Dolar AS Makin Perkasa, Pekerja Rentan Kena PHK

Politik  SENIN, 02 JULI 2018 , 09:25:00 WIB

Dolar AS Makin Perkasa, Pekerja Rentan Kena PHK

NET

RMOLSumsel. Rupiah masih rentan melemah hingga ke level Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah disarankan mengeluarkan paket kebijakan untuk mengerem pelemahan.

Ekonom Institute for De­velopment of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhis­tira Adinegara menilai, langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dari sebelumnya 4,75 persen, belum cukup menahan sentimen global.

"Efek kenaikan suku bunga (menguatkan rupiah) bersifat temporer. Sementara sentimen global (tekanannya) jauh lebih besar. Melihat perkembangan ekonomi dunia, bukan hal yang tidak mungkin rupiah terus me­lemah ke level Rp 15 ribu," kata Bhima, kepada Kantor Berita Politik RMOL, kemarin.

Bhima menuturkan, pasca BI menaikkan suku bunga, penguatan rupiah masih dibawah ekspektasi. Pada Jumat (29/06), nilai tukar rupiah masih nang­kring di level 14.325. Menurut Bhima, kecilnya penguatan terse­but tidak memberikan banyak pengaruh terhadap kinerja dunia usaha. Sebaliknya, Bhima kha­watir kenaikan suku bunga tersebut malah akan memicu kontraksi pada sektor riil.

"Kalau cost of borrowing alias biaya pinjaman naik, pengusaha semua sektor akan lebih memilih melakukan aneka efisiensi untuk tekan biaya produksi. Karena, saat ini mereka tidak mungkin menaikan harga jual (produk) karena daya beli sedang lesu," papar Bhima.

Bhima mewanti-wanti po­tensi pelaku usaha mengambil langkah efisiensi dalam bentu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Hal itu rentan dilakukan pengusaha bila nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan.

Saat ditanya mengenai pro­gram pemerintah mengembang­kan industri subtitusi bahan baku impor, Bhima melihat, belum berjalan efektif. Hal itu bisa dilihat dari ketergntungan impor bahan baku industri farmasi.

Dia menjelaskan, Indonesia memiliki beragam tumbuhan obat. Tetapi sampai saat ini, in­dustri farmasi masih mengandal­kan bahan baku impor. "Dengan struktur industri kita yang masih bergantung impor, pelemahan rupiah akan memukul ekonomi." Kata Bhima.

Bhima menyarankan, pemerintah untuk membuat paket kebijakan untuk menjaga stabili­tas rupiah. Menurutnya, saat ini diperlukan kombinasi kebijakan. Tidak hanya kebijakan moneter tetapi juga fiskal.

Misalnya, membuat paket tentang stabilisasi kurs dengan perbanyak insentif bagi sektory­ang bisa menguatan devisa. "Jadi bentuknya harus lintas sektoral sehingga dampak ke penguatan rupiah bisa langsung terasa," imbuhnya.

Apindo Apresiasi BI

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Industri Johnny Darmawan mengapresiasi langkah BI me­naikkan suku bunga meskipun dampaknya belum bisa dirasa­kan dalam waktu dekat ini.

"Apakah keputusan BI telat? Saya kira tidak. Itu (suku bunga) dapat mencegah agar rupiah menyentuh Rp 15 ribu. Karena kalau sampai ke posisi itu (15 ribu), akan mengancam industri kita,"  kata Johnny.

Johnny berharap, pemerintah juga mengambil langkah-lang­kah untuk menguatkan funda­mental perekonomian. Antara lain, meningkatkan insentif untuk para investor.
 
Jhonny mengakui, fluktuasi rupiah mempengaruhi kinerja in­dustri. Para pengusaha wait and see, tidak menggenjot produksi karena bahan baku berasal dari impor. Kehati-hatian juga di­lakukan pelaku usaha mempertimbangkan masalah daya beli di dalam negeri yang masih lemah. [sri]




Komentar Pembaca
Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

Chappy Hakim - Tanah Air Udara ( Part1/1 )

RABU, 14 AGUSTUS 2019 , 18:32:35

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

Setelah Rekonsiliasi, Apa Buat Rakyat?

JUM'AT, 09 AGUSTUS 2019 , 20:57:59

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

PLN, Mafia Dan Kontrak Bawah Tanah

KAMIS, 08 AGUSTUS 2019 , 20:02:09

Jelang Putusan MK, JK Temui SBY..

Jelang Putusan MK, JK Temui SBY..

RABU, 26 JUNI 2019 , 17:10:00

JAPFA Bantu Korban Banjir

JAPFA Bantu Korban Banjir

SELASA, 25 JUNI 2019 , 11:30:00

Audiensi Panglima dan Wasekjen PBB

Audiensi Panglima dan Wasekjen PBB

SELASA, 25 JUNI 2019 , 23:44:00