KPU Curang di Bagian Mana?

Oleh: Muhammad Wiwin

OPINI  SABTU, 27 APRIL 2019 , 16:09:00 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD WIWIN

KPU Curang di Bagian Mana?
SUDAH sejak beberapa hari lalu saya ingin membeberkan fakta ini. Tapi belum ada waktu dan kesempatan yang pas untuk menuliskannya. Pendek kata, belum sempat.

Maklum. Belakangan sibuk banget. Begitu kamu bilang uhang kebanyakan. Oke! Cukup kelakar betoknya. Sekarang, mari kita buka-bukaan.

Sebelumnya, kita gali dulu makna kata curang itu apa. Saya googling di mbah goggle. Arti kata Curang adalah; tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil: orang yang munafik senantiasa berhati --;

Nah. Pasca pencoblosan Pemilu 2019 yang telah kita lewati lebih sepekan lalu, kata curang ini disebut terus. Dan disematkan ke penyelenggara Pemilu, terkhusus kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Yap. KPU dituding curang dalam rekapitulasi suara Pilpres 2019. Sehingga disebut-sebut merugikan salah satu Paslon Capres, yang ikut bertarung dalam pesta demokrasi lima tahunan sekali itu.

Inti tudingan itu, bahwa banyak data perolehan suara pasangan Capres dimaksud, yang "didiskon" ketika masuk di situs KPU. Catat ya ! Data yang masuk di situs KPU.

Diantara bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, mungkin sudah banyak yang tahu, bahwa data yang dipersoalkan yang masuk di situs itu, berasal dari proses Situng-nya KPU.

Sedikit saya jelaskan, bahwa Situng sendiri adalah singkatan dari Sistem Informasi Penghitungan Suara. Sistem itu berada di website resmi KPU di pemilu2019.kpu.go.id.

Yang memasukkan data itu, adalah manusia. Untuk level Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) sendiri, manusia yang menjadi petugas Situng-nya ada 27 orang.

Rinciannya, 22 orang tenaga pendukung yang direkrut dari kalangan eksternal KPU. Kemudian, 3 orang staf di KPU, yang bertindak sebagai operator. Lalu, 1 orang verifikator. Dan 1 orang lagi, Komisioner KPU dari Divisi Teknis Yudi Risandi, yang menjadi penanggung jawabnya.

Sumber datanya adalah formulir C1. Yaitu formulir yang berisi hasil penghitungan suara pemilu di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Mereka itulah, yang bekerja melakukan pemindaian (scan) dan entri formulir C1 tadi. Yang setelah dipindai dan di-entri, dipublikasikan melalui Situng.

Kebetulan. Saya menjadi salah satu dari empat orang yang berlatar belakang jurnalis, masuk dalam deretan 22 orang tenaga pendukung operator Situng KPU ini.

Saya sempat bertanya pada Plt Sekretaris KPU OKU, Andre Bastian. Kenapa KPU OKU, kok mau-maunya menawari wartawan yang notabene bekerja mencari berita, untuk ikut dalam proses Situng.

Jawabannya. Wartawan terbiasa bekerja tanpa jam. Artinya, bisa diajak begadang. Karena petugas Situng, ini dalam prosesnya akan men-scan dan meng-entri data C1 dari TPS. Yang data itu, tidak bisa diprediksi kapan masuknya. Bisa jadi siang, sore, malam, ataupun dini hari.

"Kami sudah merekrut, tapi masih kurang tenaga," begitu kata Andre, beberapa waktu lalu, jauh hari sebelum pencoblosan.

Oh begitu. Saya pun menerimanya. Karena di pikiran saya, inilah kesempatan saya sambil menyelam minum air.

Sebab, saya akan mudah mendapatkan informasi seputar Pemilu 2019, dengan bertengger di kantor KPU selama proses Situng.

Pada saatnya, kami pun dibagi dua tim. Ada yang men-scan. Ada yang meng-entri. Dan saya masuk bagian tukang scan. Singkatnya, petugas Situng itu nanti cuma mencopas saja data yang ada.

Kami mulai ditugaskan standby menunggu data C1 itu masuk ke Kantor KPU OKU di Jl A. Yani Km 4,5 Kemelak Baturaja, mulai pukul 16.00 wib sore pasca pencoblosan.

Hari pertama itu, kami tunggu sampai pukul 01.00 wib dini hari. Belum juga ada yang masuk. Kami pun disuruh pulang untuk istirahat.

