Kian Banyak Penganut Jain Tolak Kenikmatan Dunia

Budaya  SELASA, 09 JULI 2019 , 12:42:00 WIB | LAPORAN: ROSYIDAH ROZALI

Kian Banyak Penganut Jain Tolak Kenikmatan Dunia
RMOLSumsel. Menolak kenikmatan dunia kini menjadi trend di kalangan anak-anak muda, terkhusus para pemeluk Agama Jain. Banyak pengikut muda agama minoritas di India dengan 4,5 juta umat ini memilih jadi biarawan. Mereka selalu berjalan tanpa alas, hanya makan makanan sedekah dan tidak akan pernah mandi atau menggunakan teknologi modern.

"Saya tidak akan pernah bisa memeluk anak perempuan saya lagi," ujar Indravadan Singhi, sambil menahan suaranya yang bergetar seperti diberitakan BBC News Indonesia, Selasa (9/8).

Ia memalingkam wajah, memilih untuk tidak menampakkan perasaan yang sesungguhnya sambil berkata, "Saya tidak akan pernah bisa memandang langsung ke matanya lagi."

Dengan pasrah, ia menyaksikan teman-teman dan keluarganya berlalu lalang, mendekorasi ruang tamunya dengan jumbai emas dan merah muda untuk merayakan penolakan duniawi sang putri dan masuknya ia ke dalam kehidupannya sebagai seorang biarawati.

Pada hari-hari menjelang upacara perayaan, keluarga dan sanak saudara berdatangan dari berbagai kota untuk menghabiskan "hari-hari terakhirnya" melakukan hal-hal yang disukainya - bermain kriket di taman sekitar, mendengarkan musik dan makan di restoran favorit. Ia tak akan pernah bisa melakukan hal-hal itu lagi.

Sebagai seorang biarawati, Dhruvi yang masih berusia 20 tahun tidak akan pernah lagi memanggil dirinya dan sang istri dengan sebutan Ayah dan Ibu.

Ia akan mencabut rambutnya sendiri, selalu jalan bertelanjang kaki dan makan makanan sedekah.

Ia tidak akan pernah bisa menggunakan kendaraan apa pun, tidak akan pernah mandi, tidak akan tidur di bawah sejuknya kipas angin dan tidak akan pernah mengobrol menggunakan telepon genggam lagi.
Image caption Dengan menjalani deeksha, ritual agama Jain untuk penolakan unsur-unsur duniawi, Dhruvi (kiri) benar-benar menarik diri dari kefanaan dunia

Keluarga Singhi memang merupakan bagian dari komunitas kuno Jain, kelompok agama minoritas yang memiliki 4,5 juta pemeluk.

Jain yang taat mengikuti ajaran agama mereka di bawah bimbingan spiritual para biarawan. Ini termasuk resep terperinci untuk kehidupan sehari-hari, terutama apa yang boleh dimakan, apa yang tidak boleh dan kapan boleh memakannya.

Selama lima tahun terakhir, Indravadan Singhi dan istrinya telah memerhatikan satu-satunya anak mereka - yang suka mengenakan celana jeans sobek dan bercita-cita memenangkan acara pencarian bakat Indian Idol - berubah menjadi sangat religius dan menarik diri.

Dengan menjalani deeksha, ritual penarikan diri dari keduniawian agama Jain, Dhruvi menarik dirinya dari kehidupan yang ia kenal.

Ia tidak sendiri. Ratusan anak muda Jain lainnya menjalani hal yang sama. Jumlahnya meningkat setiap tahunnya, di mana lebih banyak anak perempuan yang melakukannya ketimbang anak laki-laki.

"Dulu jarang sekali bisa ada 10-15 deeksha dalam setahun, sampai akhirnya mulai terjadi beberapa tahun lalu," ungkap Dr Bipin Doshi, yang mengajar filosofi Jain di Universitas Mumbai.

Namun tahun lalu, angka itu meningkat menjadi 250, dan ia yakin tahun ini akan mendekati 400 deeksha.

Pemimpin komunitas Jain mengaitkan kenaikan itu dengan tiga hal: kekecewaan yang tumbuh di kalangan anak muda dengan tekanan dunia modern, guru agama yang mengadopsi teknologi modern untuk mempermudah masyarakat mengutarakan gagasan religius yang mereka miliki, dan terakhir, sebuah superstruktur retret keagamaan yang memungkinkan anak muda bereksperimen dengan kehidupan biara, jauh sebelum mereka memilih untuk berkomitmen menjalankannya.

