Rizka Juarai Lomba Superhero Internasional

On The Spot  SABTU, 12 JANUARI 2019 , 17:05:00 WIB | LAPORAN: ROSYIDAH ROZALI

Rizka Juarai Lomba Superhero Internasional
RMOLSumsel. Rizka Rizka Raisa Fatimah Ramli (17) adalah gadis asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dia jago menggambar. Kegemaran menggambar itu tumbuh setelah dirinya dipermalukan saat menjadi siswa baru di SMA.

Saya lebih nyaman speak up lewat gambar. Kalau berhadapan langsung dengan orang lain, apalagi dengan yang tidak dekat, sulit sekali ngomong. Dengan gambar saya merasa lebih bebas bereskpresi,” kata Rizka seperti diberitakan VOA Indonesia, Sabtu (12/1).

Pengalaman buruk dan hobi menggambar yang telah ditekuninya sejak kelas tiga sekolah dasar inilah yang membawa perempuan tahun akhir SMA tersebut, masuk ke sebuah pengalaman baru yang tidak dia duga.

Oktober 2018 lalu, Rizka mengikuti kontes komik superhero yang diadakan badan kesejahteraan dan pendidikan anak Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), UNICEF dan Comics Uniting Nations.

Dalam lomba ini anak di seluruh dunia diminta membuat komik dengan fokus cerita karakter superhero yang bisa mengalahkan tokoh jahat, yang selalu membungkam anak-anak yang ingin berbicara melawan kekerasan di sekolah.

Rizka menciptakan dan mengirimkan karakter superhero bernama ‘Cipta’, yang kemudian dipilih UNICEF sebagai juara, mengalahkan lebih 3.600 karya dari sekitar 130 negara di dunia.

‘Cipta’ memenangkan 23.000 suara yang ikut memberikan voting di situs internet. Cipta yang dibuat Rizka memiliki kekuatan super menghidupkan dan mengontrol benda-benda yang digambar di buku sketsa ajaibnya.

Buku tersebut diberikan Cipta kepada anak-anak yang takut bersuara melawan kekerasan di sekolah.

Selain berdasarkan pengalaman pribadinya, karakter superhero ini dibuat Rizka dengan mengambil inspirasi dari berbagai karakter kartun idolanya: di antaranya Velma dari Scooby Doo, Dora the Explorer serta Chara dan Frisk.

Inspirasinya berasal dari banyak sumber. Dari kecil saya suka main game, baca komik. Semua ingatan itu bergabung menjadi satu. Semuanya tercampur aduk,” tutur Rizka.

Rizka merasa anak-anak seusianya butuh inspirasi. Terutama mereka yang seperti dirinya, yang suaranya jarang didengar atau terpaksa diam.

Kan nggak semua anak jago bicara. Ada anak pemalu, merasa nggak nyaman ngomong langsung. Mesti ada acara lain di mana mereka tak harus ngomong secara verbal.

Mereka bisa menggunakan berbagai macam media. Misalnya Cipta, dengan mengungkapkan perasaan lewat menggambar itu salah satu cara buat dia speak up setidaknya untuk dia sendiri.”

Perisakan menjadi fokus berbagai lembaga pendidikan belakangan ini.

Berdasarkan data UNICEF, 21% pelajar Indonesia berusia 13-15 tahun pernah mengalami kekerasan di sekolah dan lingkungan sekitar rumah. [ida]

Komentar Pembaca
Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

RABU, 24 APRIL 2019 , 12:32:00

Hermanto Wijaya Mualaf

Hermanto Wijaya Mualaf

JUM'AT, 03 MEI 2019 , 14:45:00

Mentan Memanggang Kopi

Mentan Memanggang Kopi

SELASA, 23 APRIL 2019 , 16:21:00