Sekanak ke Talang Semut: Ngindis Sebagai Wisata Edukatif

Arafah Pramasto SPd Pemerhati Kesejarahan Asal Palembang

OPINI  JUM'AT, 08 MARET 2019 , 15:11:00 WIB

Sekanak ke Talang Semut: Ngindis Sebagai Wisata Edukatif

Kantor Walikota Sekitar Tahun 1947-1950/Net

Setelah Palembang ditaklukkan Belanda pada tahun 1821, kota ini mengalami perubahan cukup berarti dengan puncaknya ketika pada awal abad ke-20 dijadikan Gemeente (Baca : Haminte / Kota Besar zaman Kolonial Belanda), berdasarkan undang-undang desentralisasi, desentralitatiewet, yang diberlakukan pada 1 April 1906.

Salah satu warisan

Zaman penjajahan itu secara historis dikenal dengan sebutan Indische Stijl atau disebut Gaya Indis/ Indies,[1] terutama pada seni gaya bangunan. Dua bangunan yang telah populer dikenal oleh publik tentu adalah gedung Museum Sultan Mahmud Badaruddin II serta gedung Waterleiding yang sekarang menjadi Kantor Walikota Palembang.

Selain keduanya, kota Palembang turut diwariskan peninggalan-peninggalan bangunan yang tersebar dari Jl. Sekanak hingga kawasan Talang Semut.

1. Balai Prajurit dan Eks-Gedung Pamong Praja

Pada bagian belakang Kantor Walikota Palembang terdapat Gedung Societeit yang kemudian dikenal sebagai Balai Prajurit Kodam II Sriwijaya dan Gedung Schouwburg, yakni sebuah balai pertemuan di belakang Societeit yang kelak dikenal sebagai Gedung Pamong Praja.

Keduanya dibangun pada tahun 1928 memakai gaya arsitektur Art Deco dengan ciri khasnya yaitu elemen dekoratif geometris pada dinding eksteriornya.[2]

Secara keseluruhan Societet dan Schouwburg dibangun dengan biaya 87.000 gulden yang manfaatnya hanya diperuntukkan untuk warga kota asing saja.[3] Buku Peringatan Lima Puluh Tahun Kota-Pradja Palembang juga menyebut bahwa buruknya praktik Haminte yang hanya mementingkan golongan penjajah, salah satunya ialah ketekoran kas melampaui 10%” untuk mendirikan kedua bangunan tersebut.[4]

Societiet dikenal juga dengan sebutan Kamar Bola” atau Rumah Bola” adalah tempat hiburan bagi orang-orang Belanda berdansa. Kamar Bola selain di seberang ilir juga terdapat di seberang ulu yaitu di kompleks Pertamina yang sekarang dikenal sebagai Gedung Patra Ogan.[5]

Gedung Pamong / Balai Pertemuan itu di awal tahun 2014 gedung ini diserahkan kepada pihak ketiga dan direnovasi dengan tidak merubah bentuk aslinya serta dijadikan restoran serta teater Kuto Besak (Kuto Besak Theater Restaurant-Pen).[6]

2. Gudang Jacobson Van Den Berg

Masih di Sekanak, tepat di seberang kanan bangunan Eks-Gedung Pamong Praja, berdiri sebuah bangunan kuno. Dalam sejarah perdagangan Hindia Belanda, terutama di era 1930-an, perusahaan-perusahaan dari golongan Belanda memang cukup banyak, tetapi yang cukup menonjol di tingkat nasional adalah apa yang dikenal dengan The Big Five yakni 1) Internatio, 2) Jacobson van den Berg (Jacoberg), 3) Borsumij, 4) Geowehrij, dan 5) Lindteves.[7]

Perusahaan Jacoberg didirikan di Den Haag pada 1 Juni 1860, sebagai sebuah firma ia mempunyai delapan cabang di Sumatera yaitu Medan, Sibolga, Padang, Bengkulu, Jambi, Palembang, Teluk Betung, dan Pangkal Pinang.[8] Sejak 1925"1926, agen-agen telah bertambah empat sampai lima lebih perusahaan dagang besar di Palembang, akibatnya muncul bangunan gudang-gudang perwakilan dagang Belanda dan Eropa sepanjang tepian Sungai Musi bagian ilir, mulai dari Sungai Rendang sampai Sungai Sekanak ; salah satunya (yang masih lestari sampai sekarang) ialah gudang Jacobson van den Berg, pemasok tekstil terbesar di Palembang.[9]

3. Eks-Museum Tekstil

Beralih dari Jacoberg, kita menuju peninggalan di luar Jl. Sekanak. Bangunan yang dahulunya berfungsi sebagai Museum Tekstil ini terletak di Jl. Merdeka No. 9. Di era Belanda, untuk keperluan transportasi ke arah sebelah ilir bagian barat dibuat Jalan Merdeka, dahulunya bernama Raadhuisweg, yang bersambung dengan Jalan Nassaulaan (sekarang Jalan Taman Talang Semut) sebagai penghubung pusat kota dengan komplek pemukiman Eropa di Talang Semut. Pembuatan jalan itu dilakukan dengan cara menimbun Sungai Kapuran dan melewati Sungai Sekanak.[10]

