Di Seminar Majelis Khonghucu, Jimly Ngomong Begini...

Politik  MINGGU, 28 OKTOBER 2018 , 07:45:00 WIB

Di Seminar Majelis Khonghucu, Jimly Ngomong Begini...
RMOLSumsel.  Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengatakan, Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar yang harus dipandang dengan pluralisme, inklusivisme, universalisme, dan indentitas konstitusional.

Menurutnya Jimly, keempat cara pandang itu merupakan kesepakatan bersama dalam rangka mengorganisir negara dan bangsa ini.

"Itu disepakati bersama," ujar Jimly dalam seminar kebangsaan bertajuk 'Perkokoh Persatuan Bangsa dan Kerukunan Hidup Beragama dengan Menghormati Kebhinekaan' di Kelenteng Kong Miao, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur kemarin seperti diberitakan Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (28/10).

Seminar ini diselenggarakan oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN). Jimly pun menjelaskan satu persatu keempat pandangan kebangsaan tersebut.

Pertama pluralisme. Pluralisme Indonesia itu di atas pluralitas semua bangsa di dunia. Belum lagi Indonesia punya 17 ribu pulau dengan penduduk yang sangat padat.

"Nomor empat dibandingkan seluruh negara di dunia. Pluralisme itu suatu realitas yang kita miliki dan itulah kekuatan. Jangan dilihat jadi masalah, jadi tidak usah dilihat dari segi negatifnya karena itu kekuatan," ujarnya.

Kedua adalah inklusivisme. Menurut Jimly inklusivisme kebalikan dari ekslusivisme. Namun sayang, masyarakat Indonesia kata dia cenderung ekslusif. Pada kesehariannya kebanyakan masyarakat agak sungkan berkumpul dengan orang yang memiliki budaya berbeda. Padahal harusnya, di daerah-daerah pemukiman ada inklusivisme, yakni bercampur-baur.

"Itu yang terjadi di Amerika. Kita ini sendiri-sendiri, maka persepsi tentang kebenaran itu sendiri-sendiri. Maka harus ada langkah pambauran, penting sekali. Negara harus punya kebijakan untuk pembauran itu dengan sengaja. Inklusivisme ini kunci kemajuan peradaban masa depan. Jadi salah satu ciri bangsa berhasil kalau bangsa itu mengorganisasikan diri, sinergi dalam organisasi secara inklusif, urainya.

Sementara yang ketiga, lanjutnya, adalah universalisme yang beda dengan internasionalisme dan globalisasisme.

Menurut dia, dalam universalisme, Indonesia akan menemukan nilai-nilai universal yang sama antar umat manusia.

"Itu (universalisme) bisa datang dari luar, bisa datang dari kampung halaman sendiri. Artinya, dalam hidup ini pasti banyak perbedaan, tapi kalau di dalam ada persamaan, persamaan itulah yang menyatukan," jelasnya.

Diserukannya agar semua masyarakat Indonesia untuk menerapkan inklusivisme dan universalisme dalam kehidupan sehari-hari. Konkretnya adalah bekerjasama. Sebab, zaman sekarang bukanlah saatnya untuk bersaing.

"Bukan lagi menang kalah, sekarang ini zamannya sinergi, harus bekerjasama supaya sama-sama menang. Jadi universal values, nilai-nilai universal ada di semua agama," tekan Jimly.

Keempat, lanjutnya, adalah identitas konstitusional. Hal ini katanya sangat penting. Sebab, universalisme tanpa identitas bukanlah apa-apa. Identitas yang dimaksud oleh Jimly itu adalah Pancasila.

"Kita punya yang namanya constitution identity. Diantaranya nilai-nilai universal yang kita sepakati jadi indentitas, pembeda kita dari bangsa yang lain yaitu Pancasila," pungkas Jimly. [ida]

Komentar Pembaca
Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Jelang Putusan MK, JK Temui SBY..

Jelang Putusan MK, JK Temui SBY..

RABU, 26 JUNI 2019 , 17:10:00

JAPFA Bantu Korban Banjir

JAPFA Bantu Korban Banjir

SELASA, 25 JUNI 2019 , 11:30:00

Audiensi Panglima dan Wasekjen PBB

Audiensi Panglima dan Wasekjen PBB

SELASA, 25 JUNI 2019 , 23:44:00