May Day, Perjuangan Kelas Pekerja

Laporan : Irmayani

Ragam  RABU, 01 MEI 2019 , 09:14:00 WIB

May Day, Perjuangan Kelas Pekerja

May Day / NET

RMOLSumsel. Setiap 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day, hari buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi politis hak hak industrial.

Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi politik, terutama di negara negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi pada tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.

Pada tanggal 4 Mei 1886. Para demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.
Kongres Sosialis Dunia

Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi.

Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Prancis.

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

Sedangkan May Day di Indonesia, Ibarruri Aidit (putri sulung D.N. Aidit) sewaktu kecil bersama ibunya pernah menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di Uni Sovyet, sesudah dewasa menghadiri pula peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 1970 di Lapangan Tian An Men RRC pada peringatan tersebut menurut dia hadir juga Mao Zedong, Pangeran Sihanouk dengan istrinya Ratu Monique, Perdana Menteri Kamboja Pennut, Lin Biao (orang kedua Partai Komunis Tiongkok) dan pemimpin Partai Komunis Birma Thaksin B Tan Tein.

Tapi sejak masa pemerintahan Orde Baru hari buruh tidak lagi diperingati di Indonesia, dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di Indonesia.

Semasa Soeharto berkuasa, aksi untuk peringatan May Day masuk kategori aktivitas subversif, karena May Day selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis. Konotasi ini jelas tidak pas, karena mayoritas negara-negara di dunia ini yang sebagian besar menganut ideologi nonkomunis, bahkan juga yang menganut prinsip antikomunis, menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Labour Day dan menjadikannya sebagai hari libur nasional.

Setelah era orde baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.

Kekhawatiran bahwa gerakan massa buruh yang dimobilisasi setiap tanggal 1 Mei membuahkan kerusuhan, ternyata tidak pernah terbukti. Sejak peringatan May Day tahun 1999 hingga 2006 tidak pernah ada tindakan destruktif yang dilakukan oleh gerakan massa buruh yang masuk kategori "membahayakan ketertiban umum". Yang terjadi malahan tindakan represif aparat keamanan terhadap kaum buruh, karena mereka masih berpedoman pada paradigma lama yang menganggap peringatan May Day adalah subversif dan didalangi gerakan komunis.

Di Palembang sendiri, peringatan hari buruh sering kali diwarnai dengan beberapa aksi para buruh. seperti pada tahun lalu ribuan buruh di Kota Palembang dan dari sejumlah daerah di Sumsel melakukan aksi di halaman Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera).

Aksi tersebut mendapat pengamanan ketat dari aparat Polresta Palembang, selain menyampaikan orasi tuntutan kepada pemerintah mengenai hak buruh, sejumlah buruh melakukan aksi teaterikal yang menggambarkan kondisi sulit yang hingga kini masih dialami sebagain besar buruh di Indonesia.

Salah seorang peserta aksi dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Sumsel, Rosdiana mengatakan mereka memperjuangkan tuntutan meminta pemerintah mencabut peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang pengupahan.

Pencabutan peraturan tersebut merupakan langkah awal menciptakan sistem pengupahan nasional yang berkeadilan, tak hanya itu saja, mereka juga menuntut pemerintah untuk konsisten memberantas korupsi, meningkatkan subsidi untuk rakyat, khusus bidang pendidikan, kesehatan, energi, perumahan dan transportasi serta berkomitmen mewujudkan reformasi agraria.

Hal unik lain juga terjadi di peringatan May Day 2018, dengan ditandainya pemotongan tumpeng pempek yang menjadi makanan khas Kota Plembang. Dalam aksi tersebut, ribuan buruh menggelar aksi damai di Halaman Gedung DPRD Sumatera Selatan.

Dengan susunan rapi, tumpeng yang dibangun dari pempek itu, menjadi simbol jika Palembang harus memperhatikan hak hak para pekerja, khususnya Palembang.

Koordinator Aksi Buruh Miftahul Firdaus mengatakan, pihaknya lebih menyoroti soal pemerintah agar lebih memperketat pengawasan tenaga kerja asing. Karena, pihaknya pernah menemukan beberapa tenaga kerja asing yang bekerja seperti di Pembangkit listrik dan alat berat di Sungai Baung.

"Jika tidak diawasi tentunya akan semakin banyak. Bahkan, mereka ini bahkan tidak bisa berbahasa Indonesia," tegasnya di sela-sela aksi.

Ia berharap agar pemerintah lebih memperhatikan nasib buruh di Sumsel. Terkait intimidasi perusahaan, ia mengaku ada beberapa kasus yang telah dilaporkan ke Polda Sumsel dan saat ini tengah diproses.

Sementara, Kalpolda Sumatera Selatan Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengapreasi aksi damai tersebut.

"Biasanya kan tumpeng itu nasi kuning. Untuk kali ini di Palembang kita potong tumpeng dari pempek sebagai tanda pelaksaan lancar dan aman," kata Zulkarnain.

Menurutnya, pihak kepolisian akan memperhatikan nasib buruh perusahaan, seperti jika ada laporan intimidasi dari perusahaan terhadap buruh karyawan maka akan ditindaklanjuti oleh polisi.

"Memang yang mengatur tenaga kerja ini ada wadahnya seperti Dinas Ketenagakerjaan. Tapi, jika memang perusahaan itu sudah menghilangkan hak buruh tentu kami akan ikut serta menindaknya," terangnya.

Ia mengakui jika pihaknya telah menerima laporan dari buruh. Namun, ia tidak mengetahui jumlah laporan tersebut. Meskipun begitu, ia mengaku jika laporan didominasi oleh permasalahan adanya intimidasi seperti ada buruh yang mengajukan hak mereka kepada perusahaan tapi perusahaan justru melakukan pemecatan.

"Kami akan pelajari dulu setiap laporan yang masuk dan tentu kami akan tindak lanjuti," pungkasnya. [irm]



Komentar Pembaca
Presiden RI-Wakil Presiden RI

Presiden RI-Wakil Presiden RI

JUM'AT, 18 OKTOBER 2019 , 09:37:00

Jadwal Pelantikan Presiden RI-Wakil Presiden RI

Jadwal Pelantikan Presiden RI-Wakil Presiden RI

MINGGU, 20 OKTOBER 2019 , 07:10:00

Said Didu Di Tengah Kunjungan Menhan

Said Didu Di Tengah Kunjungan Menhan

KAMIS, 07 NOVEMBER 2019 , 17:47:00