Sebagai aset daerah sekaligus bangunan cagar budaya, gedung ini merupakan peninggalan Kolonial Belanda yang dibangun tahun 1883.[11] Eksistensinya telah melintasi beberapa zaman, termasuk penggunaan / fungsinya. Bangunan ini diperuntukkan bagi tempat tinggal pejabat tinggi Belanda di Palembang setingkat residen tahun 1930-an. Pada 1961 dimanfaatkan sebagai kantor Inspektorat Kehakiman, berganti menjadi kantor Kejaksaan Tinggi. Terakhir, dijadikan Museum Tekstil sejak 5 November 2008.[12] Sayangnya bangunan ini terbengkalai selama beberapa tahun terakhir.

4. Gereja Siloam & Gereja Santa Maria

Setelah mengunjungi bangunan di Jl. Merdeka, kita beranjak ke kawasan Talang Semut yang sejak dahulu menjadi kawasan elit kota ini. Salah satu bangunan bersejarah yang masih mempertahankan bentuk lamanya adalah Gereja Siloam tempat peribadatan jemaat Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS).

Beralamat di Jl. Hang Tuah No. 23. Sejarah pendiriannya ialah tidak lepas dari keberadaan orang-orang Jawa beragama Kristen Protestan yang datang maupun tinggal di kota Palembang pada era kolonial. Gereja ini berdiri sejak tahun 1933,[13] tepatnya pada tanggal 13 Agustus tahun itu.[14]

Sebelum Perang Dunia II, Moeder Kerk (Gereja Induk) Gereja Siloam adalah De Gereformeerde Kerk van Palembang. Di masa itu ada beberapa pemeluk dari kalangan Jawa seperti Ny. Sumilah (bidan di RS Sungai Gerong), Notodihardjo (mantri jururawat), Sukasman, Kasnun, dan lainnya.

Sebelum Jepang datang, banyak pemeluknya yang pindah ke Jawa, jemaat ini bubar. Ketika Belanda kembali, pastorie gereja yang terletak di Regentesselaan ditempati oleh pendeta militer Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan (1949) dilakukan serah terima pada TNI, pastorie gereja yang diokupasi oleh Belanda dianggap sebagai rumah intansi militer karena ditempati oleh pendeta militer.[15]

Selain peningalan bercorak Protestan, Talang Semut juga memiliki bangunan Indis bercorak Katholik. Sejak tahun 1925 di Palembang telah ada pusat misi yang kelak menjadi sentrum pemeluk Katholik di Sumatera Selatan. Pada tanggal 1 Oktober 1941, berdirilah gereja Paroki Kathedral Santa Maria oleh Mgr. H.M. Mekkelholt,SCJ sebagai prefekturnya.

Beliau diangkat menjadi uskup Palembang oleh Paus Pius XII.[16] Sekarang, gereja ini terletak di Jl. Sutomo No. 4 Palembang.

Berdasarkan statistik hingga pertengahan tahun 1942, awal masa pendudukan Jepang, di Palembang terdapat 2.024 umat Katholik dari kalangan Eropa, ditambah 3.160 pemeluk Non-Eropa, 25 imam berkebangsaan Eropa, 15 Bruder Eropa, 92 suster Eropa dan 6 Non-Eropa, siswa-siswi sekolah-sekolah Katholik sebanyak 4.162, dengan 141 guru agama dan keilmuan umum.[17] Tidak hanya sejarahnya yang panjang, kita dapat membayangkan konstruksi fisik masa kolonial dari bentuk Gereja Santa Maria yang masih mempertahankan gaya Indis.

5. Ngindis, Wisata Edukatif

Penulis mengusulkan istilah ‘Ngindis’ sebagai aktifitas mengunjungi warisan-warisan sejarah bercorak Indis di Palembang sebagai ajang rekreasi bernilai edukasi. Ngindis memang perlu dijadikan trend, akan tetapi bukan sebatas mendatangi tempat-tempat tersebut demi mencari spot berpotret ria. Karena peninggalan-peninggalan di atas tidak sekadar bangunan-bangunan tua.

Ngindis sebaiknya dimulai dari lingkup terkecil masyarakat yakni keluarga, atau sedapat mungkin diadakan oleh sekolah-sekolah dasar, agar kesadaran atas manfaat sejarah dapat tumbuh sejak dini, sekaligus menanamkan urgensi dalam melestarikan serta menjaga bangunan-bangunan bersejarah sebagaimana dalam UU No. 5 Tahun 1992 Jo. UU No. 11 Tahun 2010 terutama mengenai :

Kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.”