Keesokan harinya, petugas Situng ini mulai jungkir balik. Berkutat dengan data. Ritme itu terus dilakukan berulang ketika data-data masuk bertubi-tubi, sampai tanggal 22 April.

Kehidupan kami di sepanjang masa itu mirip dalam lirik lagu Armada Band yang pernah hits. Pergi pagi, pulang pagi.

Tugas saya sebagai wartawan sedikit terlena. Target empat berita dalam sehari meleset. Tak sempat lagi nulis. Kalaupun ada, itupun curi-curi waktu. Jadwal saya ngajar ngaji anak di rumah sewaktu maghrib, pun terlewatkan.

Kini kita kembali ke tudingan Curang? Adakah celahnya? Nah, mungkin disinilah letak "kebodohan" saya. Insting wartawan saya, seolah tersumbat.

Betapa tidak. Sejak 17 April sore hari pasca pencoblosan itu, hingga tanggal 22 April Situng kelar, jujur saya katakan tak kunjung menemukannya.

Saya bingung dimana celahnya. Lagian pula, satu kata perintah untuk mengubah data yang masuk itu, sama sekali tak dilontarkan oleh para Komisioner. Apalagi staf.

Bagaimana dengan kami? Masing-masing kami sebagai petugas Situng dibekali OTP (One-Time Password) yang melekat pada HP android masing-masing.

Jadi, ketika kami selesai men-scan dan meng-input, kemudian ingin mengirim data itu ke Situng Web, tentu harus login dengan OTP tadi.

Kata sandi yang berbentuk angka ini hanya berlaku untuk satu sesi atau transaksi login pada sistem laptop atau komputer yang kami gunakan. Dan persekian detik, OTP-nya berubah dengan sendirinya.

Dengan sistem ini, jelas tak memungkingkan bagi kami, apalagi orang lain untuk mengakses data pada laptop atau komputer sesama petugas Situng. Meskipun duduk bersebelahan.

Sosok Yudi Risandi, yang selalu mengenakan peci, yang entah kapan tidurnya, terus mengontrol pekerjaan kami selama itu.

Ia mewanti-wanti petugas untuk teliti. Data yang salah input, ia perintahkan segera diperbaiki. Scan-an yang kabur, juga dia minta di-scan ulang.

Di sisi lain, pihak keamanan dari unsur TNI/ Polri dan Sat Pol PP, nonstop berjaga. Intelijen berseliweran. Bahkan mereka (para Intel,red) selalu masuk ke dalam ruangan petugas Situng. Ikut begadang. Memeloti data masuk.

Mas Arif, salah satunya. Perwira Pertama dari Polres OKU yang selalu ikut begadang. "Hati-hati Le, nginput datanya," begitu pesan Mas Arif mewanti-wanti pula.

Di luar sana, banyak yang bertanya pada saya dan mungkin pada teman-teman yang lain, soal perolehan suara khususnya suara Caleg DPRD.

Lah, bagaimana saya tahu. Sebab proses scan dan input yang saya lakukan bersama teman-teman, seakan tak pernah ada kata sudahnya.

Jadi boro-boro mau mencatat satu persatu isi data atau perolehan suara, mending saya menyelesaikan tugas saja.

Bayangkan Pak! ada enam dokumen yang mesti saya scan. Jumlah lembaran dokumen itu, masing - masing berbeda-beda.

C1 KPU, itu ada 4 lempar. C1 PPWP (Pilpres), ada 2 lembar. C1 DPR RI, ada 6 lembar. C1 DPD, 4 lembar. C1 DPRD Provinsi, 6 lembar dan C1 DPRD Kab/ Kota, juga ada 6 lembar.

Itu untuk satu TPS saja. Sedangkan di OKU sendiri terdapat 1.243 TPS. Hitung sendiri jumlah lembarannya. Capek saya!.

Lalu, setelah berjibaku siang malam berkutat bersama data, dengan durasi waktu tidur tak sampai 6 jam, dengan pressure dan pengawasan ketat, ehhh... diluar sana berseliweran tudingan KPU curang karena manipulasi data.

Kalau boleh saya bisa ambil kesimpulan, sangat kecil bahkan mustahil KPU bisa berlaku curang.

Saya disini bukan dalam posisi membela KPU, lebih-lebih membela salah satu Capres. Ini karena saya terlibat di dalamnya. Saya melihat dan melaksanakan prosesnya, dalam tanggung jawab sebagai petugas Situng.

