Inilah Penyebab Obesitas Titi Wati

Lifestyle  SENIN, 14 JANUARI 2019 , 11:30:00 WIB

Inilah Penyebab Obesitas Titi Wati
SOROTAN kamera bergantian membidik Titi Wati (37) dengan tubuh besarnya. Pejabat hingga warga biasa, silih berganti mendatangi rumah kontrakan di Jalan G Obos XXV Palangka Raya itu. Titi jadi perbincangan hangat hingga seantero Nusantara dalam sepekan ini.

Bobot wanita yang dulunya seksi itu melebihi batas normal. Selama enam tahun lebih dia tak bisa berjalan karena berat badannya yang mencapai ratusan kilogram. Penyakit yang menimpanya merupakan fenomena langka.

Secara medis, penyebab tubuhnya berubah menjadi ”raksasa” masih menjadi misteri. Namun, dari keterangan wanita yang menghabiskan hari-harinya dengan tengkurap itu, kemungkinan paling besar adalah dari pola makannya.

Dulu, saat bobot badannya masih ideal, Titi sering ngemil gorengan. Porsinya lebih banyak dibandingkan makan nasi. Pola makan itu disertai dengan sering minum es. ”Dulu pernah juga mengonsumsi herbal,” tuturnya seperti diberitakan JPNN, Januari (14/1).

Tubuh Titi Wati mulai berubah ketika dia menginjak usia 29 tahun. Berat badannya terus bertambah. Kian melar. Hingga terakhir dia melakukan timbang badan pada 2013 lalu mencapai 167 kilogram. Bobotnya naik berkali lipat.

Tak adanya pemeriksaan kesehatan membuat kondisi Titi Wati tak bisa ditangani secara medis. Tiap tahun dia terus bertambah berat.

Padahal, pola makannya yang sering ngemil gorengan sudah dikurangi. Hingga kini dia tercatat memiliki berat 220 kilogram.

Secara teori, Kepala Departemen Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya I Nyoman Sri Yuliani menjelaskan, apa yang terjadi pada Titi Wati bisa dialami siapa saja. Dari pandangan medis, Titi Wati mengalami obesitas, kondisi kronis akibat penumpukan lemak dalam tubuh yang sangat tinggi.

Menurut Sri, hal itu terjadi karena asupan kalori yang lebih banyak dibanding aktivitas membakar kalori, sehingga kalori yang berlebih menumpuk dalam bentuk lemak. Kondisi tersebut akan menambah berat badan hingga mengalami obesitas.

Penumpukan lemak tubuh meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius, seperti penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi. Di sisi lain, lanjutnya, obesitas juga dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup dan masalah psikologi, seperti kurang percaya diri hingga depresi.

”Obesitas juga dipicu perubahan gaya hidup. Asupan nutrisi yang semakin banyak dari makanan olahan atau diet dengan tinggi kalori,” katanya.

”Penyebab obesitas itu banyak. Pola makan salah dan aktivitas fisik yang kurang. Bisa juga dari faktor genetik. Artinya, keturunan dari orang tua. Termasuk ada gangguan hormon atau sedang menjalani terapi pengobatan yang bisa membuat terjadinya obesitas,” tambahnya lagi.

Di Indonesia, tutur Sri, orang dewasa yang mengalami obesitas diperkirakan semakin meningkat. Paling banyak dialami wanita. Obesitas bisa pula terkait dengan peningkatan jumlah kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, serta beberapa penyakit kanker.

”Artinya, ada penyakit penyertanya. Biasa dikatakan bahwa obesitas mempengaruhi seluruh organ tubuh dan metabolisme dalam tubuh. Jadi, jika obesitas dan tidak ditangani, akan memengaruhi organ vital, seperti jantung dan paru serta ginjal dan pankreas,” katanya.

Penanganan obesitas, jelas Sri, ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang normal dan sehat. Perlu dilakukan perubahan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik pada penderitanya.

Selain itu, lanjutnya, perubahan perilaku juga diperlukan untuk mengatasi masalah psikologis terkait berat badan melalui konseling dan support group.

Penurunan berat badan, meski dalam jumlah kecil dan mempertahankannya secara stabil, dapat mengurangi risiko mengalami komplikasi penyakit terkait obesitas.

”Penanganannya dilihat penyebabnya dulu. Kalau pola makan dan gaya hidup tak sehat, hal itu harus diubah. Pola makan harus seimbang dan tidak melebihi kebutuhan energinya. Hal utama harus ada aktivitas fisik berupa olahraga, seperti lari. Paling tidak dalam seminggu 150 menit olahraga,” tutur Sri.

Dalam kasus Titi Wati, Nyoman belum bisa menyimpulkan suksesnya penurunan bobot wanita itu. Penyebab utama tubuhnya melar juga masih ditelusuri melalui berbagai pemeriksaan medis.

”Dalam kasus Wati, dicurigai memang dari pola makan yang tidak teratur dan berlebihan hingga obesitas. Tapi, telusuri terlebih dahulu pemeriksaan penunjang. Apakah ada pemicu lain atau tidak. Misalnya, ada kanker atau gangguan hormon lain,” katanya.

Mengenai pengakuan Titi Wati yang sering minum air es dan gorengan, menurut Sri, apabila hanya air es tanpa gula tidak akan berpengaruh, termasuk memakan gorengan.

”Kalau diberi gula baru bisa. Apalagi minumnya sampai lima gelas dan gorenganya berpuluh-puluh. Itu bisa jadi obesitas. Pokoknya kelebihan kalori. Obesitas bisa terjadi karena gaya hidup yang modern dan tergantung pada pola makan cepat saji,” ujarnya.

Sri mengatakan, untuk mencegah obesitas bisa dilakukan dengan memperhatikan pola makan dengan protein dan lemak yang seimbang. Selain itu, memperbanyak mengomsumsi makanan yang mengandung serat maupun buah. ”Serat itu dari sayuran, buah, dan agar-agar,” katanya.

Sri menambahkan, operasi bedah bariatrik terhadap Titi Wati sangat tepat digunakan untuk mengecilkan volume lambung. Hal itu berfungsi mengurangi asupan makanan yang masuk yang berdampak pada penurunan berat badan. ”Itu dilakukan bertahap. Jadi, tidak bisa langsung turun drastis setelah operasi,” tandasnya. [ida]

Komentar Pembaca
Asap Membumbung Tinggi Radius 2 KM

Asap Membumbung Tinggi Radius 2 KM

JUM'AT, 20 SEPTEMBER 2019 , 15:20:00

Mahasiswa Demo, Sejumlah Akses Jalan Palembang Macet Parah
Presiden RI-Wakil Presiden RI

Presiden RI-Wakil Presiden RI

JUM'AT, 18 OKTOBER 2019 , 09:37:00