Perbankan Sumsel Belum Mampu Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi  RABU, 26 JUNI 2019 , 10:58:00 WIB | LAPORAN: RADEN MOHD. SOLEHIN

Perbankan Sumsel Belum Mampu Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
RMOLSumsel. Perbankan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) belum mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Dimana, saat ini pertumbuhan ekonomi Sumsel diketahui mengalami penurunan pada triwulan I 2019, jika dibandingkan triwulan IV 2018 yakni dari 6,04% menjadi 5,68%.

Meski kredit yang diberikan tumbuh 4,21%, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional VIII Sumatera Bagian Selatan mencatat pertumbuhan aset dan kredit di Provinsi ini dibawah pertumbuhan nasional 9,07% dan 9,94%.

Dalam paparannya, Kepala OJK Regional VIII Sumatera Bagian Selatan Panca Hadi Suryatno menerangkan, saat ini penyaluran kredit perbankan di Sumsel, masih di domimasi sektor produktif.

Dimana, berdasarkan data OJK per April 2019, diketahui sebanyak 30,29% mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran, kemudian disusul kontruksi 24,64%.

"Kredit konsumsi berada pada urutan ketiga yakni kredit kepemilikan rumah 12,62 persen, disusul pertanian dan perkebunan 10,81 persen, sektor produktif lainnya 8,93 persen, industri pengolahan 3,62 persen dan penambangan serta penggalian 1,56 persen," terangnya disela-sela kegiatan Media Sharing Information OJK 2019 di Kantor OJK Palembang.

Meski begitu, Panca mengaku secara umum pertumbuhan ekonomi Sumsel sudah bagus selalu dikisaran 5-6 persen. Meskipun memang masih ada gap jika dibandingkan realisasi kreditnya.

"Seharusnya bisa lebih baik lagi. Memang hal itu tidak mudah di tengah pelemahan sektor utama ekonomi Sumatera Selatan yakni anjloknya harga sawit dan karet, serta batu bara," ulasnya.

Panca juga berharap, perbankan tetap diminta aktif menyalurkan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang sudah dihimpun menjadi pembiayaan di sektor-sektor produktif hingga konsumtif.

Memang hal itu tidak mudah di tengah pelemahan sektor utama ekonomi Sumatera Selatan yakni anjloknya harga sawit dan karet, serta batu bara. Namun, ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi perbankan yakni bagaimana menggarap sektor-sektor baru, apalagi pada 2019 sudah tidak ada faktor pemicu seperti 2018 karena Palembang menjadi tuan rumah Asian Games.

Berdasarkan data OJK semester I 2019, terjadi penurunan perbankan performa perbankan di Sumatera Selatan jika dibandingkan 2018.

Bahkan, antara angka pertumbuhan kredit dan DPK tidak berimbang. Untuk untuk DPK mengalami pertumbuhan 6,49% dari Rp77,77 triliun menjadi Rp82,81 triliun atau masih di bawah angka pertumbuhan nasional 6,66%

Untuk total asset per April 2019 tumbuh 5,88% (yoy) dari Rp90,91 triliun menjadi Rp96,25 triliun, kredit tumbuh 4,21% dari Rp79,91 triliun menjadi Rp83,27 triliun. Pertumbuhan aset dan kredit ini di bawah angka pertumbuhan nasional, masing-masing sebesar 9,07% dan 9,94%.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Idonesia (BI) Provinsi Sumsel Yunita Resmi Sari mengatakan, lembaga perbankan di Sumatera Selatan (Sumsel) belum berani melakukan ekspansi kredit, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di provinsi ini.

Dimana sejauh ini pertumbuhan kredit korporasi 5,46%, kredit rumah tangga hanya 4,2%.

Yunita juga sangat menyayangkan kinerja bank-bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR), dimana saat ini penyaluran kredit tersebut baru 39,45% dari plafon. [yip]

Komentar Pembaca
SBY Ziara Kemakam Ani Yudhoyono

SBY Ziara Kemakam Ani Yudhoyono

SENIN, 10 JUNI 2019 , 14:31:00

Usai Ricuh, Pasar Tanah Abang Kembali Ramai

Usai Ricuh, Pasar Tanah Abang Kembali Ramai

MINGGU, 26 MEI 2019 , 14:34:00

JAPFA Bantu Korban Banjir

JAPFA Bantu Korban Banjir

SELASA, 25 JUNI 2019 , 11:30:00