Modi Menang Lagi..Pemilu India Tak Bergolak

Politik  JUM'AT, 24 MEI 2019 , 11:59:00 WIB | LAPORAN: ROSYIDAH ROZALI

Modi Menang Lagi..Pemilu India Tak Bergolak
RMOLSumsel. Tidak ada aksi penolakan dan pernyataan-pernyataan yang membuat rakyat jengah. Para kandidat perdana menteri (PM) yang kalah di Pemilu India 2019, tidak mengumbar kalimat-kalimat penolakan. Beda dengan yang terjadi di Indonesia.

Diberitakan Kantor Berita BBC kemarin, Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin PM Narendra Modi meraih kemenangan mutlak dalam Pemilu India. BJP mengungguli pesaing terdekatnya Partai Kongres pimpinan Rahul Gandhi.

Aliansi yang dipimpin BJP unggul dengan raihan lebih dari 300 kursi di parlemen, dan ini memastikan bahwa Modi akan kembali mendominasi parlemen dengan jumlah kursi total sebanyak 543. Aliansi yang dipimpin Partai Kongres hanya mendapat kurang dari 100 suara.

Lebih dari 600 juta orang telah memberikan suara dalam pemilu terbesar dunia yang berlangsung selama enam minggu.

Pada pemilu tahun 2014, BJP mendapat 282 kursi dan bersama partai-partai anggota aliansinya kini mereka unggul dengan jumlah total 336 kursi.

Wartawan BBC di India, Soutik Biswas mengatakan kebijakan Modi antara lain terkait keamanan nasional membuatnya menarik suara banyak.

"Tidak apa kalau pembangunannya sedikit namun Modi membuat negara aman," kata seorang pemilih di Kolkata.

Anggapan bahwa Modi adalah "sosok kuat" merupakan daya tarik besar dalam pemilu ini, katanya.

Apa arti kemenangan kembali Modi bagi India dan dunia? Berikut beberapa hal penting terkait hal ini.

Tantangan Ekonomi
India diperkirakan akan mengambil alih posisi Inggris sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia. Dengan komposisi demografinya yang muda, diperkirakan akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global.

Penanam modal internasional sangat optimistis pada ekonomi India, dan pada tahun lalu saja mengucurkan dana sebesar hampir US$44 miliar.

Keuntungan sudah terlihat dengan banyaknya pembangunan jalan, pembangunan pertanian, gas murah untuk orang miskin, pembangunan fasilitas MCK di pedesaan serta skema asuransi kesehatan, yang semuanya bisa menguntungkan bagi 500 juta keluarga.

Namun secara umum ekonomi India masih bermasalah dengan permintaan yang melambat, penurunan penghasilan dan buruknya angka pengangguran selama empat dekade.

India butuh menciptakan jutaan lapangan kerja tiap bulan untuk tetap mempertahankan laju ekonomi dan membuat orang muda tidak mengalami kekecewaan. Target ini gagal dicapai oleh pemerintahan sebelumnya dan jadi pekerjaan rumah pada periode kali ini.

Selagi India mengatasi masalah ini dan membangkitkan ekonominya, masalahnya adalah: apakah perlombaan untuk menciptakan lapangan kerja ini akan menimbulkan perang dagang dengan negara-negara mitra ekonomi mereka?

Bangkitnya nasionalisme

Hasrat untuk meraih kembali kejayaan yang hilang bergema pada munculnya pemimpin nasionalistik yang kuat di seluruh dunia.

Misalnya pada Donald Trump yang menyerukan, Make America Great Again, atau Putin dengan slogan yang mirip. Demikian pula dengan hasrat Xi Jinping dengan slogan 'Kebangkitan akbar rakyat China' atau Benjamin Netanyahu dengan slogan 'Agar berbagai bangsa diberi cahaya'.

Modi juga menggunakan tema serupa dalam retorika kampanye pemilunya yang menyerukan kembalinya kejayaan masa lalu. Ia menyerukan nostalgia pada Raja Rama, tokoh epik yang merupakan intisari dari ajaran agama Hindu di India.

Modi menyerukan, 'Raja Rama adalah raja yang ideal dan pemerintahannya merupakan sistem yang sempurna.' 'Pemerintahan Raja Rama dilahirkan oleh para pendiri bangsa dan pemerintahan BJP bekerja untuk mencapai itu,' kata Amit Shah, Presiden BJP.

Namun pemimpin partai berulang kali menekankan bahwa mereka tidak anti minoritas. "Partai ini ditujukan bagi 1,3 miliar orang India dan tidak melakukan diskriminasi berdasar agama," kata Juru Bicara BJP Nalin Kohli.

Kini BJP kembali berkuasa dan identitas nasionalis India akan kembali muncul.

November lalu, riset BBC juga memperlihatkan seruan untuk membentuk identitas nasional ini telah menghidupkan berita bohong atau hoaks. Jaringan berita sayap kanan menyebarkan berita bohong dengan sudut pandang nasionalistis melalui jaringan media sosial mereka.

Politik orang kuat dan kekuatan geopolitik

BJP menyombongkan 'dada bidang' Modi sebagai perumpamaan bagi karakternya yang macho, seraya menunjukkan serangan India terhadap kelompok militan Pakistan sebagai bukti akan hal itu.

Narasi ini memiliki daya tarik bagi massa yang meningkatkan popularitas Modi. Padahal sebelumnya popularitas Modi sempat turun pada pemilu negara bagian, tetapi sesudah serangan itu, ia naik lagi.

Modi terus mengobarkan nasionalisme yang kuat selama masa kampanye. Pendukung-pendukungnya bicara tentang masa lalunya yang sederhana dan mengkontraskan ini dengan latar belakang pesaingnya, pemimpin Partai Kongres Rahul Gandhi yang berasal dari dinasti politik besar Nehru-Gandhi.

Semua ini "sukses meyakinkan rakyat India bahwa ia seorang yang tulis, pekerja kerasa dan tegas."

Di bawah kepemimpinannya, India telah dua kali berhadapan dengan Pakistan dan sekali dengan China, di wilayah yang rawan dengan potensi konflik, di Kashmir dan di Laut China Selatan.
Di Asia Tenggara, India dengan cepat muncul sebagai 'pengimpang bagi kekuatan China dan menjadi pagar bagi kekuatan Amerika Serikat yang sedang menurun' kata lembaga think tank Amerika, Council on Foreign Relations.

Banyak orang India yang melihat peningkatan peran mereka secara regional dihasilkan dari pengaruh kepemimpinan Modi.

Selagi Modi terus mendorong pengaruh India di masa jabatannya yang kedua, kita akan melihat peralihan-peralihan aliansi geopolitik di Asia Tenggara. [ida]

Komentar Pembaca
Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

RABU, 24 APRIL 2019 , 12:32:00

Hermanto Wijaya Mualaf

Hermanto Wijaya Mualaf

JUM'AT, 03 MEI 2019 , 14:45:00

Mentan Memanggang Kopi

Mentan Memanggang Kopi

SELASA, 23 APRIL 2019 , 16:21:00