Erick Thohir Dan Yusuf Mansyur Tertarik Pada SFC

Ragam  JUM'AT, 14 SEPTEMBER 2018 , 14:33:00 WIB | LAPORAN: YOSEP INDRA PRAJA

Erick Thohir Dan Yusuf Mansyur Tertarik Pada SFC

net

RMOLSumsel. Era sepakbola industri di Indonesia tampaknya sudah berada di depan mata. Hal inilah yang kini dipersiapkan klub sepakbola kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) Sriwijaya FC. Klub yang bermarkas di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang ini kini tengah dilirik investor besar.

Masuknya investor dipastikan akan membuat Sriwijaya FC menjadi salah satu klub yang kompetitif di liga Indonesia. Pengamat sepakbola nasional, Budiarto Sambazy mengatakan Laskar Wong Kito merupakan satu dari segelintir klub yang sudah layak go internasional.

Beberapa persyaratan klub profesional yang disyaratkan oleh Federasi sepakbola dunia (FIFA) dan asia (AFC) telah dipenuhi oleh Sriwijaya FC. Artinya, hal ini tidak hanya dilihat dari deretan prestasi yang telah diraih.

Belakangan muncul nama Erick Thohir dan Yusuf Mansyur yang mungkin bisa jadi investor bagi Skuad Jakabaring dalam waktu dekat. Orang-orang ini, menurut Budiarto bisa membawa perubahan yang signifikan untuk membawa Sriwijaya FC menuju ranah industri.

"Sepakbola kita sudah lama tinggalkan APBD, apalagi mau dijadikan BUMD. Itu tidak perlu dibahas lagi. Sekarang kita sedang menuju industri. Sriwijaya FC satu dari segelintir klub Indonesia yang siap untuk itu," ujarnya.

Dukungan stadion, suporter fanatik, pembinaan usia muda dan manajemen yang semakin profesional menjadi modal besar bagi Sriwijaya FC untuk maju dan bersaing secara global. Dengan kekuatan ini, investor tersebut tidak akan kesulitan lagi.

Sebab, sepakbola Indonesia, lanjut Budiarto memiliki pasar yang potensial bagi industri sepakbola. Menurutnya, Liga Indonesia memiliki jumlah penonton tebesar se Asia Tengggara dan bersaing di Asia. Beberapa klub besar bahkan telah melirih liga Indonesia.

Untuk sekedar melakukan pre season tour atau promosi. Lebih jauh, para pemain top dunia bahkan telah menjajal bermain di Indonesia yang menjadi rangsangan bagi pemain muda Indonesia untuk maju dan terus bersaing.

"Penggemar makin lama makin besar dan antusias, menuju kedepan akan sangat menjanjikan bagi pemain asing yang punya nama untuk datang bermain ke Indonesia. Termasuk pemain lokal yang harganya tentu meningkat," jelasnya.

Klub sepakbola tanpa APBD sendiri baru mencuat sekitar 2009-2011. Padahal sebelumnya, di tahun 2006, Kementerian Dalam Negeri sudah mengeluarkan peraturan No13/2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah. Dimana salah satu isinya adalah pelarangan penggunaan dana hibah dan bantuan sosial secara berulang setiap tahunnya. Sebab saat itu, Klub sepakbola yang dimiliki oleh beberapa Pemprov atau Pemkot/Pemkab di Indonesia menyusuā€¯ dari dana-dana seperti ini.

Penegasan tentang aturan ini secara spesifik, adalah dengan dikeluarkannya Permendagri No32/2011 yang secara gamblang melarang dana APBD digunakan oleh klub sepakbola oleh pemerintah daerah.

Sriwijaya FC telah memulai era profesionalnya pada 2009, sebelum aturan tersebut ditegaskan. Caranya dengan membentuk PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) yang sampai saat ini menaungi klub kebanggaan masyarakat Sumsel, Sriwijaya FC.

"Jadi, wacana untuk kembali ke BUMD atau diurusi lagi oleh Pemprov itu adalah langkah yang tidak tepat. Kita akan mundur dan tata kelola sepakbola yang disyaratkan oleh FIFA atau AFC itu akan kita langgar," kata Plt Dirut PT SOM, Muddai Madang, menanggapi hal ini.

Justru menurutnya, masuknya investor tidak akan menghilangkan entitas yang dimiliki oleh Sriwijaya FC sebagai klub asal Sumsel. Malah menurutnya, akan semakin meningkatkan citra Laskar Wong Kito dan masyarakat serta pendukungnya di mata nasional dan internasional.

Ia menyebut bisa saja di musim depan, setelah masuknya investor, pemain level dunia bermain untuk Sriwijaya FC. Seperti Essien yang musim lalu bermain untuk Persib Bandung. Tentu akan menjadi kebanggaan bagi seluruh stakeholder termasuk masyarakat.

"Jadi kita harus berorientasi kedepan, jangan terus-terusan di politisir. Sriwijaya FC ini klub besar, tetap menjadi kebanggaan Sumsel yang dikelola oleh orang yang lebih profesional dan bisa membawa kita maju," jelasnya.

Mengenai nama, Muddai memang belum mau secara gamblang membuka siapa yang telah siap menanamkan dana besarnya ke Sriwijaya FC. Namun ia memastikan, orang tersebut merupakan profesional di dunia sepakbola dan sangat berpengalaman untuk itu.

Dengan kapasitas yang dimilikinya, Erick Thohir bisa jadi orang yang tepat untuk membawa Sriwijaya FC lebih maju mulai saat ini hingga kedepan. Maklum, Muddai dan Erick baru saja bekerja sama menyukseskan Asian Games dan sama-sama berada di struktur kepanitiaan nasional (INASGOC).

Oleh sebab itu, suksesnya Asian Games, stabilitas keamanan dan ekonomi  yang harus terus dijaga, kata Muddai diharapkan bisa mendatangkan investor tersebut dalam waktu dekat. "Kita berharap dukungan semua pihak, tentunya juga gubernur terpilih nanti," tukasnya. [rhd]



Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.162): Pilpres Atau Adu Jangkrik?

BENANG MERAH (EPS.162): Pilpres Atau Adu Jangkrik?

JUM'AT, 16 NOVEMBER 2018 , 19:00:00

Ma

Ma"ruf Amin Dilaporkan Ke Bawaslu

JUM'AT, 16 NOVEMBER 2018 , 13:00:00

Terduga Pembantai Keluarga Nainggolan Ditangkap

Terduga Pembantai Keluarga Nainggolan Ditangkap

KAMIS, 15 NOVEMBER 2018 , 15:00:00

Rekor Meriam Bambu Terbanyak

Rekor Meriam Bambu Terbanyak

MINGGU, 28 OKTOBER 2018 , 16:56:00

Silaturahmi Ke Rumah Haji Halim

Silaturahmi Ke Rumah Haji Halim

SELASA, 06 NOVEMBER 2018 , 17:33:00

Aksi Solidaritas HMI Palembang

Aksi Solidaritas HMI Palembang

SENIN, 24 SEPTEMBER 2018 , 21:58:00