Perjuangan Panjang untuk Bebaskan Sumartini dan Warnah

Investigasi  SABTU, 27 APRIL 2019 , 13:43:00 WIB | LAPORAN: ROSYIDAH ROZALI

Perjuangan Panjang untuk Bebaskan Sumartini dan Warnah
RMOLSumsel. Sumartini dan Warnah urung dihukum mati. Vonis mati mereka dijadikan hukuman penjara 9 dan 8 tahun, yang setelah usai dijalani keduanya diperbolehkan pulang. Bebasnya dua tenaga kerja Indonesia (TKI) ini tak lepas dari kerja keras Duta Besar Indonesia untuk Saudi  Agus Maftuh Abegebriel.

Ia mengatakan sebelum menjadi dubes ia mengajar di Fakultas Syariah dan sering membahas hukum pidana Islam. Latar belakang ini sangat membantu ketika ikut menangani kasus-kasus yang menimpa warga Indonesia di Saudi.

Setelah menjalani hukuman, Sumartini dan Warnah pulang dan tiba di Jakarta, hari Rabu (24/4).

Selama menjabat menjadi dubes, Agus mengatakan sudah sembilan warga Indonesia yang bebas dari hukuman mati di Saudi.


Agus mengungkapkan keberhasilan ini tak lepas dari upaya resmi dengan mengirim surat dan nota ke Kementerian Luar Negeri Saudi hingga mengambil langkah-langkah yang ia sebut sebagai pendekatan antropologis, sehingga keluarga yang memperkarakan, suku, atau kabilah mereka bersedia memaafkan atau menerima uang diyat (denda).

"Pernah pukul 01.00 malam, bersama atase hukum, saya lakukan pendekatan ke salah satu suku. Kami bertemu di kandang kambing malam-malam di tengah gurun. Kami tak bisa bicara secara langsung soal kasus sebelum mereka tersenyum dan tertawa," ungkap Agus seperti dikutip dari Kantor Berita BBC News Indonesia, Sabtu (27/4).

"Mereka biasanya tersentuh ketika kami cerita tentang Saudi, tentang syair-syair klasik. Saya katakan Indonesia dan Saudi bersahabat jauh sebelum negara Indonesia dan kerajaan Saudi resmi didirikan. Saya katakan ada orang Indonesia yang menjadi imam besar di Masjidil Haram, ada yang jadi ulama besar ketika Saudi belum didirikan," katanya.

"Saya katakan, saya sebeagai orang tua mereka (warga Indonesia yang diadili) saya meminta maaf atas kesalahan mereka. Kita harus bisa mengambil hati orang Saudi dengan dialog-dialog tentang puisi, tentang syair Arab klasik. Dialog ini membuat kami menyatu di titik yang sama. Setelah itu, baru kami lakukan lobi-lobi. Alhamdulillah, ada satu keluarga yang memaafkan tanpa meminta uang denda," kata Agus.

Upaya-upaya seperti ini ia sebut sebagai keajaiban dan takdir diplomasi sehingga perundingan yang tadinya dianggap mustahil bisa berakhir sukses.

Ia mengatakan upaya menembus keluarga yang memperkarakan warga Indonesia bisa melalui kepala suku atau kabilah dan melalui pangeran-pangeran.

"Intinya kami menawarkan mekanisme penyelesaian yang mengandung nilai-nilai persahabatan," kata Agus.

"Namun ada juga yang ngotot karena ini terkait dengan dignity (martabat) kesukuannya sehingga pendekatan yang kami lakukan mentok," katanya.

Saat ini pihaknya tengah merundingkan kasus yang menimpa tenaga kerja Eti bin Toyib dari Majalengka, Jawa Barat, yang menjalani hukuman di penjara di Taif setelah dinyatakan membunuh majikan. Eti mendekam di penjara sejak 2002. [ida]
'Lautan' Manusia di Pinggir Sungai Musi Saat Kampanye Prabowo
Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

RABU, 24 APRIL 2019 , 12:32:00

Mentan Memanggang Kopi

Mentan Memanggang Kopi

SELASA, 23 APRIL 2019 , 16:21:00