www.rmolsumsel.com – Bayangkan sebuah jet tempur siluman seharga ratusan juta dolar diklasifikasikan layaknya iPhone: canggih, tertutup, tetapi tetap mungkin diretas. Itulah gambaran berani dari seorang pejabat Belanda ketika membahas F-35, pesawat tempur generasi kelima yang menjadi tulang punggung kekuatan udara banyak negara eropa. Pernyataan tersebut memicu diskusi tajam tentang keamanan siber militer, kedaulatan teknologi, serta ketergantungan benua biru pada ekosistem digital buatan Amerika Serikat.
Bagi eropa, F-35 bukan sekadar pesawat. Platform ini adalah simpul strategis yang menghubungkan radar, satelit, pusat komando, hingga data intelijen lintas negara. Saat seorang pejabat berani mengatakan F-35 bisa diretas seperti ponsel, publik diajak menatap kenyataan pahit: tidak ada sistem digital yang benar-benar kebal. Justru di titik inilah eropa mesti menguji ulang asumsi tentang pertahanan modern, kemandirian teknologi, serta risiko geopolitik yang menyertai setiap baris kode.
F-35 sebagai “iPhone Terbang” di Langit Eropa
F-35 sering dijuluki “iPhone terbang” karena tingkat digitalisasi luar biasa. Hampir seluruh fungsi vital dikendalikan perangkat lunak: navigasi, sensor, komunikasi, pengelolaan senjata, bahkan perawatan pesawat. Konsep ini memberi keunggulan besar bagi negara eropa yang mengoperasikannya. Pembaruan sistem dapat dilakukan melalui pembaruan software, mirip ponsel pintar. Namun, pendekatan ini sekaligus membuka pintu ancaman siber baru. Semakin banyak kode, semakin banyak pula celah potensial.
Perbandingan dengan iPhone menyentuh isu lain yang sangat sensitif di eropa: kontrol atas data. F-35 bergantung pada jaringan logistik dan sistem pendukung global yang dikendalikan Amerika Serikat. Tiap jam terbang, setiap data sensor, mengalir ke infrastruktur yang tidak sepenuhnya berada di tangan negara pengoperasi. Bagi banyak pengamat, kondisi ini mengaburkan batas antara kerja sama pertahanan dan ketergantungan struktural. Benua eropa, yang selama ini gencar bicara tentang kedaulatan digital, justru memakai senjata utama berbasis platform tertutup.
Ketika pejabat Belanda menyebut F-35 bisa diretas seperti iPhone, pesan tersiratnya cukup tajam. Jika sebuah ancaman mampu menembus lapisan keamanan tingkat militer, konsekuensinya tidak berhenti pada satu pesawat. Jaringan sekutu, basis data misi, pola latihan, hingga konfigurasi pertahanan udara bisa terekspos. Eropa pun dihadapkan pada pertanyaan fundamental: apakah masuk akal menumpuk begitu banyak kapabilitas pada satu platform tunggal, lalu menggantungkan nasib keamanan regional pada integritas software yang sebagian besar dikendalikan pihak luar?
Kedaulatan Teknologi dan Dilema Ketergantungan
Eropa telah lama menggembar-gemborkan gagasan kedaulatan strategis, terutama setelah berbagai krisis geopolitik. Namun realitas di ranah pertahanan udara menunjukkan gambaran kompleks. Banyak negara eropa memilih F-35 karena keunggulan teknologi, integrasi NATO, serta tekanan politik halus. Pilihan ini secara praktis menunda ambisi membangun solusi murni eropa. Ketika sistem inti pesawat, termasuk enkripsi komunikasi dan pengelolaan data, dirancang pihak luar, ruang gerak negara pengguna jadi terbatas.
Sebagai penulis, saya melihat ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan persoalan identitas strategis eropa. Benua ini ingin mandiri, tetapi juga ingin tetap berada di jantung aliansi transatlantik. Kontrak F-35 mencerminkan kompromi tersebut: Eropa mendapatkan teknologi tempur tercanggih, sebagai imbalan atas penerimaan terhadap model ekosistem tertutup. Di sini analogi iPhone kembali terasa relevan. Pengguna menikmati kenyamanan dan performa tinggi, namun jarang benar-benar menguasai perangkat sampai ke lapisan terdalam.
Dari sudut pandang keamanan siber, ketergantungan seperti itu berbahaya ketika krisis memuncak. Bagaimana jika akses pembaruan dibatasi pada situasi politik tertentu? Bagaimana jika celah keamanan ditemukan namun perbaikannya bergantung jadwal pihak pengembang utama? Eropa perlu memikirkan skenario ekstrem tersebut. Tidak untuk menolak kerja sama, melainkan untuk memastikan bahwa kemitraan tidak berubah menjadi kerentanan unilateral. Kedaulatan teknologi bukan berarti menutup diri, tetapi menjamin ruang pilihan ketika situasi memburuk.