Kalaupun ada kesalahan input di Situng, itu benar !. Human error. Murni kesalahan kami (petugas Situng). Tapi bukan disengaja. Faktor lelah saja. Ini bukan lebay Pak.

Saya barusan bertanya pada Muhammad Syafran, Operator Situng KPU. Berapa persen sih tingkat error data yang diinput petugas Situng oleh bagian tukang Nginput.

Ia taksir, sekitar 5 - 10 persen. Dan itu, sekarang sedang diperbaiki melalui proses verifikasi.

Malahan, kata dia, yang paling banyak salah, justru berasal dari data yang kami terima. Yakni salinan C1 dari TPS. Ada sekitar 30 persen kesalahannya. Letak salahnya kebanyakan pada penjumlahan perolehan suara di tingkat KPPS. Paling banyak untuk DPR RI dan Kabupaten.

Dan kami sebagai petugas Situng tak bisa ngapa-ngapain. Data yang ada itulah, di-scan dan di-input. Kami, apalagi komisioner KPU dan jajaran, tak punya kewenangan mengubahnya.

Teman saya Bagas Mihargo, berkali-kali sewot. Karena ia melihat ada kesalahan penjumlahan dari salinan C1. Tapi ia tak bisa apa-apa. Hanya nginput. Sehingga ketika ia nginput ke Situng Web, ada tanda merah, yang berarti isian salah. Mau apa? Ya di-input apa adanya.

Sekali lagi, ini bukan soal bela pembelaan. Atau mencari siapa benar, siapa salah. Ini hanya sebuah sistem kerja, yang mungkin banyak orang belum memahaminya.

Dan perlu digarisbawahi, bahwa Situng ini bukan jadi patokan untuk mengetahui hasil akhir Pemilu 2019. KPU pada saatnya nanti, tetap akan melakukan penghitungan berjenjang.

Sesungguhnya menurut Yudi Risandi selaku Komisioner KPU OKU divisi Teknis, bahwa Situng ini sebagai laporan internal KPU yang bisa diakses publik, untuk memenuhi asas transparansi.

"Dengan menampilkan hasil kerja, yang salah salah satunya Situng itu, sedikit banyak menutup celah curang. Artinya, dengan penerapan asas transparansi, artinya tidak ada batasan. Bahasanya, KPU sudah buka-bukaan. C1 ini kan, juga ditempel di desa/ kelurahan. Masyarakat bisa melihatnya untuk dievaluasi," Yudi menjelaskan kepada saya.

Mudah-mudahan, sedikit cerita pengalaman saya ini, bisa memberi pencerahan bagi agan-agan dan aganwati sekalian. Sekian dan terima kasih. Saya capek!!.  [ida]

Penulis adalah jurnalis yang terlibat langsung di SITUNG


Komentar Pembaca
Humorologi Dalai Lama

Humorologi Dalai Lama

SELASA, 16 JULI 2019

Keragaman Pendapat

Keragaman Pendapat

MINGGU, 14 JULI 2019

Hope dan Puing

Hope dan Puing

SABTU, 13 JULI 2019

Bersatu Mendukung Pembangunan Infrastruktur
Satu Bahasa, Bahasa Indonesia

Satu Bahasa, Bahasa Indonesia

RABU, 10 JULI 2019

Kemanusiaan versus Pragmatisme

Kemanusiaan versus Pragmatisme

SELASA, 09 JULI 2019

Kemesraan Jokowi-Prabowo Belum Berlalu

Kemesraan Jokowi-Prabowo Belum Berlalu

SENIN, 15 JULI 2019 , 14:53:43

Lebih Baik Prabowo Mati Daripada Berkhianat

Lebih Baik Prabowo Mati Daripada Berkhianat

JUM'AT, 12 JULI 2019 , 14:15:15

Jokowi Jangan Beli Kucing Dalam Karung

Jokowi Jangan Beli Kucing Dalam Karung

KAMIS, 11 JULI 2019 , 17:38:25

SBY Ziara Kemakam Ani Yudhoyono

SBY Ziara Kemakam Ani Yudhoyono

SENIN, 10 JUNI 2019 , 14:31:00

Usai Ricuh, Pasar Tanah Abang Kembali Ramai

Usai Ricuh, Pasar Tanah Abang Kembali Ramai

MINGGU, 26 MEI 2019 , 14:34:00

JAPFA Bantu Korban Banjir

JAPFA Bantu Korban Banjir

SELASA, 25 JUNI 2019 , 11:30:00