Warga Eksodus Ikuti Sang Guru ke Malang

Sosial  KAMIS, 14 MARET 2019 , 22:21:00 WIB | LAPORAN: ROSYIDAH ROZALI

Warga Eksodus Ikuti Sang Guru ke Malang
RMOLSumsel. Bupati Ipong Muchlissoni mengatakan, pihaknya mendapat kabar bahwa ke-16 kepala keluarga yang eksodus ke Kabupaten Malang, Jawa Timur, merupakan jamaah Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin, pimpinan Khotimum.

Diberitakan Kantor Berita BBC News Indonesia, Kamis (14/3), Kepala Desa Watubonang Bowo Susetyo, menyebut bahwa Khotimun adalah warga asli Watubonang yang pernah menimba ilmu keagamaan di Ponpes Miftahul Falahil Mubtadin, Malang.

Sejak tahun 2010, Khotimun mengadakan berbagai kegiatan keagamaan seperti zikir dan salawatan di desa itu.

Bowo menyebut jumlah jamaah pengikut Thoriqoh Musa mencapai lebih dari 300 orang dan mereka melakukan kegiatan di sebuah aula yang dibangun jamaah pada tahun 2015.

Sejauh yang dia tahu, kata Bowo, ajaran-ajaran yang disampaikan Khotimun sama seperti ajaran Islam pada umumnya.

Beberapa bulan yang lalu, Bowo mengatakan, ibu Khotimun meninggal dan ia memutuskan untuk pindah ke Malang bersama istri dan anaknya. Perpindahan itu, kata Bowo, tidak disertai pemberitahuan ke pihak pemerintahan desa.

Bowo mengatakan, sejumlah pengikut Khotimun kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak sang guru ke Malang, tanpa kejelasan kapan mereka akan kembali.

"Kita tidak ada informasi kapan kembalinya warga kami. Pemerintahan desa pun menunggu-nunggu kepulangan mereka," kata Bowo.

Muhammad Zaitun, Wasekjen MUI Pusat, mengatakan menurut ajaran Islam tidak ada seorang pun yang tahu kapan kiamat akan terjadi.

Zaitun mengimbau warga untuk tidak mudah percaya terhadap hal-hal seperti itu.

"Kalau ada yang aneh-aneh jangan dipercaya dan jangan mudah percaya. Umat Islam harus rajin mendalami ajaran Islam. Ajaran ini mudah dipelajari dan kalau pengetahuan Islam itu merata, tidak akan mudah terjatuh pada paham seperti ini," ujarnya.

"Ajaran Islam sangat sesuai dengan akal sehat, dengan rasionalitas yang berdasar, sehingga hal-hal yang tidak rasional umumnya tidak sesuai dengan ajaran Islam," katanya.

Sementara itu, Ipong mengatakan, pemerintah kabupaten tengah melakukan sosialisasi ke warga yang diduga terpengaruh dokrin itu.

"Yang diduga terpengaruh tapi belum berangkat (kita sosialisasi) supaya nggak berangkat," kata Ipong. [ida]

Komentar Pembaca
'Lautan' Manusia di Pinggir Sungai Musi Saat Kampanye Prabowo
Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

RABU, 24 APRIL 2019 , 12:32:00

Mentan Memanggang Kopi

Mentan Memanggang Kopi

SELASA, 23 APRIL 2019 , 16:21:00