Luar Biasa.. Petani Cabai Raup Keuntungan Ratusan Juta

Ekonomi  MINGGU, 18 MARET 2018 , 16:35:00 WIB

Luar Biasa.. Petani Cabai Raup Keuntungan Ratusan Juta

Foto/JPNN

RMOL. Petani kaya petani sejahtera bukan lagi sebatas mimpin namun sebuat kenyataan yang ada.

Berkat manajemen waktu tanam yang jitu, para petani cabai di wilayah selatan Kabupaten Banyuwangi meraup laba besar. Mereka menuai untung dari peningkatan harga cabai yang berkisar Rp 60.000 per kilogram.

Ketua Kelompok Tani Ketileng Makmur, Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, Imam Badrus menjelaskan, biaya produksi mulai pupuk hingga perawatan, per pohon ‎menghabiskan Rp 5.000. Satu pohon bisa menghasilkan 5-6 ons atau setengah kilogram cabai.

"Satu hektare lahan di desa ini 18.000 pohon cabai. Beda dengan desa sentra cabai lainnya di Banyuwangi, seperti Wongsorejo, yang mungkin lebih banyak karena jarak antarpohon lebih rapat," kata Badrus.

Dia menyebutkan, biaya produksi satu hektare lahan cabai rata-rata Rp 90 juta. Dengan harga jual petani Rp 50.000 per kilogram, satu pohon cabai bisa menghasilkan Rp 25.000. Apabila 18.000 pohon cabai bisa menghasilkan Rp 450 juta, dengan demikian keuntungan pemilik lahan cabai berlipat-lipat.

Apabila dipotong biaya produksi, keuntungannya bisa mencapai Rp 360 juta per hektare. "Kalau soal keuntungan, ya banyak banget. Alhamdulilah," kata Badrus tersenyum.

Badrus mengatakan, bersama Dinas Pertanian Banyuwangi, kelompoknya mencari celah saat menanam cabai. Panen bulan ini merupakan hasil tanam pada September hingga Oktober tahun lalu.

"Kami atur waktu perkiraan panennya agar dapat harga terbaik. Misalnya yang panen sekarang ini, adalah hasil kami tanam Agustus-Oktober 2017. Alhamdulillah sesuai perkiraan harga sekarang sangat baik. Intinya, petani jangan latah, tapi harus tahu di mana celah waktunya," tambah Badrus.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meminta agar manajemen penanaman tersebut dijaga. Siklus harga cabai sudah diketahui, sehingga saat menanam bisa diperkirakan masa panen saat harga mahal. "Saya rasa manajemen di kelompok tani sudah bagus," kata Anas.

Dia mengatakan masa panen di Banyuwangi sudah sepanjang tahun. Karena banyak daerah di Banyuwangi merupakan penghasil cabai, terutama Wongsorejo yang merupakan daerah sentra cabai Banyuwangi sekaligus nasional. "Hanya saja karakteristik tiap daerah berbeda. Di Wongsorejo bisa panen sepanjang tahun, berbeda dengan di sini. Jadi kita harus benar-benar atur," ujar Anas.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan menambahkan, cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi. Pemerintah daerah telah menandatangani kerja sama dengan kelompok tani, salah satunya di kawasan selatan Banyuwangi untuk turut mengendalikan inflasi.

Bentuk kerja samanya, pemerintah daerah memberikan bantuan pertanian, lalu petani diminta menjual sebagian hasil panennya pada pemerintah untuk keperluan cadangan operasi pasar dengan harga yang telah disepakati bersama.

Kesepakatan harga tersebut ditandatangai kedua belah pihak sebelum masa tanam dimulai. Tentunya harga yang kami tawarkan tidak akan merugikan petani, sudah menguntungkan petani. Jadi petani tetap untung, harga pasar juga tetap bisa dikendalikan,” ujar Arief seperti diberitakan JPNN, Minggu (18/3).[rik]

Komentar Pembaca
Rupiah Terpuruk, Utang Bertumpuk!

Rupiah Terpuruk, Utang Bertumpuk!

KAMIS, 24 MEI 2018 , 17:00:00

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi

KAMIS, 24 MEI 2018 , 15:00:00

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

KAMIS, 24 MEI 2018 , 14:00:00

Guru Honorer Terima SK

Guru Honorer Terima SK

KAMIS, 26 APRIL 2018 , 18:53:00

Ada 'Kubangan Gajah' di OKU, Nih Buktinya..

Ada 'Kubangan Gajah' di OKU, Nih Buktinya..

RABU, 04 APRIL 2018 , 12:17:00

Pagaralam Direndam Banjir

Pagaralam Direndam Banjir

MINGGU, 22 APRIL 2018 , 21:47:00