Kegiatan ini dapat dikemas menjadi semacam study tour untuk membangkitkan historical thinking yang berguna bagi kehidupan masa kini, oleh karenanya mesti disertai pemaknaan seperti :

a. Membela Kesetaraan; hal ini dapat disampaikan ketika kita mengunjungi Balai Prajurit dan Eks-Gedung Pamong Praja (Societeit & Schouwburg) yang di masa Belanda adalah simbol diskriminasi kolonial dengan kebijakan rasismenya.

b. Semangat Kewirausahaan; gedung Jacoberg sebagai simbolisasi kuasa ekonomi bangsa asing seharusnya membangkitkan semangat kita agar berani memunculkan ide-ide baru dalam membangun ekonomi bangsa, walau dimulai dari taraf yang kecil.

c. Mensyukuri Kemerdekaan; fungsi masa silam Gedung Eks-Museum Tekstil

Sebagai tempat tinggal pejabat kolonial dapat menggambarkan betapa penjajahan pernah bercokol di bumi Palembang, maka kemerdekaan yang sudah kita peroleh semestinya selalu kita pelihara.

d. Toleransi pada Sesama; Gereja Siloam dan Santa Maria merupakan bukti bahwa kebhinekaan telah ada bahkan sebelum era kemerdekaan. Para pemeluk Kristiani (Protestan maupun Katholik) di masa itu juga terdiri dari unsur-unsur anak bangsa.

Maka toleransi tetap harus diamalkan setelah Belanda hengkang dari tanah ini. Peninggalan-peninggalan Indis yang tersebar dari Jl. Sekanak hingga ke Talang Semut adalah bukti bahwa sejarah dapat dilestarikan tidak sebatas menghafal ; ia masih bisa kita nikmati” fisiknya, tetapi juga mengajak kita untuk merawat sembari merenung menggapai pemaknaan demi hari esok yang (lebih) cemerlang.

Sumber :

1. Soekiman, Djoko, Indis : Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, Jakarta : Komunitas Bambu, 2011. Hlm. 3.

2. Tim Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah
Arkeologi ke-X, Yogyakarta, 26-30 September 2005, Jakarta : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2008. Hlm. 317.

3. Irwanto, Dedi, Venesia Dari Timur: Memaknai Produksi Dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial, Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2010. Hlm. 129.

4. Pemerintah Kotapradja Palembang, Lima Puluh Tahun Kota-Pradja Palembang, Palembang : Rhama Publishing House, 1965. Hlm. 101.

5. Faranita, Desy Agustina, "Arsitektur Renaissence dan Arsitektur Gothic", Makalah Sejarah Teknik Arsitektur 2 Universitas Sriwijaya Tahun Ajaran 2011-2012. Hlm. 5.

6. Wargadalem, Farida R., Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Peninggalan Belanda di Kota Palembang”, dimuat Beritapagi.co.id tanggal 18 Februari 2018.

7. Fuady, Munir, Perseroan Terbatas : Paradigma Baru , Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2003. Hlm. 38.

8. Adi, Windoro, Batavia 1740 : Menyisir Jejak Betawi , Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2013. Hlm. 114.

9. Irwanto, Dedi, Venesia Dari Timur: Memaknai Produksi Dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial, Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2010. Hlm. 60.

10. Ibid. Hlm. 46

11. Leonardo, Iwan Victor, Museum Tekstil Palembang, Bangunan Sejarah Jadi Hotel ?”, dipublikasi www.djkn.kemenkeu.go.id tanggal 27 Juni 2011.

12. Wargadalem, Farida R., Pelestarian Bangunan Cagar Budaya Peninggalan Belanda di Kota Palembang”, dimuat Beritapagi.co.id tanggal 18 Februari 2018.

13. Korespondensi dengan Bapak Sutiyo selaku Pegawai Administrasi Gereja Siloam tanggal 6 Maret 2019.

14. Sejarah Gereja Siloam Palembang / White Church”, diposkan oleh
www.palembangdalamsketsa.com 16 Mei 2012.

15. Tim, Peringatan 20 Tahun Gereja Kristen Palembang Siloam”, Palembang : Gereja Kristen Palembang Siloam”, 1977. Hlm. 11.

16. Uskup KaPal : Katedral Bukan Hanya Gedung Melainkan Iman” dalam Tribun Sumsel.com 16 Februari 2017.

17. Steenbrink, Karel, Catholics in Indoensia, 1808-1942 : A Documented History.

Komentar Pembaca
Ilya Yefimovich Repin

Ilya Yefimovich Repin

RABU, 14 AGUSTUS 2019

In Memoriam P Swantoro; Selamat Jalan Guru Besar Wartawan Indonesia,
Kelirumologi Debat Capres

Kelirumologi Debat Capres

MINGGU, 11 AGUSTUS 2019

Menyongsong Kebebasan di Saudi Arabia

Menyongsong Kebebasan di Saudi Arabia

SABTU, 10 AGUSTUS 2019

Sumber Utama Kehidupan

Sumber Utama Kehidupan

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019

Kemesraan Panda dan Beruang

Kemesraan Panda dan Beruang

MINGGU, 04 AGUSTUS 2019

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

JAPFA Bantu Korban Banjir

JAPFA Bantu Korban Banjir

SELASA, 25 JUNI 2019 , 11:30:00

Jelang Putusan MK, JK Temui SBY..

Jelang Putusan MK, JK Temui SBY..

RABU, 26 JUNI 2019 , 17:10:00

Audiensi Panglima dan Wasekjen PBB

Audiensi Panglima dan Wasekjen PBB

SELASA, 25 JUNI 2019 , 23:44:00