Pembangunan GOR: Kualitas, Pengawasan, dan Harapan Warga
www.rmolsumsel.com – Pembangunan GOR bukan sekadar proyek fisik yang menumpuk bata lalu menutupnya dengan atap megah. Di balik dinding beton, ada harapan warga akan ruang olahraga aman, layak, sekaligus membanggakan. Saat rencana pembangunan GOR dilanjutkan, sorotan publik langsung tertuju pada kualitas struktur serta keseriusan pemerintah melakukan pengawasan ketat. Kegagalan konstruksi bukan lagi hal sepele, sebab ia menyangkut keselamatan generasi muda yang akan beraktivitas di dalamnya. Karena itu, komitmen terhadap standar teknis wajib menjadi prioritas.
Isu pembangunan GOR belakangan ini juga menyimpan pelajaran penting tentang transparansi, tata kelola anggaran, dan integritas kontraktor. Di tengah maraknya pemberitaan soal proyek mangkrak serta gedung retak dini, publik wajar merasa waswas. Pengawasan ketat, seperti disuarakan Sismita, menjadi kunci untuk menjamin kualitas bangunan mumpuni. Namun, pengawasan bukan hanya urusan aparat teknis. Partisipasi masyarakat, komunitas olahraga, hingga media lokal perlu dirangkul agar proses pembangunan GOR benar-benar akuntabel dari awal hingga serah terima.
Pembangunan GOR seharusnya dimulai dari perencanaan matang, bukan sekadar mengejar serapan anggaran. Tahap desain, pemilihan material, serta analisis beban harus disusun oleh tim profesional yang paham standar keselamatan. Sering kali, masalah kualitas baru terungkap ketika dinding mulai retak atau atap bocor. Padahal akar persoalan sudah muncul sejak gambar kerja disusun. Karena itu, pengawasan perlu hadir sejak fase perencanaan, bukan menunggu beton mengering. Di titik tersebut, koreksi masih murah, risiko teknis jauh lebih terkendali.
Ketika pembangunan GOR memasuki tahap konstruksi, pengawasan beralih ke ranah lebih teknis. Penguji mutu beton, konsultan pengawas, hingga inspektur lapangan perlu bekerja tanpa kompromi. Rasio campuran semen, ketebalan plat, kualitas baja tulangan, serta teknik pengecoran wajib dipenuhi sesuai dokumen kerja. Kerap kali penghematan biaya dilakukan dengan mengurangi mutu material, yang berujung pada gedung rapuh. Menurut pandangan saya, di proyek publik seperti GOR, penghematan seharusnya mencari efisiensi manajemen, bukan memotong kualitas struktur.
Sismita menekankan pengawasan ketat sebagai kunci terciptanya bangunan mumpuni. Pernyataan itu tepat, selama pengawasan tidak berhenti pada kunjungan seremonial dan sesi foto di lokasi proyek. Pengawasan sejati menuntut keberanian menegur kontraktor, menghentikan pekerjaan bermasalah, hingga menolak hasil yang tidak sesuai spesifikasi. Di sini integritas pejabat teknis diuji. Apakah mereka berani berseberangan dengan kepentingan jangka pendek, demi keselamatan pengguna GOR puluhan tahun ke depan? Pembangunan GOR idealnya menjadi contoh bahwa kualitas bisa menang melawan kompromi.
Saat kualitas pembangunan GOR terjaga, manfaatnya terasa luas bagi warga. Atlet muda mendapat arena latihan memadai, sekolah punya tempat kegiatan olahraga, komunitas lokal punya ruang berkumpul. GOR yang nyaman cenderung selalu hidup, kalender kegiatannya padat, dari turnamen bola basket hingga senam lansia. Sebaliknya, bila kualitas rendah, GOR cepat rusak, sering ditutup untuk perbaikan, hingga akhirnya terbengkalai. Gedung seperti itu hanya menjadi monumen kegagalan perencanaan publik. Di titik ini, biaya sosial jauh lebih besar dari sekadar anggaran konstruksi awal.
Dari sudut pandang psikologis, kehadian GOR representatif dapat menumbuhkan rasa bangga warga terhadap kotanya. Pembangunan GOR yang rapi, aman, serta terawat memberi sinyal bahwa pemerintah menghargai kesehatan warganya. Generasi muda melihat olahraga sebagai gaya hidup, bukan sekadar pelajaran jasmani di sekolah. Namun, semua itu hanya mungkin terwujud bila aspek teknis dikawal serius. GOR yang pengap, bocor, atau berbau lembap justru mematikan minat berolahraga. Karena itu, kualitas bangunan bukan perkara estetika, melainkan investasi jangka panjang bagi budaya hidup sehat.
Saya melihat pembangunan GOR berkualitas juga menciptakan efek ekonomi positif. Event olahraga menarik pelaku usaha kecil di sekitar lokasi. Pedagang makanan, penyedia jasa parkir, hingga pelaku ekonomi kreatif ikut bergerak. Bahkan, bila fasilitas memadai, turnamen skala regional bisa digelar. Hal itu mengundang wisatawan olahraga sekaligus memperkenalkan potensi kota. Namun, penyelenggara event profesional hanya akan melirik GOR yang kokoh, aman, serta nyaman. Jadi, setiap pengawasan yang tegas hari ini bisa berbuah aktivitas ekonomi produktif di masa depan.
Pada akhirnya, pembangunan GOR bukan semata urusan teknis konstruksi, melainkan cermin tata kelola pemerintahan. Pengawasan ketat yang diserukan Sismita perlu dilengkapi mekanisme transparansi terbuka, misalnya publikasi progres fisik, rincian anggaran, hingga laporan hasil uji mutu. Warga juga berhak ikut mengawasi, mengirim masukan, bahkan melaporkan kejanggalan di lapangan. Menurut saya, GOR yang berdiri kokoh nanti seharusnya tidak hanya menceritakan kecanggihan struktur beton, tetapi juga kedewasaan kita sebagai masyarakat. Bila pembangunan GOR berhasil menjunjung kualitas sekaligus integritas, ia akan menjadi ruang olahraga yang mempersatukan, bukan sekadar bangunan besar tanpa jiwa. Dari sana, kita belajar bahwa proyek publik terbaik lahir ketika teknis, etika, dan partisipasi warga bergerak seiring.
www.rmolsumsel.com – Suara tawa anak-anak mengalun pelan di tengah hiruk pikuk Entertainment District PIK2. Bukan…
www.rmolsumsel.com – Berita nasional sektor keuangan kembali menyorot industri asuransi jiwa. Kali ini, sorotan tertuju…
www.rmolsumsel.com – Korban kebakaran Pasar Kasongan bukan sekadar angka di laporan bencana. Mereka para pedagang,…
www.rmolsumsel.com – Insiden dugaan kebocoran gas kimia di kawasan PT Vopak, Kalibaru, Jakarta Utara, mengguncang…
www.rmolsumsel.com – Musim hujan kembali menguji kesiapan regional Trenggalek. Longsor besar menutup total ruas Bandung–Prigi,…
www.rmolsumsel.com – Keputusan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk membatasi keberangkatan ke Tanah Suci…