www.rmolsumsel.com – Perkembangan perang as-israel vs iran memasuki babak lebih rumit. Bukan cuma roket, drone, atau sanksi yang bergerak, tetapi juga manuver politik tingkat tinggi. Di balik layar, muncul sosok baru yang disebut-sebut menjadi incaran Donald Trump untuk memimpin Iran versi bayangan. Figur ini diproyeksikan sebagai alternatif jika rezim Teheran runtuh, sekaligus alat tekan terhadap elite spiritual dan militer Iran.

Kemunculan tokoh tersebut memantik spekulasi luas. Apalagi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di perbatasan Israel–Lebanon. Narasi ekstrem seperti kemungkinan Israel mendorong aneksasi wilayah Lebanon kembali mengemuka. Rangkaian sinyal itu membuat perkembangan perang as-israel vs iran bukan lagi sekadar isu regional, melainkan skenario ulang tatanan keamanan Timur Tengah.

Sosok Incaran Trump dan Mimpi Iran Versi Baru

Dalam diskursus geopolitik Washington, selalu ada “rencana cadangan” untuk setiap rezim bermasalah. Sosok incaran Trump untuk memimpin Iran didorong sebagai figur transisi. Ia digambarkan moderat, dekat dengan Barat, namun tetap berakar pada identitas Iran. Strategi itu berupaya memotong pengaruh ulama garis keras dan Garda Revolusi, yang selama ini menjadi motor kebijakan regional Teheran, termasuk konfrontasi terhadap Israel.

Jika skenario itu berhasil, perkembangan perang as-israel vs iran berpotensi bergeser drastis. Iran pasca-pergantian kekuasaan mungkin menurunkan intensitas dukungan pada Hizbullah, Hamas, serta milisi Syiah di Suriah dan Irak. Namun perubahan cepat jarang berjalan mulus. Friksi internal, perebutan legitimasi, sampai reaksi balik kelompok garis keras justru bisa memicu perang saudara baru. Bagi kawasan, itu sama berbahayanya dengan rezim lama.

Saya menilai wacana “pemimpin pilihan luar” selalu berisiko. Pengalaman Irak, Libya, bahkan Afganistan menunjukkan figur yang didorong kekuatan asing sulit memperoleh kepercayaan publik. Mereka sering dianggap boneka, sehingga legitimasi rapuh. Jika pola serupa diterapkan untuk Iran, potensi instabilitas berkepanjangan justru meningkat. Perkembangan perang as-israel vs iran akhirnya tidak mereda, hanya berganti bentuk dari konflik negara ke konflik internal yang mudah disusupi aktor regional lain.

Perbatasan Israel–Lebanon: Dari Zona Panas ke Ancaman Aneksasi

Ketegangan di perbatasan Israel–Lebanon selama ini sudah tinggi. Bentrokan antara militer Israel dan Hizbullah menjadi pemandangan berulang, terutama setiap eskalasi di Gaza atau Suriah. Namun wacana Israel mendorong penguasaan lebih luas terhadap wilayah Lebanon menaikkan level ancaman. Bukan lagi sekadar operasi terbatas, melainkan skenario perubahan garis batas, yang mengingatkan pada konflik masa lalu.

Dari sudut pandang strategi, dorongan semacam itu terkait erat perkembangan perang as-israel vs iran. Israel memandang Hizbullah sebagai kepanjangan tangan Teheran di utara. Mengurangi atau memutus basis Hizbullah berarti memukul pengaruh Iran di Mediterania Timur. Masalahnya, langkah militer agresif terhadap Lebanon hampir pasti memicu rentetan reaksi internasional, termasuk dari Eropa yang memiliki kepentingan langsung pada stabilitas pengungsi serta energi.

Menurut saya, wacana aneksasi Lebanon mencerminkan rasa frustrasi Israel terhadap pola konflik asimetris. Israel memiliki keunggulan teknologi dan persenjataan, tetapi sulit mematikan jaringan milisi. Dari kacamata Tel Aviv, mengubah realitas teritorial tampak seperti jalan pintas. Namun secara moral serta hukum internasional, itu membuka kotak pandora baru. Perkembangan perang as-israel vs iran malah makin terseret ke arah konfrontasi terbuka, bukan deeskalasi.

Bayangan Perang Regional dan Masa Depan Timur Tengah

Jika kita rangkai seluruh potongan ini—sosok incaran Trump untuk memimpin Iran, tensi di perbatasan Israel–Lebanon, serta ambisi masing-masing kubu—terlihat jelas bahwa perkembangan perang as-israel vs iran menjadi penentu masa depan Timur Tengah. Setiap upaya “rekayasa rezim” membawa risiko runtuhnya struktur negara, sementara skenario ekspansi teritorial mengancam norma internasional. Menurut saya, jalan keluar paling realistis bukan pada pergantian figur semata, melainkan pergeseran paradigma keamanan: dari logika dominasi ke logika keadilan regional, di mana keamanan Israel, kedaulatan Iran, dan hak negara kecil seperti Lebanon diperlakukan setara. Tanpa itu, kawasan ini akan terus hidup di bawah bayang-bayang perang berikutnya, bukan perdamaian yang layak mereka dapatkan.