rapat kerja nasional menyiratkan pesan bahwa orientasi politik mulai meluas ke luar Jawa. Kota ini memiliki tradisi politik yang kuat, basis pemilih loyal, serta reputasi sebagai pusat pertemuan regional. Bagi PSI, ini kesempatan besar menguji seberapa jauh resonansi gagasan progresif di kawasan timur.
Dalam konteks komunikasi politik, rakernas PSI di Makassar dapat dimaknai sebagai upaya rebranding ruang perjuangan partai. Dari sekadar partai urban di kota besar Jawa, menuju kekuatan yang ingin merangkul pemilih di pesisir, di kota pelabuhan, juga di kawasan pinggiran. Makassar menyediakan panggung alami untuk narasi itu: kota dengan sejarah maritim panjang, sekaligus ruang tumbuh kelas menengah baru yang kritis terhadap isu tata kelola publik.
Bila Jokowi akhirnya hadir berbarengan dengan rakernas PSI di Makassar, simpul-simpul makna akan semakin rapat. Publik bisa membaca ini sebagai bentuk restu simbolik, atau minimal isyarat kedekatan politik yang tidak bisa diabaikan. Tentu, secara resmi, agenda kepala negara akan dikemas sebagai kunjungan kerja biasa. Namun, dalam politik, simbol sering kali berbicara lebih lantang daripada pernyataan konferensi pers.
Makna Strategis Kehadiran Jokowi di Tengah Dinamika Partai
Kehadiran Presiden di sebuah kota tepat saat rakernas PSI di Makassar berlangsung memicu beragam interpretasi. Bagi sebagian orang, ini terlihat sebagai kelanjutan dari pendekatan Jokowi terhadap partai-partai baru yang mengusung isu antikorupsi serta transparansi. Bagi yang lain, ini dianggap langkah cermat menjaga pengaruh politik di luar struktur formal kekuasaan. Di tengah transisi kepemimpinan nasional, setiap isyarat punya bobot sendiri.
Dari sudut pandang strategi, rakernas PSI di Makassar dapat menjadi laboratorium politik untuk menguji sejauh mana efek Jokowi masih kuat di akar rumput. Apabila sentimen positif terhadap presiden masih tinggi, kehadiran fisiknya atau bahkan sekadar keterkaitan waktu kunjungan bisa membantu mengerek citra partai. Sebaliknya, bila respons publik justru kritis, partai harus menata ulang narasi agar tidak tampak hanya menumpang popularitas tokoh.
Secara pribadi, saya melihat manuver semacam ini tidak bisa hanya dinilai hitam putih. Di satu sisi, kedekatan dengan figur berpengaruh dapat memperkuat posisi rakernas PSI di Makassar sebagai forum strategis. Namun di sisi lain, partai berisiko kehilangan karakter mandiri jika terlalu bergantung pada magnet personalitas. Tantangan terbesar ialah menjaga keseimbangan antara menghormati tokoh nasional dan menghadirkan gagasan orisinal yang benar-benar lahir dari basis kader sendiri.
Makassar sebagai Laboratorium Politik dan Masa Depan PSI
Makassar, lewat rakernas PSI di Makassar dan kemungkinan persinggahan Jokowi, sedang berubah menjadi cermin masa depan politik Indonesia. Di kota ini, kita menyaksikan bagaimana partai baru berupaya keluar dari bayang-bayang Jakarta, mencoba menyapa lebih banyak warga pesisir, mahasiswa daerah, pelaku UMKM, serta komunitas akar rumput lain yang kerap terpinggirkan. Bagi saya, kunci keberhasilan bukan sekadar seberapa meriah acara atau siapa tamu terhormat yang hadir, namun seberapa jujur partai membaca aspirasi warga lalu mengubahnya menjadi kebijakan konkret. Jika momentum akbar ini hanya berhenti pada panggung, slogan, dan foto bersama elite, maka Makassar cuma akan menjadi latar belakang indah tanpa makna mendalam. Namun jika rakernas PSI di Makassar mampu melahirkan strategi baru yang lebih inklusif, transparan, dan berani mengoreksi diri, kota ini bisa tercatat sebagai salah satu titik awal pembaruan politik nasional. Pada akhirnya, publik akan menilai bukan dari seberapa sering nama Jokowi disebut, melainkan seberapa serius partai bekerja setelah panggung ditutup, poster diturunkan, serta lampu sorot dipadamkan.
