Protes Pemerintah, Massa Aksi Telanjang Dada

Demo di Prancis

Politik  SENIN, 17 DESEMBER 2018 , 10:40:00 WIB

Protes Pemerintah, Massa Aksi Telanjang Dada

net

RMOLSumsel. Prancis masih bergejolak. Sudah lima pekan ribuan massa rompi kuning turun ke jalanan, memprotes Presiden Emmanuel Macron. Selain rompi kuning, pekan ini juga ada aksi bertelanjang dada.

Dilansir Reuters, Sabtu (15/12), meski jumlahnya tak sebesar pekan-pekan sebelumnya, ribuan warga Prancis kembali turun ke jalanan Kota Paris. Sempat terjadi bentrokan singkat antara massa dengan polisi anti huru-hara di dekat Champs-Elysees. Gas air mata menyerbu ke arah para demonstran.

Tak jauh dari lokasi bentrokan, sejumlah aktivis wanita yang diduga dari kelompok feminis, Femen, bertelanjang dada. Mereka berhadap-hadapan langsung dengan petugas keamanan di area sekitar Elysee Palace atau Istana Kepresidenan Prancis.

Aktivis perempuan ini hanya berlima. ksi teatrikal telanjang dada ini diberi judul Acte 5: Macron Demission atau Act 5: Pengunduran Diri Macron. Berkerudung merah marun, tubuh dan wajah mereka ditutupi dengan cat perak serta perunggu. Gaya berpakaian mereka mirip Marianne, perempuan yang merupakan simbol kebebasan Republik Prancis.

Ada yang menyebut lima perempuan tersebut adalah aktivis dari kelompok Femen. Namun, seorang wartawan Prancis membantahnya. Dia telah menghubungi pendiri gerakan, Inna Shevchenko, yang menyatakan bahwa perempuan bertelanjang dada ini bukan Femen. Aksi ini adalah pertunjukan seniman biasa dari Deborah de Robertis, yang pertama kali mendapat perhatian media saat dia mengekspos alat kelaminnya di Museum Musée d'Orsay tahun 2014.

Untuk mengingatkan, gerakan massa rompi kuning dimulai pertengahan November. Awalnya, protes kecil terjadi di persimpangan jalan-jalan Prancis untuk menentang kenaikan tarif BBM dan pajak lainnya. Lambat laun, gerakan ini meluas dan menjadi demonstrasi nasional menentang kebijakan ekonomi Macron.

Awal pekan lalu, Macron mengumumkan kenaikan upah minimum bagi para pekerja dan pemotongan pajak untuk pensiunan. Pengumuman ini diharapkan bisa meredam aksi protes.

Sementara, serangan maut kembali terjadi di pasar Natal Strasbourg, Selasa (11/12) yang menewaskan 4 orang. Karena kejadian ini, pemerintah Prancis dan politikus oposisi serta sejumlah serikat pekerja menyerukan kepada massa rompi kuning menahan diri turun ke jalanan, Sabtu (15/12). Namun, seruan ini tidak manjur.

Loic Bollay (44), seorang demonstran rompi kuning yang beraksi di Champs-Elysees mengakui, aksi protes pekan ini sedikit berkurang dibanding pekan sebelumnya. Meski demikian, dia yakin, aksi akan terus berlanjut hingga tuntutan demonstran ditanggapi pemerintah Prancis. "Sejak serangan Strasbourg, suasananya jauh lebih tenang, tapi saya pikir Sabtu pekan depan dan Sabtu selanjutnya lagi, semuanya akan kembali besar," ucapnya.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan, ada 69 ribu personel kepolisian dikerahkan untuk mengamankan aksi protes, Sabtu (15/12) kemarin. Selain di Paris, aparat juga disebar di kota-kota seperti Toulouse, Bordeaux dan Saint-Etiene. Bentrokan antara massa rompi kuning dan polisi juga terjadi di Nantes Prancis Barat dan bagian selatan Bordeaux dan Toulouse.

Berdasarkan catatan, ada 16 ribu demonstran ikut aksi di berbagai kota di Prancis, kemarin. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibanding aksi 8 Desember lalu yang mencapai 22 ribu orang. Sudah ada 85 demonstran yang ditangkap.

Terpisah, aksi unjuk rasa massa rompi kuning di Prancis menginspirasi warga Israel melakukan aksi yang sama di negaranya. Aksi ini dipicu oleh kemarahan warga atas meningkatnya biaya hidup serta kenaikan harga pelayanan dasar. Massa rompi kuning Israel turun ke sejumlah jalan di Tel Aviv, Sabtu (15/12). Ratusan warga ini memblokir persimpangan Azrieli dan jalan dekat pusat kota, mereka menuduh pemerintah telah 'merampok' rakyat.

Dalam aksi tersebut, kepolisian setempat menangkap 10 orang karena diduga menjadi provokator karena berhasil melumpuhkan kota. David Mizrahi, salah seorang aktivis Israel mengancam, Rompi Kuning Israel akan menurunkan 10 ribu orang pekan depan dengan aksi yang lebih besar.[sri]



Komentar Pembaca