MENUJU PERADABAN

Parabel Tiga Cincin

Oleh: Jaya Suprana

OPINI  SELASA, 08 OKTOBER 2019 , 11:47:00 WIB

Parabel Tiga Cincin
MAHASASTRAWAN Jerman keturunan Yahudi, Gotthold Ephraim Lessing melalui mahakarya drama Nathan der Weise mempersembahkan citra positif bagi Jenderal Besar Islam, Saladin.

Kerangka peristiwa Nathan der Weise adalah masa genjatan senjata Perang Salib ke tiga (1189-1192) di Jerusalem.

Nathan

Ketika sang pedagang Nathan kembali dari perjalanan dagang ke rumah, menemui puteri angkatnya Recha yang diselamatkan seorang kesatria Nasrani dari bencana kebakaran di Jerusalem.

Sang kesatria Nasrani dibebaskan sebagai satu-satunya di antara ratusan tawanan perang oleh Saladin karena wajahnya mirip saudara sang jenderal besar Islam, Assad yang telah gugur di medan perang.

Nathan yang terbiasa berpikir rasional materialistik tidak percaya bahwa keselamatan Recha merupakan suatu mujizat.

Saladin

Kebetulan Sultan Saladin sedang membutuhkan dana operasional untuk laskarnya demi menjaga keamanan Jerusalem. Maka sang sultan memanggil Nathan yang tersohor kaya raya dan murah hati ke markas besar Tentara Islam di Jerusalem.

Alih-alih minta pinjaman uang, Sultan Saladin bertanya agama apa yang menurut Nathan adalah agama terbaik.

Nathan menyadari bahwa dirinya sedang dijebak dengan sebuah pertanyaan yang sangat berbahaya maka menjawab pertanyaan dengan sebuah kisah parabel tiga cincin.

Saladin merasa terkesan sebab menyadari bahwa parabel tiga cincin mengungkapkan kesetaraan tanpa ada yang lebih atau kurang pada tiga agama besar monotheis: Judaisme, Nasrani, Islam.

Terkesan oleh kebijakan Nathan, Saladin menyatakan ingin bersahabat dengan pedagang Yahudi yang bijak itu.

Nathan menyambut baik uluran tangan Saladin bahkan tanpa diminta langsung bermurah hati memberikan kredit dana tanpa bunga kepada sang Sultan merangkap Jenderal Besar Islam.

Parabel Tiga Cincin

Pada hakikatnya parabel tiga cincin merupakan ungkapan gagasan toleransi antar umat beragama yang sedang sangat didambakan di Eropa pada masa Lessing menulis Nathan der Weise.

Parabel yang sama ditemui pada Decamerone mahakarya Giovanni Bocaccio. Di dalam Decamerone, Bocaccacio berkisah tentang seorang ayah yang mewariskan tiga cincin   kepada tiga putranya.

Ketiga cincin dibuat sedemikian persis sama satu dengan lain-lainnya sehingga mustahil dapat diketahui yang mana yang asli dan yang mana yang palsu.

Parabel tiga cincin tersebut pada hakikatnya mengungkap kesetaraan tiga agama besar Timur Tengah yaitu Judaisme, Nasrani dan Islam.

Sukma makna parabel tiga cincin tentang kesetaraan agama yang bersatu pada sila Ketuhanan Yang Maha Esa pada hakikatnya mirip wejangan "agamamu agamamu, agamaku agamaku" yang diwariskan oleh Almarhum Gus Dur kepada saya.[rmol]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.


Komentar Pembaca
Homo Ludens Kata Ulang

Homo Ludens Kata Ulang

JUM'AT, 18 OKTOBER 2019

Jangan Gebyah Uyah

Jangan Gebyah Uyah

JUM'AT, 11 OKTOBER 2019

Penolakan Ceramah UAS, Menyalahi Jati Diri Kampus
Pelantikan Kardinal Suharyo di Vatikan
Buruk Muka, Cermin Dibelah

Buruk Muka, Cermin Dibelah

JUM'AT, 04 OKTOBER 2019

Gerakan Merongrong Demokrasi

Gerakan Merongrong Demokrasi

JUM'AT, 20 SEPTEMBER 2019

Prabowo Tawarkan Pertumbuhan Ekonomi Double Digit

Prabowo Tawarkan Pertumbuhan Ekonomi Double Digit

KAMIS, 17 OKTOBER 2019 , 22:28:40

Prabowo Cocok Jadi Wantimpres

Prabowo Cocok Jadi Wantimpres

KAMIS, 17 OKTOBER 2019 , 14:25:41

Densus 88 Amankan Terduga Teroris di Gunungpati Semarang
Minta Hujan, Ribuan Jamaah Sholat Istisqo

Minta Hujan, Ribuan Jamaah Sholat Istisqo

SELASA, 27 AGUSTUS 2019 , 09:15:00

Asap Membumbung Tinggi Radius 2 KM

Asap Membumbung Tinggi Radius 2 KM

JUM'AT, 20 SEPTEMBER 2019 , 15:20:00

Tinjau Manokwari

Tinjau Manokwari

JUM'AT, 23 AGUSTUS 2019 , 07:12:00