MENUJU PERADABAN

Amanat Penderitaan Rakyat

Oleh: Jaya Suprana

OPINI  SABTU, 14 SEPTEMBER 2019 , 08:10:00 WIB

Amanat Penderitaan Rakyat
TIDAK pernah henti saya mengagumi keberanian Siddharta Gautama meninggalkan gemerlap keduniawian bahkan tahta kerajaan setelah menyaksikan tiga amanat penderitaan manusia.

Ramalan

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sala.

Oleh para peramal dinubuatkan sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia).

Namun peramal Kondañña meramalkan bahwa Siddharta kelak akan menjadi pertapa.

Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda Raja Suddhodana menjadi cemas, karena apabila sang putra mahkota menjadi pertapa, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya.

Kondanna menjelaskan agar Pangeran tidak menjadi pertapa maka  jangan sampai melihat tiga amanat penderitaan manusia yaitu sakit, tua dan mati.

Kenikmatan Duniawi

Maka Suddhodana menugaskan banyak pelayan untuk memanjakan Pangeran Siddharta, agar sang putra mahkota dapat menikmati hidup keduniawian.

Segala bentuk penderitaan manusia disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta diam-diam berjalan ke luar istana, di mana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya orang sakit, orang tua, orang mati.

Pangeran Siddhartha prihatin dan menanyakan kepada dirinya sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, menjadi tua dan kemudian mati?"

Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir.

Akhirnya pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya ditemani oleh kusirnya, Channa.

Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Aneka Ragam

Siddharta melihat tiga APM (Amanat Penderitaan Manusia) yaitu sakit, tua dan mati, padahal sebenarnya masih lebih banyak lagi ragam penderitaan di planet bumi ini.

Misalnya derita tidak mampu membayar biaya iuran asuransi kesehatan yang makin mahal, derita tidak bisa sekolah akibat tidak mampu bayar uang gedung, uang wisata sampai uang seragam, atau derita menjadi tua tanpa ada yang sudi merawat padahal memiliki sanak-keluarga bahkan anak-anak kandung.

Mati bisa ditunda saatnya oleh teknologi kedokteran yang makin canggih sambil makin mahal yang berarti memperpanjang masa penderitaan.

Masih begitu banyak manusia termasuk anak-anak menderita akibat dianiaya dan/atau diperkosa oleh sesama manusia.

APM juga bisa bersifat politik seperti dilaporkan ke polisi atas berbagai macam dugaan mulai dari pencemaran nama baik sampai makar.

Senantiasa ada yang sedemikian iri dan dengki sehingga tega memfitnah sampai menyelakakan sesama manusia.

Kemelut politik dan ekonomi bisa menyebabkan manusia mengungsi dari suatu negara ke negara lain.

Bahkan rakyat miskin yang sudah cukup menderita lahir-batin akibat kemiskinan masih harus ikhlas digusur atas nama pembangunan sambil alih-alih dibantu atau dihibur malah dicemooh, dihujat, difitnah, distigmasisasi sebagai sampah masyarakat oleh sesama manusia yang kebetulan tidak mengalami nasib digusur.

Ajakan

Memang tidak semua insan manusia (termasuk saya) memiliki keberanian meninggalkan kenikmatan duniawi seperti Siddharta Gautama.

Sebenarnya tidak ada kewajiban bagi siapa pun untuk meniru keberanian Siddharta Gautama.

Namun pada hakikatnya kisah perjalanan Siddharta Gautama mencari makna kehidupan merupakan ajakan bagi seluruh umat manusia (termasuk saya) agar peka makna welas-asih yang terkandung di dalam sila Kemanusiaan Adil dan Beradab serta bela-rasa penderitaan sesama manusia.

Memang tidak semua insan manusia (apalagi saya) dapat membantu sesama manusia membebaskan diri dari berbagai ragam belenggu penderitaan.

Namun kisah Siddharta Gautama dapat didayagunakan sebagai pedoman demi menyadarkan seluruh umat manusia (terutama saya) agar apabila tidak bisa membantu seyogianya jangan mendukung atau malah ikut melakukan perilaku membenci, menghujat, memfitnah, menstigmasisasi, menggusur, menyelakakan, menganiaya, menyengsarakan apalagi membinasakan sesama manusia.[rmol]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Komentar Pembaca
Jangan Gebyah Uyah

Jangan Gebyah Uyah

JUM'AT, 11 OKTOBER 2019

Penolakan Ceramah UAS, Menyalahi Jati Diri Kampus
Parabel Tiga Cincin

Parabel Tiga Cincin

SELASA, 08 OKTOBER 2019

Pelantikan Kardinal Suharyo di Vatikan
Buruk Muka, Cermin Dibelah

Buruk Muka, Cermin Dibelah

JUM'AT, 04 OKTOBER 2019

Gerakan Merongrong Demokrasi

Gerakan Merongrong Demokrasi

JUM'AT, 20 SEPTEMBER 2019

Tari Piring dengan Penari Terbanyak

Tari Piring dengan Penari Terbanyak

MINGGU, 13 OKTOBER 2019 , 20:51:12

Merah Putih Terpanjang di Persawahan

Merah Putih Terpanjang di Persawahan

MINGGU, 13 OKTOBER 2019 , 09:57:31

Video Bukti Upaya Pembunuhan Wiranto Bukan Rekayasa

Video Bukti Upaya Pembunuhan Wiranto Bukan Rekayasa

JUM'AT, 11 OKTOBER 2019 , 16:08:49

Minta Hujan, Ribuan Jamaah Sholat Istisqo

Minta Hujan, Ribuan Jamaah Sholat Istisqo

SELASA, 27 AGUSTUS 2019 , 09:15:00

Asap Membumbung Tinggi Radius 2 KM

Asap Membumbung Tinggi Radius 2 KM

JUM'AT, 20 SEPTEMBER 2019 , 15:20:00

Tinjau Manokwari

Tinjau Manokwari

JUM'AT, 23 AGUSTUS 2019 , 07:12:00