Tekanan kehidupan modern

Tekanan ekonomi dan sosial di dunia yang "terlalu-saling-terhubung" turut menyebabkan terjadinya fenomena ini, tutur Dr Joshi.

"Apa yang terjadi di New York, atau apa yang terjadi di Eropa, Anda melihatnya pada saat yang sama. Sebelumnya, kompetisi kita terbatas hanya sampai jalan di mana kita tinggal.

"Kini ada kompetisi dengan dunia," katanya, yang menambahkan bahwa budaya Fomo (fear of missing out), alias takut ketinggalan, membuat lebih banyak anak muda mencoba dan melarikan diri dari segalanya.

"Ketika Anda melakukan deeksha atau menolak keduniawian, tingkat spiritualis, derajat sosial, derajat keagamaan Anda menjadi sangat tinggi, bahkan orang terkaya pun akan turun dan membungkuk pada Anda," tambahnya.

Pooja Binakhiya, fisioterapis yang melakukan deeksha bulan lalu, mengatakan bahwa fokus hidupnya benar-benar berubah setelah ia menjadi seorang biarawati.

Jika dulu hari-harinya diisi dengan masalah keluarga, pertemanan, penampilan dan karir, ia mengatakan kini ia tak lagi harus memikirkan bagaimana ia sebaiknya tampil di hadapan teman-temannya.

"Di sini kami hanya memikirkan tentang jiwa, jiwa dan jiwa," tuturnya dengan tenang.

'Guru' media sosial

Beberapa hari menjelang deeksha, Dhruvi mengatakan bahwa gurunya adalah "segalanya baginya".

"Ia adalah dunia saya. Apapun yang dikatakannya, itu dia."

Hampir semua calon biarawan dan biarawati Jain berbicara dengan kehangatan yang sama dengan guru-guru mereka. Jelas bahwa para pemimpin spiritual ini menginspirasi kepatuhan dan kesetiaan yang luar biasa besar.

Dr Doshi menuturkan bahwa hal itu tidak selalu demikian dulu.

"Sebelumnya para pertapa lebih bersikap tertutup dan hanya tertarik pada pemurnian diri mereka sendiri," ujarnya. Namun kini, tambahnya, mereka lebih terlibat dan secara aktif mendekati kaum muda pada khususnya.

"Mereka adalah orator yang baik dan menawari anak-anak muda sebuah jalan yang sederhana, mereka tertarik."

Hingga setidaknya 10 tahun lalu, umat Jain hanya bergantung pada literatur yang ditulis dalam bahasa India Kuno seperti Ardha Magadhi atau Sansekerta. Kini, literatur keagamaannya hadir dalam berbagai bahasa, terutama Bahasa Inggris.

"Kisah tentang agama Jain dibuat film-film pendek, yang bisa dibagikan ke media sosial. Membaca buku mungkin tidak penting tapi dengan hanya menonton satu cerita kecil dalam satu-dua menit bisa sangat memengaruhi anak-anak muda sebenarnya," kata Dr Doshi.

Video-video ini, yang kebanyakan beredar melalui pesan WhatsApp, adalah film-film yang diproduksi dengan baik yang seringkali mengglorifikasi penolakan keduniawian dan terkadang bahkan menggambarkan biarawan/wati sebagai pahlawan super.

Muni Jinvatsalya Vijay Maharajsaheb, biarawan Jain, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, film-film yang diproduksi berbagai LSM Jain telah memainkan peran penting dalam membuat akses keagamaan semakin mudah dicapai oleh pengikut-pengikut muda.

Ia sendiri telah mempublikasikan sejumlah video YouTube yang telah ditonton jutaan kali.

"Jika seseorang ingin mendekati anak-anak muda, lebih mudah untuk menghampiri mereka dibanding mencoba membawa mereka ke sini," katanya. "YouTube adalah pilihan terbaik karena itulah tempat di mana anak-anak muda menghabiskan sebagian besar waktu mereka ketika tengah online".
Retret keagamaan

Dhruvi mengatakan bahwa sebuah Updhyan - retret selama 48 hari yang ia ikuti lima tahun lalu - menjadi "percikan awal yang membuatku memikirkan kehidupan biarawati".

Di bawah kepemimpinan seorang guru, retret itu memperbolehkan penganut Jain biasa untuk mencicipi kehidupan biarawan/wati - tanpa sepatu, listrik dan mandi.

Kebanyakan biarawan/wati pemula menyoroti sisi melelahkan retret itu - di mana para guru menasihati mereka untuk menolak dunia yang "penuh dengan penderitaan" - sebagai momen ketika mereka memutuskan untuk menjadi biarawan/wati.

