Dituduh Menghujat Calon, Fery Dijemput Paksa Polisi

Hukum  RABU, 07 MARET 2018 , 16:35:00 WIB | LAPORAN: RADEN MOHD. SOLEHIN

Dituduh Menghujat Calon, Fery Dijemput Paksa Polisi

Fery kurniawan/RMOL

RMOL. Trauma berat nampak terlihat dari Fery Kurniawan (50) saat menceritakan kejadian penjemputan paksa oleh pihak kepolisian terhadap dirinya kemarin malam, Selasa (6/3/18).

Tanpa surat perintah penjemputan atau penangkapan, pria yang aktif sebagai konsultan ini, diperiksa oleh pihak kepolisian resort kota (Polresta) Palembang, dengan tuduhan telah melakukan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian.

Kepada RMOL Sumsel, Fery mengatakan kejadian penjemputan paksa yang dilakukan pihak Polresta Palembang terjadi sekitar pukul 19.30 WIB di kediamannya di Komplek Griya Hero, Kecamatan Alang-alang Lebar (AAL).

Tanpa surat perintah penjemputan, penangkapan maupun keterangan pemeriksaan resmi, sekitar tujuh anggota kepolisian tersebut, memintanya ikut untuk dilakukan pemeriksaan.

"Tadi malam saya didatangi tujuh orang anggota kepolisian dari Polresta, saya diminta ikut untuk diperiksa dengan alasan telah melakukan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Tapi tidak ada surat resmi terkait pemeriksaan tersebut," sampainya.

Fery mengungkapkan, kejadian tersebut membuat dirinya dan keluarga cukup trauma. Apalagi, pemeriksaan tersebut tanpa didasari surat resmi yang ditunjukan oleh ketuju anggota.

"Saya dan keluarga dibuat malu. Apalagi penjemputan paksa itu tidak sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) kepolisian, seakan-akan saya seperti teroris," ulasnya.

Lebih dari delapan jam, Fery mengaku diperiksa terkait status Fecabook yang dibuat. Dimana, status di media sosial pribadinya dianggap ada unsur ujaran kebencian terhadap salah satu calon

"Dari jam setengah delapan malam sampai jam tiga subuh saya diperiksa. Saya diminta klarifikasi terkait status di salah akun media sosial (medsos) yang dianggap telah menghujat salah satu calon. Padahal hal itu tidak dapat dibenarkan," tuturnya.

Fery menyampaikan, tidak akan tinggal diam terkait dengan perlakuan terhadap dirinya. Apalagi penjemputan paksa tersebut tidak disertai surat resmi penjemputan ataupun penangkapan.

"Kasian anak istri saya sampai ketakutan. Padahal apa yang saya sampaikan di medsos untuk melakukan pengawasan terhadap kecurangan Pilkada yang melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN). Dan masalah tersebut juga sudah saya laporkan ke Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu)," tandasnya. [yip]

Komentar Pembaca
Guru Honorer Terima SK

Guru Honorer Terima SK

KAMIS, 26 APRIL 2018 , 18:53:00

Pagaralam Direndam Banjir

Pagaralam Direndam Banjir

MINGGU, 22 APRIL 2018 , 21:47:00

Rara Sosialisasi Asian Games

Rara Sosialisasi Asian Games

SELASA, 22 MEI 2018 , 07:45:00