MENUJU PERADABAN

Satu Bahasa, Bahasa Indonesia

Oleh: Jaya Suprana

OPINI  RABU, 10 JULI 2019 , 10:56:00 WIB

Satu Bahasa, Bahasa Indonesia
 PADA forum pertemuan antar bangsa, Presiden Republik Indonesia Soeharto senantiasa berbicara dalam Bahasa Indonesia,  yang dialihbahasakan ke dalam Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya oleh seorang penerjemah kepresidenan.


Para bukan pendukung Pak Harto serta pemuja Bahasa Inggris menafsirkan adegan Pak Harto berbahasa Indonesia di forum internasional  itu sebagai indikasi ketidakmampuan berbahasa Inggris.

Semula saya juga berpendapat seperti itu sampai setelah lebih cermat berupaya mengamati sikap berbahasa para kepala negara lain-lainnya dalam forum pertemuan antar bangsa di planet bumi ini.

Kedaulatan

Ternyata pada lazimnya, para kepala negara yang menggunakan bahasa Inggris pada pertemuan internasional terbatas pada Amerika Serikat dan Inggris beserta para anggota persekemakmuran Britania Raya.

Para kepala negara tidak berbahasa nasional Inggris seperti Rusia, China, Jepang apalagi Prancis (kecuali yang ingin pamer kemampuan berbahasa Inggris) pada forum pertemuan internasional senantiasa menggunakan penerjemah agar masing-masing kepala negara berkesempatan menggunakan bahasa bangsa, negara dan rakyat mereka sendiri sebagai upaya menegakkan kedaulatan bahasa nasional masing-masing.

Prancis punya menteri yang bertanggung-jawab atas kedaulatan Bahasa Prancis.

Di Jakarta saya pernah memperoleh kehormatan makan malam bersama Lech Wallesa. Ternyata sang penerima anugrah Nobel yang kemudian sempat menjadi Presiden Polandia tetap menggunakan bahasa Polandia yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah ke dalam Bahasa Inggris agar saya mengerti apa yang beliau ucapkan.

Ketika saya berjumpa dengan Helmut Schmidt , sang Kanselir Jerman yang menggantikan Willy Brandt itu nyerocos dalam Bahasa Jerman.

Sumpah Pemuda

Andaikata kita melakukan kilas balik sejarah tentang apa yang terjadi pada bulan November 1928 , maka kita tersadar bahwa para pemuda dari segenap penjuru Nusantara berkumpul di Jakarta (pada masa itu masih bernama Batavia) mengikrarkan Soempah Pemoeda yang ditulis dengan ejaan van Ophuysen:

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Andaikata kita adalah warga Bangsa Indonesia yang  bangga atas bahasa nasional kita sendiri maka pada pertemuan antar bangsa , sewajibnya kita  menjunjung tinggi harkat dan martabat jati diri serta bahasa nasional bangsa kita sendiri sesuai keluhuran gelora semangat yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda yaitu Satu Bahasa , Bahasa Indonesia. MERDEKA! [rmol]


Penulis adalah penggagas Gerakan Kebanggaan Nasional.

Komentar Pembaca
Ketika Amerika Tidak Berwibawa Lagi
Kemelut Hong Kong

Kemelut Hong Kong

MINGGU, 21 JULI 2019

Mengenang Mas Wendo

Mengenang Mas Wendo

SABTU, 20 JULI 2019

RIP Mas Arswendo (1948-2019)

RIP Mas Arswendo (1948-2019)

SABTU, 20 JULI 2019

Trump Terpojok, Tapi Game Masih Berlangsung
Humorologi Dalai Lama

Humorologi Dalai Lama

SELASA, 16 JULI 2019

SBY Ziara Kemakam Ani Yudhoyono

SBY Ziara Kemakam Ani Yudhoyono

SENIN, 10 JUNI 2019 , 14:31:00

Usai Ricuh, Pasar Tanah Abang Kembali Ramai

Usai Ricuh, Pasar Tanah Abang Kembali Ramai

MINGGU, 26 MEI 2019 , 14:34:00

JAPFA Bantu Korban Banjir

JAPFA Bantu Korban Banjir

SELASA, 25 JUNI 2019 , 11:30:00