Hikmah Diam: Pelajaran Halus dari Imam Syafi’i
www.rmolsumsel.com – Setiap zaman melahirkan perdebatan baru, namun hikmah klasik sering kali tetap relevan. Salah satu kisah masyhur berkaitan dengan Imam Syafi’i yang memilih diam ketika berhadapan dengan orang bodoh. Diam bukan tanda kalah, justru menjelma jawaban halus penuh hikmah. Di tengah budaya adu argumen, sikap ini terasa asing sekaligus menantang cara kita memaknai kehormatan, harga diri, serta kecerdasan.
Kisah pendek tersebut menyimpan hikmah berlapis tentang seni berbicara dan seni menahan diri. Imam Syafi’i dikenal cemerlang dalam logika, namun ia juga paham kapan kepandaian sebaiknya tidak dipamerkan. Dari sinilah muncul pelajaran penting: tidak setiap serangan layak dibalas, tidak setiap hinaan patut direspons. Terkadang, hikmah tertinggi justru hadir melalui kesunyian yang terjaga.
Imam Syafi’i hidup pada masa diskusi ilmiah sangat bergairah. Perdebatan fiqih, ushul, bahkan bahasa, berlangsung nyaris tanpa henti. Namun, di antara banyak dialog ilmiah berkualitas, selalu saja muncul sosok keras kepala, enggan menerima penjelasan. Sosok seperti ini sering disebut bodoh, bukan karena kurang pengetahuan saja, tapi sebab hati tertutup. Membantah tanpa mau mendengar, berbicara tanpa kesiapan untuk belajar.
Kepada tipe orang seperti itu, Imam Syafi’i justru memilih diam. Inilah hikmah penting: bukan setiap forum patut dijadikan gelanggang argumen. Ketika lawan bicara hanya ingin menang, bukan memahami, debat berubah menjadi arena ego. Jawaban paling bijak terkadang bukan susunan kalimat canggih, melainkan kesediaan menghentikan percakapan. Diam melindungi akal dari kelelahan sia-sia serta hati dari kebencian yang tidak perlu.
Sikap tersebut bukan bentuk takut. Imam Syafi’i dikenal berani menyampaikan kebenaran. Namun ia membedakan antara perdebatan ilmiah dengan perbantahan kosong. Hikmah justru lahir saat seseorang sanggup memilah ruang bermanfaat dan ruang berbahaya. Menghindari perdebatan tidak sehat bukan kelemahan, melainkan kecerdasan emosional. Kita diajak melihat ulang kebiasaan merespons setiap komentar tajam, terutama di dunia maya, tempat ego mudah sekali terpancing.
Sering kali, kata hikmah dipahami sebatas nasihat indah. Padahal makna hikmah lebih dalam: kemampuan menempatkan sesuatu secara tepat. Termasuk menempatkan kata di posisi seharusnya. Imam Syafi’i memberi contoh bahwa kata tidak boleh keluar sembarangan. Setiap ucapan menjadi tanggung jawab. Jika jawaban justru menambah kekacauan, maka diam jauh lebih aman. Dari sini, hikmah tampil sebagai penjaga mulut dan hati sekaligus.
Kita hidup pada masa kecepatan komentar sering lebih dihargai dibanding kualitas isi. Platform digital memberi ruang luas untuk berbicara, namun jarang mengingatkan pentingnya diam. Akibatnya, perdebatan kecil berubah menjadi permusuhan besar. Hikmah Imam Syafi’i mengajak kita menekan hasrat menjawab setiap serangan. Sebelum menulis balasan, tanya pada diri sendiri: “Apakah respon ini membawa manfaat, atau hanya memuaskan ego?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat mencegah banyak konflik. Di sinilah pandangan pribadi saya: hikmah bukan sekadar warisan ulama, melainkan keahlian hidup modern. Orang cerdas kini bukan cuma piawai berargumen, tapi juga terampil memilih momen ketika tidak berkata apa pun. Mengelola kata berarti mengelola energi batin. Diam yang sadar, seperti dicontohkan Imam Syafi’i, menjadi bentuk pengendalian diri paling halus.
Bagi banyak orang, hinaan terasa seperti serangan langsung terhadap harga diri. Reaksi spontan biasanya muncul: membalas, menyerang balik, atau setidaknya membuktikan bahwa tuduhan tersebut salah. Namun hikmah Imam Syafi’i justru membalik cara pandang itu. Harga diri tidak runtuh karena ucapan orang hina. Martabat justru jatuh ketika kita turun ke level yang sama, ikut saling melempar kata kasar. Kesunyian yang terjaga menjadi pagar kehormatan. Diam seperti itu bukan kepengecutan, melainkan pernyataan tegas bahwa diri kita terlalu berharga untuk diikat oleh kata-kata rendah. Pada akhirnya, kisah singkat ini menggugah kita untuk mengevaluasi cara merespons dunia: adakah saat tertentu ketika diam memberi pencerahan lebih besar daripada seribu kalimat? Hikmah sejati mungkin hadir ketika kita berani berkata pada diri sendiri, “Untuk hinaan seperti itu, diamku sudah cukup sebagai jawaban.”
www.rmolsumsel.com – Manuver politik menuju pilpres 2029 mulai terasa jauh sebelum masa kampanye resmi dibuka.…
www.rmolsumsel.com – Perdebatan soal masa depan perdagangan bebas kembali memanas, seiring pernyataan tegas China yang…
www.rmolsumsel.com – Arus berita nasional hari ini kembali padat oleh konten bertema kebijakan dan identitas.…
www.rmolsumsel.com – Gerai koperasi kembali naik daun seiring target ambisius pembangunan 500 unit baru. Bukan…
www.rmolsumsel.com – Ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali menempatkan dunia pada posisi cemas.…
www.rmolsumsel.com – Perjalanan rohani sekaligus strategis terlihat saat rombongan pemkab mura bergerak menuju kawasan Ibu…