Ternyata Kebijakan Impor Merugikan Neraca Perdagangan

Ekonomi  MINGGU, 23 SEPTEMBER 2018 , 19:43:00 WIB

Ternyata Kebijakan Impor Merugikan Neraca Perdagangan

Ilustrasi/Net

RMOLSumsel. Ekonom senior Faisal Basri memberikan kritik tajam terhadap Kementerian Perdagangan yang disebut kebablasan dalam mengeluarkan kebijakan impor.

"Jadi seperti air bah sekarang (impornya)," katanya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (23/9).

Akibat derasnya impor, Faisal menyebutkan pola impor seperti itu merugikan neraca perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan berpengaruh pada neraca pembayaran yang akhirnya mempengaruhi nilai tukar rupiah.

Dia menilai, maraknya impor dari berbagai negara ke Indonesia utamanya disebabkan kebijakan yang dibuat Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

"Sebelum batasi (komoditas impor) tertibkan dulu kelakuan Pak Enggar. Yang tadinya ada rekomendasi, sekarang tidak ada rekomendasi," kritik Faisal.

Belakangan ini, Kemendag menjadi sorotan terkait derasnya impor terutama komoditas beras. Sejumlah pihak juga telah menyuarakan protes terhadap langkah kementerian yang dipimpin Enggartiasto Lukita tersebut dalam menambah stok beras dalam negeri.

Bulog menjadi salah satu pihak yang bersuara keras terhadap kebijakan Kemendag. Dirut Bulog Budi Waseso menegaskan bahwa stok beras dalam negeri dalam kondisi aman. Mengacu data Bulog, jumlah Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 18 September 2018 mencapai 2,24 juta ton, jauh di atas batas aman stok CBP sekitar 1-1,5 juta ton.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman enggan berkomentar soal kebijakan impor beras yang dikeluarkan Kemendag. Data yang dikeluarkan Ditjen Tanaman Pangan Kementan berdasarkan Aram I-2018, perkiraan luas panen padi Januari-Agustus mencapai 12,18 juta hektare dan prediksi luas panen September-Desember mencapai 3,82 juta hektare.

Sebelumnya, Amran menyampaikan optimismenya bahwa produksi beras tetap terjaga meski sedang musim kemarau. Amran mengakui, publik mungkin masih terjebak paradigma lama bahwa jika musim kering atau musim kemarau tidak ada produksi karena petani tidak menanam padi.

"sekarang ada paradigma baru dengan menggunakan teknologi baru kita meningkatkan tanam di musim kering yang biasanya 500 ribu hektare menjadi satu juta hektare, naik dua kali lipat pada saat musim kering. Saya ulangi, tanaman naik dua kali lipat pada musim kering karena itu target kita," papar Amran seperti diberitakan Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (23/9).[rik]

Komentar Pembaca
Surat Pengunduran Alex dan Ishak

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 , 16:36:00

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 , 17:33:00

Aksi Solidaritas HMI Palembang

Aksi Solidaritas HMI Palembang

SENIN, 24 SEPTEMBER 2018 , 21:58:00