Tembakau Alternatif Bisa Jadi Solusi Atasi Perokok

Lifestyle  RABU, 26 SEPTEMBER 2018 , 23:53:00 WIB | LAPORAN: RADEN MOHD. SOLEHIN

Tembakau Alternatif Bisa Jadi Solusi Atasi Perokok

rmolsumsel

RMOLSumsel. Tembakau alternatif masih menjadi persoalan yang hingga saat ini terus dibahas Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR). Bertempat di River Side Restaurant Palembang, KABAR Roadshow diadakan dengan melibatkan berbagai peneliti dari kalangan akademis, pemerhati kesehatan publik, dan pengamat hukum.

Dengan harapan, kegiatan hari ini, Kamis (26/9/18), dapat memberikan solusi dalam mengatasi masalah rokok khususnya di ibu kota provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) ini.

Salah satu narasumber dari Universitas Padjadjaran , Dr dr Ardini Raksanagara menyampaikan, perokok dan masyarakat luas perlu mendapat edukasi mengenai zat berbahaya yang terkandung dalam rokok, seperti TAR. Karena dengan pemahaman yang utuh, seseorang bisa termotivasi dan akhirnya berpartisipasi aktif dalam gerakan menurunkan penyakit akibat rokok.

Artinya, perokok seharusnya punya akses informasi terhadap fakta ilmiah dan penelitian yang kredibel, sehingga perokok paham apa perbedaan TAR dan nikotin yang terdapat dalam rokok termasuk langkah alternatif yang dapat membantu mengurangi risiko kesehatan, seperti melalui pendekatan pengurangan risiko yang terdapat pada produk tembakau alternatif.

"Kali ini kita mengangkat topik mengenai pengurangan risiko kesehatan akibat bahaya TAR dari rokok melalui produk tembakau alternatif. Karena bagi kami perokok perlu mendapatkan informasi ini," terang perempuan yang kesehariannya beraktifitas sebagai Dosen Fakultas Kedokteran dan Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia.

TAR merupakan zat berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran, termasuk pada saat rokok dibakar. Zat ini merupakan penyebab perokok kerap mengalami penyakit jantung, pernapasan, serta kanker. Sedangkan, nikotin adalah zat alami yang terdapat pada tembakau. Meskipun nikotin bukan penyebab penyakit akibat rokok, zat ini tidak bebas risiko dan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan ketergantungan. Selain pada rokok, nikotin juga terkandung dalam sayuran, seperti kembang kol, kentang, terung, dan tomat.

Tahun 2017, YPKP Indonesia melakukan penelitian untuk mengetahui perubahan sel pada mulut kelompok perokok aktif, pengguna rokok elektrik, dan non pengguna. Dan, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki jumlah inti sel kecil dalam kategori tinggi sebanyak 147,1.

Sedangkan, pengguna rokok elektrik dan non perokok masuk dalam kategori normal, yakni berkisar pada angka 70-80. Jumlah inti sel kecil yang semakin banyak menunjukkan adanya ketidakstabilan sel yang merupakan indikator terjadinya kanker di rongga mulut.

Mengacu pada hasil penelitian tersebut, ia memaparkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan dua kali lebih rendah dibandingkan dengan rokok. Sehingga dapat disimpulkan bahwa produk tembakau alternatif bisa menjadi salah satu solusi bagi perokok aktif yang ingin berhenti namun kesulitan dan akhirnya memilih untuk melakukannya secara bertahap dengan beralih ke produk tembakau yang memiliki risiko kesehatan lebih rendah.

"Jika kita bicara keamanan, memang rokok elektrik lebih aman. Tapi seberapa jauh tingkat keamanannya, ini yang masih menjadi pembahasannya," ulasnya.

Sementara itu, pengamat hukum Ariyo Bimmo, menyampaikan, jika diamati dari perspektif regulasi, menyatakan bahwa adanya penetapan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor PMK-146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau pada produk Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) yang terdiri dari rokok elektrik atau vape, molase tembakau, tembakau hirup, dan tembakau kunyah patut mendapatkan apresiasi yang tinggi.

"Melalui PMK yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan tersebut, produk tembakau alternatif sudah diakui legalitasnya. Ini adalah kemajuan yang baik bagi Pemerintah Indonesia," terangnya.

Ariyo menambahkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki potensi yang berlaku tidak hanya bagi perokok, tetapi juga bagi orang-orang terdekat yang berada di sekitar perokok agar terhindar dari penyakit akibat rokok.

Dengan jumlah pengguna produk tembakau alternatif yang semakin meningkat, yang berdasarkan data Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) pada tahun 2017 sudah mencapai lebih dari satu juta vapers, maka penting bagi pemerintah untuk memformulasikan regulasi produk tembakau alternatif yang sesuai dengan tingkat risiko dan profil produk ini, dengan mengacu pada kajian dan bukti ilmiah.

Karena apabila secara ilmiah produk tembakau alternatif terbukti memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok, maka sudah semestinya aturan pemerintah disesuaikan dan tidak seketat rokok.

"Pemerintah Indonesia bisa berkaca dari Pemerintah Inggris yang melihat potensi produk tembakau alternatif dari hasil penelitian ilmiah. Secara hukum, produk ini memiliki landasan yang cukup kuat untuk dirumuskan dalam sebuah regulasi. Oleh karena itu, penting untuk mulai dilihat dari sudut pandang tersebut dan melakukan penelitian komprehensif agar potensinya tidak sia-sia," ulasnya.[rhd]

Komentar Pembaca
Surat Pengunduran Alex dan Ishak

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 , 16:36:00

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 , 17:33:00

Aksi Solidaritas HMI Palembang

Aksi Solidaritas HMI Palembang

SENIN, 24 SEPTEMBER 2018 , 21:58:00