www.rmolsumsel.com – Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Siswa (PKS) se-Kalimantan Tengah menjadi panggung penting untuk kembali menegaskan makna disiplin pelajar. Bukan sekadar baris-berbaris atau hormat bendera, pesan utama yang bergema ialah perlunya generasi muda punya karakter kuat, tertib, serta mampu mengatur diri. Dari momen seremonial ini, muncul harapan baru agar setiap siswa pulang bukan hanya membawa piagam, melainkan kebiasaan positif yang mampu mengubah kultur sekolah.
Figur publik seperti Agustiar Sabran memanfaatkan momentum ini untuk mengingatkan betapa gentingnya isu disiplin pelajar di era gawai, media sosial, serta godaan instan. Di satu sisi, siswa punya akses ilmu yang luas. Di sisi lain, mudah sekali tergelincir pada kemalasan, pelanggaran aturan, bahkan kekerasan. Melalui agenda PKS, disiplin ingin dihidupkan kembali sebagai gaya hidup, bukan ancaman hukuman. Tantangannya, bagaimana semangat di lapangan tetap menyala ketika siswa kembali ke ruang kelas, rumah, juga lingkungan pergaulan.
PKS Kalteng: Laboratorium Disiplin Pelajar
Program seperti PKS se-Kalteng sejatinya berfungsi sebagai laboratorium nyata bagi disiplin pelajar. Di sini, siswa belajar menghargai waktu, mematuhi instruksi, serta menjaga kekompakan tim. Aktivitas fisik, latihan baris, hingga simulasi tugas pelayanan lalu lintas melatih fokus dan ketegasan. Nilai-nilai itu relevan untuk kehidupan harian di sekolah. Siswa yang terbiasa teratur ketika latihan, lebih mudah tertib saat proses belajar. Disiplin tidak berhenti pada seragam rapi, tetapi meluas pada kebiasaan belajar, etika, juga tanggung jawab.
Sering kali, publik mengira disiplin pelajar identik dengan hukuman keras atau aturan kaku. Padahal, inti disiplin adalah kemampuan mengarahkan diri tanpa harus terus-menerus diawasi. Di arena PKS, siswa diajak memahami alasan di balik tata tertib. Mengapa ketepatan waktu penting, mengapa keselamatan lalu lintas harus dijaga, mengapa komunikasi sopan perlu dijunjung. Saat siswa paham makna, aturan tidak terasa mengekang. Justru menumbuhkan kebanggaan, karena mereka merasa berkontribusi menjaga keteraturan bersama.
Dari sisi pembuat kebijakan, ajang PKS memberi gambaran tingkat kesiapan sekolah mengembangkan disiplin pelajar secara sistematis. Apakah guru hanya mengandalkan hukuman, atau mulai merancang sistem apresiasi? Apakah sekolah sudah memberi ruang siswa untuk memimpin, mengambil inisiatif, serta menyelesaikan masalah? PKS menyuguhkan contoh konkret bahwa pelajar mampu menjadi teladan. Tugas berikutnya ialah menjahit pengalaman itu ke dalam budaya sekolah setiap hari, bukan hanya saat event besar.
Disiplin Pelajar di Era Gawai dan Media Sosial
Tantangan terbesar disiplin pelajar saat ini justru muncul dari layar kecil di genggaman. Ponsel membawa banjir informasi, notifikasi beruntun, juga distraksi tanpa akhir. Siswa mudah terjebak scroll media sosial dibanding mendalami pelajaran. Di sini, disiplin berubah makna. Bukan cuma duduk rapi di kelas, tetapi mampu mengendalikan atensi. Mampu berkata cukup pada hiburan ketika waktu belajar tiba. PKS bisa menjadi titik awal edukasi literasi digital yang berlandaskan pengendalian diri.
Disiplin pelajar tidak lagi bisa dipahami sebatas patuh pada guru. Perlu digeser menuju kemampuan mengatur prioritas pribadi. Siswa diajak menyusun jadwal harian, menentukan target belajar, serta mengukur kemajuan diri. Bahkan, teknik sederhana seperti mematikan notifikasi saat belajar atau menaruh gawai di ruang berbeda sudah langkah besar. Pendekatan seperti ini lebih relevan untuk generasi yang tumbuh bersama internet. Mereka butuh contoh konkret, bukan sekadar nasihat umum tentang rajin belajar.
Dari sudut pandang pribadi, disiplin pelajar di era digital sebaiknya diposisikan sebagai seni memilih. Memilih konten berkualitas, memilih teman pergaulan yang mendukung, memilih aktivitas yang menumbuhkan. Guru, orang tua, juga tokoh publik perlu menunjukkan praktik disiplin digital mereka sendiri. Siswa sangat peka terhadap ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan. Jika orang dewasa mengeluh soal kecanduan gawai, tetapi tidak pernah menata kebiasaan sendiri, pesan disiplin menjadi kurang meyakinkan.
Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Komunitas
Seruan agar siswa menjadi teladan disiplin pelajar tidak akan efektif tanpa sinergi tiga pilar utama: sekolah, keluarga, komunitas. Sekolah merancang sistem, keluarga memperkuat kebiasaan, komunitas memberi ruang praktik. PKS se-Kalteng adalah contoh wadah komunitas yang bisa menguji karakter siswa di luar kelas. Namun, setelah acara usai, rumah harus mendukung pola hidup teratur. Lingkungan sekitar pun sebaiknya memberi kesempatan bagi siswa teladan untuk berperan, misalnya ikut mengatur lalu lintas di depan sekolah atau terlibat kegiatan sosial. Ketika setiap ruang hidup menguatkan pesan yang sama, disiplin tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi menjadi identitas diri. Pada akhirnya, refleksi penting bagi kita semua: apakah kita sudah menyediakan ekosistem yang adil bagi pelajar untuk tumbuh tertib, berani, serta bertanggung jawab? Atau justru masih sekadar menuntut tanpa memberi contoh dan dukungan nyata?