Namun retret semacam itu tidak bisa dilakukan sekali saja.

Hitesh Mota, yang menggelar deeksha di Mumbai, mengatakan bahwa kebanyakan pesertanya menjalani serangkaian retret pendek untuk "secara perlahan membangun kepercayaan diri bahwa ya, saya bisa hidup seperti ini hidup seperti ini untuk sedikit lebih lama lagi di lain kesempatan".

"Kau tahu ketakutan kehidupan biarawan/wati, ketakutan mengorbankan segalanya. Ketakutan itu dihilangkan selama retret. Ini adalah langkah pertamanya, semacam kamp pelatihan untuk menjadi seorang biarawan/wati."
Image caption Jumlah anak muda penganut Jain yang menolak keduniawian semakin bertambah setiap tahunnya

Bulan lalu, sebuah retret di kota Nashik berakhir dengan sebuah prosesi perayaan di mana kereta-kereta kuda mengangkut 600 peserta yang mengenakan pakaian berkilauan. Kebanyakan berusia di bawah 25 tahun dan kabarnya ratusan di antaranya mengungkapkan hasrat untuk menjalani deeksha.

Salah satunya adalah Het Doshi yang masih berusia 12 tahun.

Sebagai siswa cerdas yang juga juara berselancar, Het harus melewatkan tiga perlombaan selancar dan absen beberapa minggu dari sekolah untuk mengikuti retret. Kakinya dipenuhi lecet dan bisul, dan beratnya pun turun 18kg selama retret tersebut. Namun, Het mengatakan bahwa sebuah nyala api telah dihidupkan di dalam hatinya.

"Guru saya mengatakan bahwa tak ada yang baik di dunia," ujar Het, mengucapkan kata-kata yang tampaknya ia sendiri tak benar-benar pahami.

"Saya tidak suka satu pun hal di dunia fana ini. Saya ingin beralih dari karma-karma saya, dosa-dosa saya. Untuk itu saya ingin menjalani deeksha. Guru saya mengatakan bahwa saya sebaiknya secepatnya melakukan itu dari pada nanti, makanya saya ingin melakukannya sebelum saya berusia 15 tahun."
Image caption Meskipun orang tua Het ingin anak mereka menjadi seorang biarawan, tidak semua orang tua punya perasaan yang sama

Orang tuanya melihatnya dengan bangga. Tapi tidak semua orang tua merasakan hal yang sama terkait penolakan keduniawian yang dilakukan anak-anak mereka.

Dhruvi harus bekerja keras untuk mendapatkan dukungan orang utanya. "Keluarga saya sangat marah saat saya memberitahu mereka," ujarnya.

Ia lantas berhenti menyebut kata 'deeksha' selama beberapa tahun, karena sadar jika ia terus menerus memaksakannya, ia bisa kehilangan kebebasannya bepergian bersama sang guru.

Meski akhirnya ia berhasil meluluhkan perlawanan keluarganya, ketakutan mereka tetap bergeming di bawah permukaan.

Di pagi hari upacara penolakan keduniawian Dhruvi, sang ayah memeluknya untuk terakhir kalinya sebelum ia mengenakan pakaian biarawati, kesedihan tergurat di wajahnya.

"Semua kemegahan ini adalah satu hal," ujarnya. "Kembalilah dalam dua tahun untuk melihat bagaimana hasilnya." [ida]

Komentar Pembaca
Gerindra Tolak Revisi UU KPK, Ada Apa?

Gerindra Tolak Revisi UU KPK, Ada Apa?

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019 , 06:44:37

Celoteh Jokowi Tidak Ada Kebakaran Hutan Faktanya Nol Besar
JOKOWI TERUJI BERPENGALAMAN DALAM HAL KEGAGALAN

JOKOWI TERUJI BERPENGALAMAN DALAM HAL KEGAGALAN

KAMIS, 12 SEPTEMBER 2019 , 00:45:19

Wong Sumsel Jadi Senator..

Wong Sumsel Jadi Senator..

KAMIS, 25 JULI 2019 , 18:01:00

Minta Hujan, Ribuan Jamaah Sholat Istisqo

Minta Hujan, Ribuan Jamaah Sholat Istisqo

SELASA, 27 AGUSTUS 2019 , 09:15:00

TNI Pati Naik Pangkat

TNI Pati Naik Pangkat

SELASA, 23 JULI 2019 , 07:37:00