Mengapa Risiko Peretasan Tidak Bisa Diabaikan
Serangan siber terhadap sistem militer bukan lagi fiksi. Banyak insiden menunjukkan bahwa jaringan pertahanan pun bisa ditembus, baik melalui serangan langsung, pemasok, maupun kesalahan manusia. F-35, dengan arsitektur jaringan rumit, terhubung ke berbagai sistem pendukung yang tersebar luas di eropa dan Amerika. Setiap simpul tambahan menghadirkan potensi celah baru. Menurut pandangan saya, pernyataan pejabat Belanda seharusnya dibaca sebagai undangan untuk jujur melihat risiko, bukan sebagai panik kolektif. Transparansi risiko dapat mendorong eropa merancang standar keamanan siber yang lebih ketat, menuntut visibilitas lebih besar terhadap rantai pasok perangkat lunak, serta berinvestasi pada kemampuan audit independen. Jika F-35 adalah “iPhone terbang”, maka benua ini perlu memiliki kompetensi setara “peretas baik” yang cukup canggih untuk menguji, menantang, dan mengamankan ekosistem tempurnya sendiri.
Lapisan Risiko Siber di Balik Siluman Teknologi
Konsep siluman pada F-35 biasanya dipahami sebagai kemampuan menghindari radar. Namun di era eropa serba digital, kesenyapan elektronik saja tidak cukup. Siluman ideal semestinya mencakup jejak data, protokol komunikasi, hingga cara sistem merespons gangguan siber. Serangan tidak harus menghancurkan pesawat fisik. Cukup mengganggu integritas sensor, memanipulasi tampilan kokpit, atau menunda pembaruan kritis. Dampaknya mungkin lebih berbahaya daripada rudal musuh, sebab pilot dan komando dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang sudah teracuni.
Risiko lain berkaitan aspek logistik. F-35 bergantung pada sistem manajemen perawatan digital yang memantau kondisi komponen secara real time. Data itu berharga, sebab dapat mengungkap pola operasi angkatan udara eropa. Jika akses tidak terlindungi sempurna, informasi jadwal latihan, tingkat kesiapan skuadron, atau kelemahan teknis bisa dimanfaatkan lawan. Dalam konteks permainan geopolitik, pengetahuan seperti itu setara emas. Serangan “diam-diam mengintip” jauh lebih realistis daripada skenario pesawat langsung diambil alih.
Saya memandang perlindungan terhadap sistem dukungan data justru harus menjadi prioritas utama. Terlalu fokus pada kokpit bisa membuat pembuat kebijakan lupa bahwa titik masuk sering berada di pinggiran. Komputer kantor, perangkat teknisi, koneksi jarak jauh, hingga penyedia layanan pihak ketiga di eropa. Semua ini rantai panjang dengan kekuatan setara titik terlemahnya. Ketika pejabat menyamakan F-35 dengan iPhone, yang sebenarnya tersirat adalah peringatan: ekosistem luas di sekeliling pesawat sama pentingnya dengan pesawat itu sendiri.
Respons Eropa: Antara Regulasi, Inovasi, dan Realitas
Eropa terkenal sebagai kawasan dengan regulasi data paling ketat. GDPR menjadi simbol komitmen melindungi privasi individu. Namun dunia militer memerlukan pendekatan berbeda. Kepentingan bersama NATO, kontrak rahasia, serta tekanan keamanan membuat transparansi penuh sulit dilakukan. Pertanyaannya, sanggupkah eropa menerapkan semangat kedaulatan data ke lingkup pertahanan modern? Tanpa mekanisme audit independen atas kode dan arsitektur F-35, istilah kedaulatan cenderung berubah menjadi slogan politis saja.
Langkah yang menurut saya realistis ialah memperkuat kemampuan teknis di tingkat nasional dan regional. Negara eropa dapat membangun tim siber yang tidak hanya defensif, tetapi juga memiliki peran pengujian sistem sekutu secara sistematis. Program bug bounty untuk infrastruktur militer mungkin terdengar ekstrem, namun versi tertutup di lingkungan sangat terkontrol bisa menjadi terobosan. Tujuannya bukan mencari kesalahan pemasok, melainkan meyakinkan bahwa jaringan pertahanan diuji oleh para ahli terbaik sebelum diuji lawan dalam konflik nyata.
Di sisi lain, eropa perlu menyiapkan jalan keluar jangka panjang melalui proyek pesawat tempur generasi berikutnya, seperti FCAS maupun Tempest. Program itu seharusnya tidak hanya berlomba soal kecepatan dan daya hancur, tetapi juga arsitektur siber yang dirancang sejak awal untuk diaudit, diintegrasikan, namun tetap memberi ruang kendali nasional. Jika F-35 menjadi pelajaran mahal, maka generasi berikutnya mesti mencerminkan keberanian eropa merumuskan ulang standar keamanan digital militer sesuai kepentingan sendiri.
Kesimpulan: Belajar Jujur dari Bayangan Layar Sentuh
Pernyataan pejabat Belanda bahwa F-35 bisa diretas layaknya iPhone mungkin terdengar provokatif, tetapi sesungguhnya membuka pintu diskusi krusial bagi eropa. Di balik badan pesawat siluman terdapat jaringan kode, server, dan protokol yang rapuh setara sistem digital sipil, hanya dengan konsekuensi jauh lebih besar saat gagal. Bagi saya, tantangan terbesar bukan sekadar menambal celah teknis, melainkan jujur mengakui tingkat ketergantungan benua ini pada arsitektur yang tidak sepenuhnya dikuasai sendiri. Refleksi jangka panjang mestinya mendorong eropa bergerak dari posisi “pengguna canggih” menuju “pemilik ekosistem”, terutama di bidang pertahanan. Keamanan sejati tidak lahir dari klaim kekebalan, melainkan dari kesiapan terus-menerus mempertanyakan, menguji, dan memperbaiki dasar digital yang menopang strategi militer modern.
