Kekuatan Jokowi dan Prabowo Berimbang, Ini Penjelasan Pengamat

Politik  JUM'AT, 10 AGUSTUS 2018 , 19:26:00 WIB | LAPORAN: SUHARDI

Kekuatan Jokowi dan Prabowo Berimbang, Ini Penjelasan Pengamat

Jokowi-Prabowo/NET

RMOLSumsel. Peta politik kekuatan kedua calon presiden/calon wakil presiden (Capres/Cawapres) RI 2019 antara Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan penantangnya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno diprediksi berimbang.

Pengamat Politik Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda (STIHPADA), Firman Fready Busroh menilai kedua pasangan calon capres/cawapres tersebut memiliki kekuatan yang sama meskipun Jokowi merupakan capres petahana.

Menurut Firman, pemilihan presiden tahun depan merupakan pertarungan ideologi antara ideologi nasionalis-agamis yang merupakan perpaduan Jokowi-Ma'ruf sedangkan Prabowo -Sandiaga perpaduan nasionalis-birokrasi.

"Jadi kita disini melihat seperti ada pertarungan ideologi, yang satu nasionalis-agamis, yang satunya nasionalis - birokratis. Dan pertarungan ini akan keras, karena masyarakat terbagi dua golongan, dan jangan sampai ini terbelah," kata Firman kepada RMOLSumsel, Jumat (10/8).

Firman mengatakan, meski pasangan Prabowo-Sandiaga merupakan penantang petahana namun tak bisa  dianggap enteng. Firman mengatakan, Prabowo yang sudah berpengalaman maju di pilpres beberapa kali tentunya memiliki strategi yang matang untuk merebut kemenangan dari petahana.

"Politik 2019 ini akan sengit, yang satu jelas incumbent, yang satu sudah berkali-kali maju. Tetapi jangan anggap remeh, karena isu pergantian rezim itu sangat kuat. Makanya walaupun posisinya incumbent agak getir juga, kalau salah dalam langkah politik bisa kalah. Kalau melihat posisi isu seperti ini sama-sama kuat," jelasnya.

Lebih lanjut, kata Firman partai politik koalisi juga berpengaruh besar pada perolehan suara pasangan capres/cawapres. Karena mesin partai sampai saat ini memiliki peran penting dalam meraup suara. Namun andai terjadi, perpecahan didalam partai koalisi tentu akan merugikan pasangan capres/cawapres yang diusung.

"Andai terjadi perpecahan dalam partai koalisinya, hal itu akan merugikan pasangan calon, karena bisa saja walaupun sudah kesepakatan antar parpol koalisi dengan rentan waktu yang panjang bisa saja perpecahan koalisi terjadi. Nah partai koalisi harus solid sampai di tingkat daerah," pungkas Firman. [sri]



Komentar Pembaca
Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

SABTU, 18 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Rachmawati: Vivere Pericoloso

Rachmawati: Vivere Pericoloso

JUM'AT, 17 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

#VLOGNEWS: Upacara di UBK, Prabowo Dapat Star of Soekarno
Tolak Hasil Pilkada

Tolak Hasil Pilkada

KAMIS, 28 JUNI 2018 , 22:45:00

Berikan Pernyataan Perdana

Berikan Pernyataan Perdana

RABU, 27 JUNI 2018 , 23:22:00

Massa Minta PSU Pilgub Sumsel 2018

Massa Minta PSU Pilgub Sumsel 2018

JUM'AT, 06 JULI 2018 , 18:37:00