www.rmolsumsel.com – Mandalika Last Sunday tahun ini tidak sekadar ajang lari rekreatif di tepi pantai nan ikonik. Ajang lari ini berubah menjadi ruang solidaritas ketika para peserta sepakat berdonasi untuk korban banjir. Di tengah rute yang menantang, mereka membawa misi kemanusiaan, menjadikan setiap kilometer bermakna bagi warga yang sedang berjuang bangkit.
Fenomena ini menarik karena mempertemukan dua energi kuat: kegembiraan olahraga dan kepedulian sosial. Lari menjadi medium untuk merangkul sesama, bukan sekadar mengejar catatan waktu. Dari Mandalika, pesan kuat bergaung: aktivitas fisik dapat ikut membantu pemulihan korban banjir, seiring meningkatnya kesadaran publik tentang pentingnya respon cepat terhadap bencana.
Lari Mandalika Last Sunday dan Solidaritas Korban Banjir
Acara Mandalika Last Sunday dikenal sebagai perayaan gaya hidup aktif di kawasan wisata yang terus berkembang. Tahun ini, penyelenggara menambahkan misi sosial, yaitu penggalangan donasi bagi korban banjir di berbagai daerah. Para pelari tidak hanya membayar biaya pendaftaran, tetapi juga diberi pilihan kontribusi sukarela. Respons komunitas lari cukup mengejutkan, sebab antusiasme donasi tumbuh hampir sama besar dengan semangat menyelesaikan rute.
Keputusan mengarahkan sebagian hasil acara untuk korban banjir mencerminkan kepekaan terhadap situasi kebencanaan di Indonesia. Banjir kerap hadir berulang, merusak rumah, fasilitas publik, serta sumber penghidupan masyarakat. Melalui platform olahraga seperti Mandalika Last Sunday, isu ini kembali diangkat ke ruang publik. Ajang lari seperti ini membantu menjembatani jarak emosional antara mereka yang aman di lintasan lari dan mereka yang masih berkutat dengan lumpur sisa banjir.
Dari sudut pandang pribadi, kolaborasi antara acara lari dan penggalangan donasi terasa seperti bentuk evolusi sebuah event komunitas. Ajang yang dulu hanya berfokus pada prestasi fisik kini merangkul dimensi kemanusiaan. Hal ini penting, sebab solidaritas tidak harus selalu muncul lewat aksi formal atau program pemerintah. Langkah-langkah kecil komunitas bisa memicu dampak jangka panjang, terutama saat berharap pada donasi rutin untuk membantu pemulihan korban banjir dari fase darurat menuju kehidupan yang lebih stabil.
Mengapa Ajang Lari Efektif untuk Aksi Kemanusiaan
Olahraga lari memiliki karakter inklusif. Hampir semua lapisan masyarakat dapat berpartisipasi, dari pemula hingga pelari berpengalaman. Hal tersebut menjadikan Mandalika Last Sunday sebagai wadah efektif bagi kampanye penggalangan donasi korban banjir. Ketika seseorang berlari dengan nomor dada, ia membawa identitas pribadi sekaligus narasi sosial. Cerita bahwa setiap langkah berkontribusi pada pemulihan pasca banjir mampu menggerakkan simpati lebih luas, termasuk penonton yang mengikuti kegiatan melalui media sosial.
Ajang lari Mandalika Last Sunday juga memberi nilai tambah bagi peserta yang ingin kegiatan olahraga mereka terasa lebih berharga. Memang, banyak orang telah sadar akan manfaat kesehatan fisik dan mental dari lari. Namun, ketika keuntungan pribadi itu terhubung dengan kepentingan orang lain, motivasi berpartisipasi cenderung meningkat. Peserta merasakan bahwa energi, waktu, dan biaya yang mereka keluarkan memiliki resonansi sosial lebih kuat, terutama saat melihat laporan donasi disalurkan untuk membantu pemulihan korban banjir.
Dari perspektif penulis, olahraga dan kemanusiaan memiliki logika yang sejalan. Dalam lari, seseorang belajar konsistensi, ketahanan, serta kemampuan menerima rasa lelah. Di sisi lain, warga terdampak banjir juga dipaksa bertahan melewati fase sulit dengan sumber daya terbatas. Ketika kedua dunia ini bertemu di Mandalika Last Sunday, muncul jembatan empati. Pelari mungkin tidak bisa merasakan sepenuhnya perih kehilangan rumah, tetapi mereka mengerti bahasa keteguhan. Donasi menjadi cara konkret untuk menerjemahkan empati tersebut.
Dampak Donasi Bagi Pemulihan Korban Banjir
Donasi hasil Mandalika Last Sunday berpotensi mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari penyediaan logistik, perbaikan sarana rusak, hingga program pemulihan jangka panjang. Jika pengelolaan dana dilakukan transparan serta tepat sasaran, kepercayaan publik terhadap model acara seperti ini akan menguat. Menurut pandangan pribadi, Mandalika Last Sunday telah memberi contoh bahwa event lari tidak perlu berhenti pada garis finis. Ia bisa berlanjut menjadi gerakan sosial berkelanjutan, memantik inisiatif serupa di kota lain. Refleksi pentingnya: di tengah meningkatnya frekuensi banjir, tanggung jawab moral kita juga perlu ikut naik, bahkan lewat aktivitas seharian seperti berlari, agar solidaritas bagi korban bencana tidak menjadi momen sesaat tetapi budaya yang terus tumbuh.
