Penampilan Cawagub Sumsel Tidak Maksimal Pada Debat Publik

Politik  SABTU, 17 MARET 2018 , 12:13:00 WIB | LAPORAN: SUHARDI

Penampilan Cawagub Sumsel Tidak Maksimal Pada Debat Publik

Foto/Net

RMOL. Debat publik pasangan calon gubernur-wakil gubernur Sumsel 2018 yang telah berlangsung di Ballroom Hotel Novotel, Palembang, Rabu malam (14/3) dinilai menyuguhkan penampilan yang relatif  baik. Namun sayangnya debat kandidat yang disiarkan langsung stasiun TVRI itu peran calon wakil gubernur Sumsel tidak maksimal.

Hal itu dikatakan Pengamat Sosial dan Politik Bagindo Togar, Sabtu (17/3).

Menurut Bagindo, keempat calon gubernur tampil mendominasi jalannya debat publik. Sementara calon wakil gubernur tak begitu memukau bahkan dinilainya sebagai pelengkap saja.

"Dalam ajang debat terbuka kemarin, para calon wakil Gubernur, 'nyaris cuma tampil sebagai aksesoris' karena sangat kontras didominasi oleh performa para calon gubernur," kata Bagindo.

Meski begitu direktur eksekutif Forum Demokrasi Sriwijaya (Fordes) ini juga tak menampikan jalanya debat publik bisa dikatakan relatif.

Yang menonjol dari keempat paslon Gubernur -Wakil Gubernur Sumsel pada debat tersebut menurutnya, paslon nomor 4 Dodi Reza - Giri Ramandha dab paslon nomor urut 1 Herman Deru-Mawardi Yahya. Dia menilai dua paslon ini lebih terlihat penguasaan arena lalulintas perdebatan.

"Paslon nomor 4 Dodi- Giri kemampuannya tangkas dalam mengatasi serangan-serangan lawan atau paslon lainnya. Paslon nomor 3 Ishak- Yudha, kelihatannya intonasinya datar  dan terkesan mengambang dalam mengurai jawaban permasalahan pembangunan daerah, sedangkan paslon nomor 2 Aswari- Irwansyah paparannya cenderung sangat pragmatis dan terlihat nervous ketika merespon beragam pertanyaan. Kemudian Paslon nomor 1 Herman Deru-Mawardi Yahya punya retorika yang menarik juga mampu mengurai jawaban suatu permasalahan secara low context atau mudah dimengerti," paparnya.

Selanjutnya, dalam memaparkan program kerjanya dia menilai, para paslon Gubernur juga masih saja sebatas menawarkan janji- janji agar para pemilih terpikat.

Dicontohkannya, permasahan harga karet yang dibahas dalam perdebatan, sering kali tidak stabil atau rendah, permasalahannya komplex. Karena tata niaganya dan harga masih didominasi oleh pasar dunia, resi gudang, sistem proteksi nilai dan investasinya tidak mudah juga murah. Pemerintah masih saja kesulitan mengatasi permasalahan tata niaga Industri pertanian tersebut.

"Contoh lain, para paslon juga mempertontonkan logika sebab akibat yang tak realistis, meningkatkan IPM tanpa penjelasan komprehensif atau jelas benang merahnya," ujarnya.

Ditambah lagi bila kelak para paslon sukses menjadi Kepala Daerah, ada Mindset bahwa Pemerintah ( Penguasa) berikut Strategi Programnya akan Mampu menyelesaikan semua permasalahan Pembangunan.

"Bukankah pemerintah tak mampu bekerja maksimal bila tidak didukung oleh para birokrat yang handal serta profesional? Seolah olah Pemerintah adalah segala-galanya, padahal tugas atau perannya hanya sebagai fasilitator atau supporting system," ungkapnya.[rik]

Komentar Pembaca
Rara Sosialisasi Asian Games

Rara Sosialisasi Asian Games

SELASA, 22 MEI 2018 , 07:45:00

Pawai Obor Keliling Kota Sekayu

Pawai Obor Keliling Kota Sekayu

KAMIS, 14 JUNI 2018 , 23:33:00

Tolak Hasil Pilkada

Tolak Hasil Pilkada

KAMIS, 28 JUNI 2018 , 22:45:00