Baguskah Makan Terlalu Cepat Bagi Tubuh

Lifestyle  KAMIS, 19 SEPTEMBER 2019 , 09:36:00 WIB

Baguskah Makan Terlalu Cepat Bagi Tubuh

ILUSTRASI

RMOLSumsel. Cara makan Anda ternyata berdampak pada tubuh, termasuk ketika Anda sering makan terlalu cepat. Pernahkah mengamati ada teman Anda yang bertubuh kurus yang biasanya paling terakhir selesai makan, atau baru habis dalam waktu paling lama? Ternyata, hal tersebut saling berkaitan dan berdampak pada berat badan seseorang.

Kaitan durasi makan dan kesehatan

Sebagian besar orang mengonsumsi makanan terlalu cepat, sehingga tidak menyadari betapa banyak kalori yang dikonsumsi. Padahal, setidaknya dibutuhkan 20 menit dari waktu Anda mulai makan sampai otak mulai mengirimkan sinyal kenyang.

Menikmati makan lebih lama akan memberi cukup waktu agar sinyal tersebut disampaikan ke otak, sehingga apa yang Anda makan akan berkurang.

Sindrom metabolik sendiri merupakan salah satu penyebab penyakit jantung. Beberapa studi telah melaporkan bahwa terdapat hubungan antara kecepatan makan dengan kejadian peningkatan berat badan.

Faktanya, kecepatan Anda makan memengaruhi kemungkinan terjadinya sindrom metabolik di kemudian hari. Penelitian ini diikuti oleh 1083 sukarelawan yang diteliti, pada 2008 dan 2013.

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya terdapat 3 kategori kecepatan konsumsi makanan, yakni lambat, normal, dan cepat. Informasi mengenai faktor gaya hidup seperti diet, aktivitas fisik, serta riwayat kesehatan didapatkan melalui kuesioner yang dapat diisi oleh para sukarelawan.

Berat badan diartikan meningkat jika bertambah sebanyak lebih dari 10 kg, dihitung dari usia 20 tahun. Setelah diikuti selama 5 tahun, 84 orang didiagnosis dengan sindrom metabolik.

Rasio kejadian sindrom metabolik dari sukarelawan dengan kecepatan makan dari lambat, normal dan cepat adalah 2,3 persen, 6,5 persen, dan 11,6 persen secara berturut-turut.

Artinya, semakin cepat Anda makan, semakin besar risiko terkena sindrom metabolik. Selain itu, terdapat hubungan antara kecepatan makan dengan peningkatan berat badan, trigliserida, serta kolesterol HDL-C.

Kecepatan makan berhubungan dengan obesitas dan kejadian sindrom metabolik di kemudian hari. Dalam studi ini, makan secara perlahan diindikasikan sebagai gaya hidup yang penting untuk mencegah sindrom metabolik pada orang Jepang. [irm]

Komentar Pembaca
Densus 88 Amankan Terduga Teroris di Gunungpati Semarang
Walikota Medan Terjaring OTT KPK

Walikota Medan Terjaring OTT KPK

RABU, 16 OKTOBER 2019 , 11:36:34

Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang

Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang

SELASA, 15 OKTOBER 2019 , 23:48:21

Minta Hujan, Ribuan Jamaah Sholat Istisqo

Minta Hujan, Ribuan Jamaah Sholat Istisqo

SELASA, 27 AGUSTUS 2019 , 09:15:00

Asap Membumbung Tinggi Radius 2 KM

Asap Membumbung Tinggi Radius 2 KM

JUM'AT, 20 SEPTEMBER 2019 , 15:20:00

Tinjau Manokwari

Tinjau Manokwari

JUM'AT, 23 AGUSTUS 2019 , 07:12:00