Malangya..Etnis Rohingnya Hidup dalam Ketakutan

Investigasi  SENIN, 08 OKTOBER 2018 , 09:41:00 WIB | LAPORAN: ROSYIDAH ROZALI

Malangya..Etnis Rohingnya Hidup dalam Ketakutan
RMOLSumsel. Di tengah tajamnya sorotan dunia terhadap diskriminasi yang dialami etnis Rohingnya, Pemerintah Myanmar tidak sedikitpun menunjkkan perbaikan sikap. Hingga kini etnis Rohingya hidup dalam ketakutan, tidak bisa bergerak bebas, bahkan tak dapat akses kesehatan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Kondisi itu ditemukan para pejabat  Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Program Pembangunan PBB (UNDP) baru-baru ini. Mereka melakukan penilaian pertama atas kondisi di bagian utara Negara Bagian Rakhine sejak eksodus massal pengungsi Muslim Rohingya ke Bangladesh lebih dari setahun lalu.

Dikutip dari Kantor Berita VOA Indonesia hari ini, Senin (8/10), Tim UNHCR dan UNDP mengunjungi lebih dari 26 desa di negara bagian Rakhine, Myanmar. Mereka mengatakan, tim bisa pergi ke mana saja dan bertemu siapa saja yang mereka inginkan.

Juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan fokus pertemuan mereka adalah mengetahui kondisi tempat tinggal orang-orang Rohingya dan kesulitan yang mereka hadapi.

Penilaian ini dilakukan terkait krisis yang terjadi tahun lalu. Jadi, jelas ada juga dampak pada bagaimana orang hidup dan semua orang yang ditemui tim menghadapi situasi yang sangat sulit, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup,” katanya.

Mahecic mengatakan orang-orang di Rakhine mengungkapkan ketidakmampuan mereka mencari nafkah dan mendapatkan layanan dasar, karena ruang gerak mereka dibatasi secara ketat. Ia mengatakan, perasaan tidak percaya, perasaan takut terhadap komunitas tetangga dan perasaan tidak aman banyak dijumpai di banyak daerah.

Perasaan takut dan perasaan tidak percaya berdampak pada akses ke pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar lain. Perasaan-perasaan itu juga membatasi interaksi antar komunitas, menghambat prospek untuk membangun rasa percaya dan kohesi sosial. Komunitas-komunitas yang kami kunjungi sering mengungkapkan tentang kesulitan mendapat layanan kesehatan serta pembatasan populasi Muslim dalam mengakses pendidikan,” tambah Mahecic.

UNHCR dan UNDP menandatangani Memorandum of Understanding �" MOU - atau Nota Kesepahaman, dengan Myanmar awal Juni lalu. MOU itu hendak menciptakan kondisi yang kondusif agar pengungsi Rohingya kembali dari Bangladesh secara sukarela, dengan aman, bermartabat dan berkelanjutan dan kembali berbaur dengan masyarakat di negara bagian Rakhine.

Atas dasar penilaian awal itu, Mahecic mengatakan, jelas bahwa tidak ada satu pun dari syarat-syarat itu yang dipenuhi. [ida]
Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

Ramai-ramai Tolak Pemilu Curang

RABU, 24 APRIL 2019 , 12:32:00

Hermanto Wijaya Mualaf

Hermanto Wijaya Mualaf

JUM'AT, 03 MEI 2019 , 14:45:00

Mentan Memanggang Kopi

Mentan Memanggang Kopi

SELASA, 23 APRIL 2019 , 16:21:00