Sumsel Andalkan Sektor Primer, Industri Pendorong Lain Mengalami Penurunan

Ekonomi  JUM'AT, 13 DESEMBER 2019 , 11:45:00 WIB | LAPORAN: RADEN MOHD. SOLEHIN

Sumsel Andalkan Sektor Primer, Industri Pendorong Lain Mengalami Penurunan

rmolsumsel

RMOLSumsel. Saat ini perekonomian Sumatera Selatan masih bergantung pada sektor primer, di mana masih mengekspor kelapa sawit, karet dan batu bara yang belum memiliki nilai tambah.

Padahal, ungkap Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Bernadette Robiani, kondisi permintaan pasar yang melemah dan ketidakstabilan harga komoditas andalan itu belum mampu mendorong secara penuh proses hilirasasi dalam mendorong perekonomian provinsi ini.

"Untuk di Sumsel sendiri, jika kita ingin mengaitkannya dengan ada banyak komoditas yang bisa kita olah, itu sangat dimungkinkan," ungkapnya dalam pemaparan Business Challenges 2020 dengan tema menakar prospek komoditas andalan Sumsel yang diselenggarakan Bisnis Indonesia dan Bank Indonesia.

Bernadette mengungkapkan, empat industri, yakni makanan, kertas, kimia dan industri plastik pertumbuhannya mengalami penurunan. Seperti industri makanan pada triwulan pertama 3,4 menjadi minus 10,75 pada triwulan II dan minus 21,48.

Hal yang sama juga terjadi pada industri kertas juga mengalami minus 5,35 pada triwulan ke III, industri karet minus 14,28 dan hanya industri kimia yang positif diangka 7,45. Padahal, sampainya, ini adalah industri-industri yang seyogyanya menjadi prospek ekonomi di Sumsel.

"Kalau kita bicara industri pengolahan, industri-industri ini dapat menjadi nilai tambah dan bisa menciptakan multi player yang lebih tinggi daripada harga sektor pertanian," jelasnya.

Ia melihat ssaat ini perekonomian Sumatera Selatan masih bergantung pada sektor primer, di mana masih mengekspor kelapa sawit, karet dan batu bara yang belum memiliki nilai tambah.

"Oleh karena itu, kita harus melihat kondisi permintaan pasar yang melemah dan ketidakstabilan harga komoditas andalan itu sebagai peluang untuk mempercepat hilirisasi,” katanya.

Dia mengatakan batu bara yang masuk dalam sektor pertambangan dan penggalian berkontribusi tinggi terhadap ekonomi Sumsel. Begitu pula karet dan kelapa sawit yang masuk dalam sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.

Menurut dia, peluang untuk hilirisasi akan terbuka lebar dengan adanya rencana dimulainya kembali aktivitas pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api Api (KEK TAA).

"KEK TAA akan menciptakan nilai tambah dan multiplier effect bagi perekonomian Sumatra Selatan," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Yunita Resmi Sari mengatakan, pengembangan KEK TAA yang kembali akan dicanangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel, harus segera direalisasikan.

Pasalnya, pengembangan KEK TAA yang dilengkapi pelabuhan laut dalam akan mendukung hilirisasi industri komoditas andalan Sumsel.

"Meskipun kinerja ekspor dari komoditas andalan diprediksi terbatas akibat kondisi global, namun ekonomi Sumsel diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5,7% -6,1%. Dimana hal itu dikarenakan pertumbuhan ini didorong oleh investasi yang mulai tumbuh dan konsumsi rumah tangga yang stabil," terangnya. [sri]





Komentar Pembaca
Dr (HC) Hatta Rajasa

Dr (HC) Hatta Rajasa

SENIN, 25 NOVEMBER 2019 , 13:44:00

Korban Ledakan Monas

Korban Ledakan Monas

SELASA, 03 DESEMBER 2019 , 09:33:00

Airlangga Daftar Caketum Golkar

Airlangga Daftar Caketum Golkar

SENIN, 02 DESEMBER 2019 , 18:15:00