Anda Tahu Rumah Ulu, Begini Ceritanya Dulu

Budaya  SABTU, 14 APRIL 2018 , 10:45:00 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD WIWIN

Anda Tahu Rumah Ulu, Begini Ceritanya Dulu

Rumah Ulu/rmolsumsel

RMOL. Rumah Ulu, jika masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) mendengar kata tersebut, langsung terbesit sebuah bangunan yang terbuat dari kayu serta tiang-tiang besar penyanggah dengan gagahnya menopang bangunan yang dilengkapi ukiran-ukiran tangan para leluhur di wilayah berjuluk Bumi Sebimbing Sekundang tersebut.

Namun seiring berjalannya pergantian zaman, rumah ulu seolah bukan lagi menjadi kebanggaan suatu desa.

Dulu, siapa saja yang tinggal di rumah ulu pasti orang yang hebat, setidaknya bergelar pangeran dan pejabat di zaman itu.

Setidaknya, kini masih ada beberapa rumah adat tua di OKU ini yang masih bisa dijumpai warga. Namun jumlah tersebut tidak lebih dari 10 rumah, itupun hanya ada beberapa rumah yang bangunannya masih bentuk aslinya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Paisol Ibrahim melalui Sekretarisnya Imron Husni menceritakan, kebanyakan rumah ulu yang ada di OKU dibangun antara tahun 1830-1840.

Dimana saat itu rumah tersebut dihuni oleh Pangeran atau Pesirah. Kata Imron, jika kita akan masuk ke rumah ulu, kita akan dihadapkan dengan pet rumah yang sering disebut warga Pelesungan.

"Pelesungan ini terletak di depan rumah yang bertujuan untuk tempat muda-mudi melakukan ritual Nutok Khebok (numbuk tepung beras) jika di rumahnya tersebut akan mengadakan pesta pernikahan," kata Imron.


Pelesungan sendiri dihiasi penyanggah yang dinamakan masyarakat dengan tiang bengkilas. Tiang ini sendiri hitungannya harus ganjil. Belum jelas informasi, apa makna pemasangan tiang harus ganjil tersebut,.

"Kita masih menggali informasi terkait tiang bengkilas yang harus ganjil itu," kata Imron.

Kemudian untuk tangganya sendiri dibuat posisi menyamping dari arah tengah rumah, karena pintu masuk rumah ulu sendiri berada disamping  Pembuatan tanggapan harus angka genap dengan perhitungan tangga, tunggu, tingkah laku tangga kembali.

"Dalam artian tangga pertama dinamai tangga, Tangga kedua dinamai tunggu tangga ketiga dinamai tingkah dan kembali tangga keempat dinamai tangga. Seberapa banyak tangga harus genap. Makna dari keempat nama untuk tangga tersebut jika ujung tangga bertepatan dengan tunggu maka penghuni rumah tersebut tidak ada pekerjaan lain selain menunggu. Begitupun dengan tingkah, pemilik rumah tingkah lakunya sering aneh-aneh, jika ujung tangga genap maka tangga tersebut hanya digunakan untuk perlaluan saja," urai Imron.

Barulah selesai tangga ada teras panjang hingga ke bagian belakang rumah yang ditengah-tengahnya dibuat pintu masuk. Teras itu sendiri disebut warga dengan "longgalongan" dimana digunakan penghuni rumah untuk bersandar gurau atau ada tamu yang mampir untuk sekedar ngobrol dengan pemilik rumah.

"Kemudian kayu untuk pembangunan rumah ulu juga harus kayu kualitas baik, seperti kayu tenam, kayu Merbau, dan kayu Merbau. Ini ketiga jenis kayu yang sudah langka bahkan dibilang sudah tidak ada lagi. Kenapa harus tiga kayu tersebut, karena rumah ulu sistem pembangunannya menggunakan sistem knock down atau sistem pasak, jadi tida menggunakan paku. Sistem pembangunan seperti ini setelah diteliti di Jepang ternyata bangunan anti gempa," katanya.

Kemudian ada pagu atau plafon rumah, namun ada ruang besar antara genteng dan plafon. Bahkan ada tempat tidur di dalam pagu tersebut. Pegunungan sendiri bertujuan untuk tempat perlindungan jaman dulu jika ada Belanda masuk ke rumah dan juga untuk menyimpan barang yang tidak digunakan lagi.

"Untuk tiangnya sendiri rumah ulu harus menggunakan kayu gehunggang, kayu besar di Tengahnya berlubang dengan ditopang tiga batu besar sehingga kuat untuk menyanggah rumah ulu," lanjut Imron.

Terakhir ornamen ukiran yang hingga saat ini masih digunakan di kantor-kantor pemerintahan. Seperti kantor DPRD OKU ukiran OKU masih sering terlihat.

Ukiran itu sendiri terdiri dari gabungan antara bunga matahari, daun kangkung, dan rebung.

"Arti penggabungan tersebut matahari sebagai sifat yang konsisten, rebung bermanfaat dalam kondisi apapun serta kangkung bisa bertahan hidup dimana saja," jelasnya.

Untuk membangun rumah ulu pun harus ada ritual khusus, seperti menyembelih persembahan (ayam, kambing, kerbau) yang kemudian kepalanya ditanam. Kemudian di tiang atas disiapkan sesajen seperti pisang, kelapa, kendi berisi air serta ranting pohon beringin.

Saat ini ada satu rumah ulu yang masih tetap bertahan di museum balaputra dewa. [sri]








Komentar Pembaca
Sahabat Rocky Gerung Melawan!

Sahabat Rocky Gerung Melawan!

KAMIS, 19 APRIL 2018 , 11:00:00

Jembatan Widang Di Tuban Ambruk

Jembatan Widang Di Tuban Ambruk

SELASA, 17 APRIL 2018 , 13:00:00

Suriah Kalahkan Amerika Serikat!

Suriah Kalahkan Amerika Serikat!

SELASA, 17 APRIL 2018 , 11:00:00

Jalan Cor Batu Kuning Telan Korban”

Jalan Cor Batu Kuning Telan Korban”

SENIN, 12 MARET 2018 , 15:20:00

Progres Taman LRT

Progres Taman LRT

SELASA, 06 MARET 2018 , 10:59:00

Paslon Pagaralam Duduk Bersama

Paslon Pagaralam Duduk Bersama

JUM'AT, 02 MARET 2018 , 10:57:00