Mengenang Komitmen Ustadz Abu Ammar

OPINI  SABTU, 07 APRIL 2018 , 22:11:00 WIB

Mengenang Komitmen Ustadz Abu Ammar
SAHABAT itu baru terasa kerinduannya saat tiada. Itulah yang saya rasakan saat mendengar Ustadz Abu Ammar tutup usia, hari ini Sabtu, 7 April 2018 di kota suci Qom, Iran. Ust Abu Ammar adalah sosok yanga tekun menggali ilmu agama tanpa kenal lelah.

Pada umur di atas paroh baya, beliau masih menggali ilmu di Negeri Mullah hingga akhir hayatnya. Selama tiga dekade, beliau konsisten menimba ilmu di kota suci Qom. Beliau juga berguru dengan para soko guru sekaliber ayatullah seperti Ayatullah Jawadi Amoli.

Banyak memori yang tiba-tiba kembali terkenang kembali saat mendengar Ust Abu Ammar wafat. Pertama kali saya mengenal Ust Abu Ammar saat menjadi santri di pesantren Bangil, sekitar 25 tahun lalu. Saat itu, Ust Abu Ammar duduk di pelataran masjid sambil berbincang-bincang dengan sahabatnya. Saya saat itu hanya menatap dari jauh dan menyimpan rasa kagum yang dalam pada beliau. Apalagi saat itu, saya sudah baca karya ilmu logikanya.

Ternyata tatapan itu tidak berhenti di situ saja. Waktu berjalan hingga saya dipertemukan langsung dengan Ust Abu Ammar secara langsung saat saya mendapat kesempatan belajar di kota suci Qom, Iran. Saat itu saya sudah beda melihat sosok Ust Abu Ammar. Saya saat itu melihatnya sebagai sosok yang kontroversial. Meski demikian, saya bisa rasakan Ust Abu Ammar sebagai sosok yang tulus.

Tidak sedikit dari kalangan pelajar tercerahkan karena petuah-petuahnya yang tulus. Beliau selalu meminta para pelajar  untuk tuntas mengkaji ilmu-ilmu Islam tradisional (hauzah). Orientasi demi orientasi selalu disampaikan setiap kali bertemu pelajar yang baru datang dari tanah air untuk belajar serius dan jaga tradisi keilmuan hauzah. Saya pun termasuk orang yang terkesan dengan orientasi keilmuan beliau yang selalu mendorong semua pelajar Indonesia untuk tetap konsisten. Saat saya memutuskan untuk bekerja di pusat media Iran, IRIB, sebagai wartawan, Ust Abu Ammar termasuk orang yang menunjukkan kekecewaannya.

Saat belajar di kota suci Qom, saya relatif menggunakan sela-sela waktu untuk bertanya kepada Ust Abu Ammar. Saat itu, saya kagum pada keilmuan Ust Abu Ammar. Meski saat itu beliau dikenal sebagai sosok yang kontroversial, saya diam-diam menyimpan rasa kagum pada Ust Abu Ammar. Suatu saat, saya pernah menanyakan masalah yang berkaitan dengan wacana kekinian. Beliau jawab dengan lugas dan jelas, bahkan lebih luas dari jawabannya yang tertuang pada majalah ilmiah yang jadi trend wacana saat itu. Saya pun hampir setiap waktu bertemu dengan Ust Abu Ammar berusaha menanyakan masalah-masalah yang terkadang beliau mempunyai jawaban dengan sudut pandang yang berbeda. Mungkin karena inilah beliau dikenal sosok kontroversial.

Di satu sisi, Ust Abu Ammar termasuk sosok yang komitmen pada keilmuannya. Sikapnya pun terbukti pada penolakan atas pemimpin kafir. Terkait polemik pemimpin non muslim di pilgub DKI, beliau memberikan jawaban yang cukup mencerahkan. Beliau mampu menengahkan dalil naqli lainnya yang menjelaskan haramnya pemimpin non muslim dalam berbagai skala, bahkan kekuasaan sekecil apapun.  Sementara banyak teman almamaternya yang malah lebih bersikap toleran di luar batas, bahkan bisa dipahami liberal.

Menurut Ust Abu Ammar yang dikenal dengan sebutan Sinar Agama,  tidak boleh sama sekali memilih pemimpin non muslim, sekalipun hanya untuk kepemimpinan kecil. Ayatullah Jawadi Amuli dalam pelajaran bahtsu al-khaarijnya (yang tersebar di seluruh dunia melalui siaran langsung pengajaran hauzah) pernah menafsirkan ayat yang dimaksudkan dalam ketidakbolehan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, maknanya adalah dalam dan dengan jalan apapun. Yakni secara mutlak kafir tidak diberi jalan oleh Allah untuk menjadi pemimpin muslim walau sekecil apapun.

Ayat yang saya maksud adalah ini (QS: 4:141):

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

"Dan Allah sama sekali tidak akan memberi jalan bagi orang kafirin untuk menguasai mukminin."

Ayatullah Jawadi berkata "sabil" di sini apa saja yang berupa penguasaan pada kaum mukmin seperti kepemimpinan walau kecil sekalipun. Semoga Allah menerima arwahnya di sisi Allah Swt.

Alireza Alatas
Pembela ulama dan NKRI, aktivis Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara (Silabna)



Komentar Pembaca
Pahlawan, Pecundang, atau Sekadar Joker

Pahlawan, Pecundang, atau Sekadar Joker

JUM'AT, 07 SEPTEMBER 2018

Tiap 10 Tahun di Lubang yang Sama

Tiap 10 Tahun di Lubang yang Sama

SELASA, 04 SEPTEMBER 2018

Maju Tak Gentar Laskar Bulu Tangkis Indonesia!
Lubang Sari Rapet si Donald

Lubang Sari Rapet si Donald

KAMIS, 23 AGUSTUS 2018

Selamat Berpesta Olahraga!

Selamat Berpesta Olahraga!

SABTU, 18 AGUSTUS 2018

Selamat.. Turki Merdeka!

Selamat.. Turki Merdeka!

SABTU, 18 AGUSTUS 2018

720 Pengacara Siap Bela Rizal Ramli

720 Pengacara Siap Bela Rizal Ramli

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Demokrat: Artikel Asia Sentinel Abal-abal

Demokrat: Artikel Asia Sentinel Abal-abal

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Bunga Bangkai Mekar di Kanada

Bunga Bangkai Mekar di Kanada

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018 , 11:00:00

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 , 16:36:00

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 , 17:33:00

Bantuan Kemanusiaan Pusri Untuk Lombok NTB

Bantuan Kemanusiaan Pusri Untuk Lombok NTB

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2018 , 11:56:00