Tidak Impor, Indonesia Sekarang Justru Ekspor Jagung

Ekonomi  RABU, 07 NOVEMBER 2018 , 10:59:00 WIB

Tidak Impor, Indonesia Sekarang Justru Ekspor Jagung
RMOLSumsel. Perlahan tapi pasti, Indonesia tidak lagi membutuhkan impor jagung untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebab produksi nasional memberi hasil memuaskan, bahkan sudah ekspor 372 ribu ton.

Demikian dikemukakan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, upaya pencapaian swasembada jagung dilakukan Kementan melalui Upaya Khusus (UPSUS) peningkatan produksi jagung dengan peningkatan indeks pertanaman lahan sawah, penanaman di lahan kering, integrasi jagung di lahan sawit dan lainnya. Selain itu dilakukan penanganan pasca panen serta membangun kemitraan antara petani dengan Gabungan Pengusaha Pakan Ternak (GPMT).

"Hasilnya, pemerintah mampu melakukan pengurangan impor jagung sejak 2016. Jika pada tahun 2015 total impor jagung 3,5 juta ton, selanjutnya tahun 2016 menurun menjadi 1,3 juta ton dan tahun 2017 ditekan lagi menjadi NOL impor jagung pakan ternak," ujar Amran di Jakarta seperti diberitakan Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (7/11).

Dia membeberkan bahwa kumulatif impor jagung pakan ternak yang disetop dari 2016 hingga 2018 adalah sebanyak 9,2 juta ton, dengan rincian 2016 menghemat tidak impor 2,2 juta ton, 2017 menghemat tidak impor 3,5 juta ton dan 2018 menghemat tidak impor 3,5 juta ton.  Bahkan tahun 2018 telah dilakukan ekspor 372 ribu ton.

Jika tidak ada program Upsus dan hanya dilakukan program yang biasa-biasa saja, Amran yakin Indonesia tahun 2018 dipastikan impor 3,87 juta ton, yaitu 3,5 juta ton impor yang telah di-NOL-kan ditambah 372 juta ton dari realisasi ekspor 2018.  Ini artinya Program Upsus Jagung selama tiga tahun bisa menghemat devisa sebesar 9,6 juta ton senilai Rp 31 triliun.

"Sejak tahun 2016-2018 sebagian pabrik pakan melakukan upaya-upaya rasionalisasi agar pakan bisa murah dengan mencampurkan gandum sebagai substitusi sebagian jagung," ungkapnya.

Adanya kenaikan nilai dolar sebesar Rp. 1.500 per 1 dolar AS, ungkap Amran, mengakibatkan para pabrik pakan melakukan rasionalisasi dengan menggantikan sebagian komponen bahan pakan semula dari gandum impor menjadi dari jagung lokal. Sehingga ijin impor gandum pakan sebanyak 200 ribu ton untuk pabrik pakan besar tidak direalisasikan, namun mereka menggantikannya dengan membeli jagung lokal.

Dampak pengalihan gandum ke jagung oleh pabrik pakan besar mengakibatkan jagung yang biasa diserap peternak kecil mandiri menjadi terserap oleh pabrik pakan besar.  Akibatnya pasokan jagung pakan ternak yang tersedia diserap seluruhnya oleh pabrik pakan besar. Dimana kebutuhan total jagung pakan 18 juta ton pertahun atau 1,5 juta ton per bulan, diantaranya untuk peternak kecil mandiri sebesar 2,64 juta ton pertahun atau 220 ribu perbulan.

Akibat selanjutnya adalah pada waktu tertentu peternak kecil tidak memperoleh pasokan. Kondisi inilah yang terjadi pada pertengahan Oktober hingga awal November 2018, dimana ketersediaan jagung bagi peternak kecil berkurang dan harganya menjadi naik tidak terjangkau.  Inilah yang membuat para peternak kecil protes berteriak menjerit.

Memperhatikan teriakan peternak kecil mandiri, pemerintah berupaya hadir menyelesaikan masalah yang ada dengan opsi impor jagung 50 hingga 100 ribu ton bagi peternak kecil sebagai tindakan jaga-jaga. Jumlah impor ini sangat kecil dibandingkan prestasi ekspor jagung 372.000 ton dan stop impor 3.5 juta ton tiap tahun.Jika harga jagung nasional turun, maka jagung eks impor tidak dikeluarkan ke pasar. [ida]

Komentar Pembaca
Wartawan Diselamatkan TNI

Wartawan Diselamatkan TNI

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 12:00:00

Prabowo Tenangkan Pendukung: Kekerasan Jangan Dibalas Kekerasan
Sampai Hari Raya

Sampai Hari Raya

KAMIS, 23 MEI 2019 , 10:00:00

'Lautan' Manusia di Pinggir Sungai Musi Saat Kampanye Prabowo
Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

RABU, 24 APRIL 2019 , 12:32:00

Mentan Memanggang Kopi

Mentan Memanggang Kopi

SELASA, 23 APRIL 2019 , 16:21:00