obi Beberkan Aliran Suap ke Pemkab Muara Enim

Laporan: Haris Suprapto

Kriminal  SELASA, 10 DESEMBER 2019 , 20:00:00 WIB

obi Beberkan Aliran Suap ke Pemkab Muara Enim
RMOLSumsel.Kasus dugaan suap 16 paket proyek di Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim dengan terdakwa Robi Okta Fahlevi kembali digelar di Pengadilan Tipikor Palembang, Selasa (10/12).

Sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan terdakwa ini, Robi selaku pelaksana proyek membeberkan aliran dana suap kepada sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Muara Enim.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Bongbongan Silaban, Direktur sekaligus pemilik PT Indo Paser Beton ini menjelaskan dan memastikan peran para saksi yang sebelumnya juga sudah dihadirkan di persidangan.

"Sebagian besar masalah uang pemberian Fee proyek itu selalu saya serahkan kepada Elfin  Muchtar (Kabid Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Muara Enim), selebihnya saya hanya kontak membicarakan uang kepada beberapa pihak," ujar Robi.

Robi menjelaskan dirinya paling banyak berkomunikasi bersama Bupati non aktif Muara Enim Ahmad Yani untuk setiap pembicaraan mengenai uang. Selanjutnya ia diarahkan kepada Elfin mengenai pencairan uang. Total uang Rp12,5 miliar diserahkan selama proses pemenangan tender jalan tersebut.

"Kebanyakan uang itu saya berikan di Palembang. Tidak pernah diserahkan langsung ke Pak omar (nama lain dari Ahmad Yani) pasti melalui Elfin," jelas dia.

Elfin yang merupakan orang kepercayaan Ahmad Yani, pernah mengeluh kepada terdakwa Robi mengenai permintaan uang yang terus-terusan diminta oleh jajaran kepala daerah seperti, Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD.

Elfin selalu mengatakan siapa saja orang-orang yang meminta uang tersebut kepada Robi. Robi mengaku dirinya terpaksa memenuhi semua permintaan lantaran membutuhkan proyek tersebut.

"Pernah disampaikan Elfin kepada saya, selain Bupati duit itu juga disiapkan untuk pak wakil, Juarsyah tapi, nominalnya tidak disebut. Elfin selalu mengeluh disuruh minta uang kepada saya. Saya penuhi semuanya dari awal hingga pertengahan tahun dengan catatan dijanjikan proyek," paparnya.

Sedangkan mengenai fee mobil yang diberikannya kepada Bupati Muara Enim merupakan permintaan khusus sang kepala daerah. Sebelum mendapat proyek secara keseluruhan dirinya sudah menyerahkan pick up Tata Xenon HD jenis single cabin warna putih yang dibeli seharga Rp170 juta di Lampung.

"Pak bupati bilang, Rob kita ada pengadaan mobil Lexus tapi gagal. Sedangkan saya butuh mobil operasional. Di Muara Enim juga banyak tamu, tolong carikan mobil Lexus itu. Lalu saya diperlihatkan iklan di Olx. Lalu saya lihat, saya bilang pak mobilnya bagus. Kami komunikasi lewat Telegram," jelas Robi.

Setelah percakapan itu Yani memberikan isyarat kepada dirinya untuk membeli mobil seharga Rp1,250 miliar itu menggunakan uang pribadi sang kontraktor. Robi lalu berangkat ke Jakarta untuk membeli mobil keinginan sang Bupati.

Setelah itu dirinya pun menghubungi ajudan beserta Elfin mengabarkan, bahwa mobil itu sudah dibeli. "Tidak ada pinjam meminjam, itu permintaan langsung pak Bupati. Setelah saya berikan ke Elfin kuncinya, sudah saya tidak tahu lagi dengan mobil itu," imbuhnya.

Sedangkan, untuk komunikasi dengan Ketua DPRD Muara Enim, Robi mengakui dirinya beberapa kali dihubungi langsung oleh Aries HB. Saat itu Aries meminta bagian  Rp2 miliar dan mengklaim sudah disetujui Bupati. Robi pun diminta untuk mengkonfirmasi ulang soal fee tersebut.

"Saya kenal Aries sebagai Ketua DPRD, dirinya ada meminta uang kepada saya. Lalu saya sampaikan ke  Elfin bahwa ketua DPRD minta bagian. Saat itu mungkin setelah komunikasi, Elfin mengatakan, kasihkan saja," lanjutnya.

Robi memaparkan, dirinya kerap dikejar Aries mengenai uang jatah sebagai Ketua DPRD. Terakhir keduanya bertemu di rumah makan pindang di simpang Bandara Palembang membicarakan permasalahan uang tersebut.

Namun karena saat itu sedang tidak memiliki uang tunai, Robi menunda pemberian. "Saya ke rumah Aries HB di daerah Sekojo. Lalu saya bersama orang saya datang dan sopir, lalu pak Aries bersama sopirnya menerima uang dibungkus plastik Rp2 miliar," jelas dia.

Beberapa bulan setelah pemberian itu, Aries kembali menghubungi Robi meminta Rp50 juta untuk pergi ke China. Menurut Robi dirinya tidak memberikan uang tersebut sesuai permintaan Ketua DPRD karena lupa.

"Akhirnya saya serahkan 15.000 Yuan atau sekitar Rp21 juta. Uang itu saya kasihkan saat bertemu di Hotel Borobudur. Seingat saya Juli juga meminta uang lagi Rp1 miliar," ucapnya.

Sedangkan pada sidang sebelumnya, Aries HB, Juarsyah dan Ahmad Yani banyak membantah kesaksian mengenai penerimaan fee. Bahkan Aries dan Juarsyah sepakat mengaku tidak mengenal Robi, keduanya hanya mengaku tahu bila Robi adalah kontraktor di Muara Enim.

Fakta persidangan pekan lalu juga membuka kasus pemberian fee sudah sering terjadi dilingkungan pemkab Muara Enim. Hanya saja beberapa kontraktor menolak untuk dimintai fee di awal sebesar 15 persen.

Fee itu diketahui jarang dilakukan di awal melainkan di akhir pengerjaan. Hanya saja, Ahmad Yani sengaja mencari kontraktor yang berani memberikan fee di awal, hingga terpilihlah Robi sebagai satu-satunya orang yang dikhususkan untuk memenangkan tender di Muara Enim.[ida]

Komentar Pembaca
Dr (HC) Hatta Rajasa

Dr (HC) Hatta Rajasa

SENIN, 25 NOVEMBER 2019 , 13:44:00

Korban Ledakan Monas

Korban Ledakan Monas

SELASA, 03 DESEMBER 2019 , 09:33:00

Airlangga Daftar Caketum Golkar

Airlangga Daftar Caketum Golkar

SENIN, 02 DESEMBER 2019 , 18:15:00