Peredaran Uang Palsu Terus Meningkat, BI Minta Masyarakat Peduli

Hukum  RABU, 11 APRIL 2018 , 08:40:00 WIB | LAPORAN: RADEN MOHD. SOLEHIN

Peredaran Uang Palsu Terus Meningkat, BI Minta Masyarakat Peduli

Perdi Silalahi/RMOLSUMSEL

RMOL. Masyarakat diminta waspada terhadap peredaran uang palsu. Pasalnya, sepanjang 2018, dari Januari hingga Maret, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatra Selatan mencatat ada 472 lembar uang palsu yang masuk ke bank.

Kepala Tim Divisi Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Perdi Silalahi menyampaikan, jumlah uang palsu yang beredar dari tahun ke tahun terus meningkat.

"Kami berharap masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap peredaran uang palsu. Kuncinya teliti dan terapkan 3D (Dilihat, Diraba dan Diterawang) sebelum menerima uang, terutama uang pecahan besar," jelasnya kepada Kantor Berita Politik RMOL Sumsel, Rabu (11/4).

Perdi menerangkan, rata-rata uang palsu yang ditemukan pada pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. Namun masyarakat juga dipinta agar tetap waspada terhadap uang palsu pecahan kecil.

Karena, bukan hanya pada pecahan besar melainkan juga ada sebagian kecil dengan pecahan kecil yang serupa dengan nominal Rp5.000 hingga Rp20.000.

"Rata-rata memang uang palsu pecahan besar. Karena uang palsu dengan pecahan yang lebih besar akan memberikan pendapatan yang lebih besar bagi pengedar dan pembuatnya," ungkapnya.

Kesadaran masyarakat untuk melaporkan adanya uang palsu yang beredar di sekitar lingkungannya, menjadi langkah yang paling tepat untuk memberantas peredarannya.

"Kesadaran masyarakat sangat diperlukan. Karema tren naik turun bukan hanya disebabkan karena kriminalitas uang palsu yang semakin banyak, tapi karena kurangnya kepedulian kita terhadap hal-hal tersebut," ulasnya.

Menurut Perdi, di Sumsel sendiri masih cukup banyak ditemukan uang palsu terselip di setoran bank. Ia mengakui, uang palsu beredar tidak melihat adanya even atau momen besar atau tidak. Melainkan uang palsu menyebar di setiap momen.

"Rata-rata di hari biasa banyak peredaran uang palsu. Tidak harus menunggu momen hari raya keagamaan dan sebagainya," ucapnya.

Untuk peredarannya, uang palsu dominan beredar di daerah. Sementara di kota, rata-rata sedikit berkurang karena pengetahuan masyarakat di kota lebih tinggi terhadap perbedaan uang palsu dan uang asli dibanding di daerah, utamanya di daerah pinggiran.

"Untuk di Sumsel, bisa dikatakan hanya daerah peredaran uang palsu. Bukan daerah pembuatan. Dan peredarannya kebanyakan di daerah," ucapnya.

Belum lagi di wilayah kota, lanjutnya, rata-rata dibeberapa hypermarket dan minimarket sudah dilengkapi dengan ultraviolet. Hal itu menjadi upaya pencegahan beredarnya uang palsu di tengah masyarakat.

"Kita aktif terus melakukan sosialisasi ke masyarakat juga mengedukasi perbedaan uang palsu dan uang asli. Ini kita lakukan agar masyarakat bisa mengenal uang asli dan palsu lebih meluas lagi," tandasnya.[rik]




Komentar Pembaca
PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 17:00:00

Jokowi-Ma

Jokowi-Ma"ruf Diduga Curi Start Kampanye

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 13:00:00

#KataRakyat: Jangan Kampanye Negatif

#KataRakyat: Jangan Kampanye Negatif

RABU, 17 OKTOBER 2018 , 19:00:00

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 , 16:36:00

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 , 17:33:00

Aksi Solidaritas HMI Palembang

Aksi Solidaritas HMI Palembang

SENIN, 24 SEPTEMBER 2018 , 21:58:00