Bravo.. RI Menang Gugatan Biodiesel Di WTO

Hukum  SABTU, 27 JANUARI 2018 , 12:41:00 WIB

Bravo.. RI Menang Gugatan Biodiesel Di WTO

Eng­gartiasto Lukita/Net

RMOL. Indonesia Kuat, hebat dan berdaulat ternyata tidak hanya sebatas selogan namun terbukti nyata.

Itu terlihat jelas saat Indonesia memenangkan sengketa biodiesel dengan Uni Eropa (UE) di World Trade Organization (WTO).

Makanya, Eropa jangan asal main larang produk kita, kata Menteri Perdagangan Eng­gartiasto Lukita. Dirinya mengatakan, hasil akhir putusan Panel Badan Penyelesaian Sengketa (DSB) WTO memenangkan enam gu­gatan Indonesia atas Eropa. Hal ini merupakan bentuk kemenan­gan telak untuk Indonesia.

"Kemenangan ini akan mem­buka lebar akses pasar dan memacu kembali kinerja ek­spor biodiesel ke Eropa bagi produsen Indonesia, setelah sebelumnya sempat mengalami kelesuan akibat adanya penge­naan bea masuk anti dumping (BMAD) atas produk tersebut," ujar Enggar dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Untuk diketahui, Eropa men­genakan BMAD atas produk biodiesel Indonesia sejak tahun 2013 dengan margin dumping sebesar 8,8-23,3 persen. Sejak saat itu, ekspor biodiesel In­donesia ke Negeri Benua Biru mengalami penurunan.

Berdasarkan data statistik BPS, pada periode 2013"2016 ekspor biodiesel Indonesia ke Eropa turun sebesar 42,84 persen, dari 649 juta dolar AS pada 2013 turun menjadi 150 juta dolar AS pada 2016. Nilai ekspor biodiesel Indonesia ke Eropa paling rendah terjadi di 2015 yaitu hanya sebe­sar 68 juta dolar AS.

Menurut Enggar, kemenan­gan Indonesia atas sengketa ini memberikan harapan kepada pengekspor maupun produsen biodiesel Indonesia. Tren ekspor biodiesel Indonesia ke Eropa pada periode sejak pengenaan BMAD sampai dengan dikelu­arkannya putusan akhir Badan Penyelesaian Sengketa WTO diramal sebesar 7 persen.

"Jika peningkatan tersebut dapat dipertahankan dalam dua tahun ke depan, maka nilai ekspor biodiesel Indonesia ke Eropa pada 2019 diperkirakan akan mencapai 386 juta dolar AS dan pada 2022 akan men­capai 1,7 miliar dolar AS," kata Politisi Partai Nasdem itu.

Eropa dinilai tidak konsisten dengan peraturan Perjanjian Anti Dumping WTO selama proses penyelidikan dumping hingga penetapan BMAD atas impor biodiesel dari Indonesia. Ada beberapa Ketentuan yang dilanggar Eropa dalam sengketa biodiesel (DS480). Pertama, Eropa tidak menggunakan data yang telah disampaikan oleh ek­sportir Indonesia dalam menghi­tung biaya produksi.

Kedua, Eropa tidak mengguna­kan data biaya-biaya yang terjadi di Indonesia pada penentuan nilai normal untuk dasar penghitungan margin dumping. Ketiga, Eropa menentukan batas keuntungan yang terlalu tinggi untuk industri biodiesel di Indonesia.

Keempat, metode penen­tuan harga ekspor untuk salah satu eksportir Indonesia tidak sejalan

dengan ketentuan. Kelima, Eropa menerapkan pajak yang lebih tinggi dari margin dump­ing. Keenam, mereka tidak da­pat membuktikan bahwa impor biodiesel asal Indonesia mem­punyai efek merugikan terhadap harga biodiesel yang dijual oleh industri domestik Eropa.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagan­gan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, hasil putusan Ba­dan Penyelesaian Sengketa WTO dapat menjadi acuan bagi semua otoritas penyelidikan anti dumping agar konsisten dengan peraturan WTO. Terutama se­lama proses investigasi.

"Komitmen kami dalam mengamankan pasar ekspor ada­lah mengawal ekspor Indonesia agar kembali dapat bersaing di pasar negara tujuan ekspor, seperti Eropa," ujarnya.

"Sedangkan bagi otoritas pe­nyelidikan negara lain, tentunya kasus ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi agar berhati-hati saat menuduh Indonesia melakukan praktik dumping," sambungnya.

Direktur Pengamanan Perda­gangan Kementerian Perdagan­gan Pradnyawati mengatakan, bahwa sebagai konsekuensi kemenangan Indonesia dalam sengketa biodiesel dengan Eropa tersebut, maka putusan Panel Ba­dan Penyelesaian Sengketa WTO harus diimplementasikan sejalan dengan ketentuan WTO.

"Eropa diwajibkan melakukan penyesuaian BMAD yang telah dikenakan sebelumnya agar sejalan dengan peraturan Per­janjian Anti Dumping WTO," jelasnya seperti diberitakan Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (27/10).

Dalam penyelesaian sengketa ini, Indonesia memutuskan un­tuk menempuh jalur hukum, baik melalui pengadilan di UE maupun penyelesaian sengketa melalui DSB WTO. Indonesia mengajukan sebanyak tujuh klaim gugatan utama kepada UE. Pembelaan Indonesia juga disampaikan dalam sidang First Substantive Meeting (FSM) pada 29-30 Maret 2017 dan di­lanjutkan dalam sidang Second Substantive Meeting (SSM) pada 4-5 Juli 2017.[rik]

Komentar Pembaca
Surat Pengunduran Alex dan Ishak

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 , 16:36:00

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 , 17:33:00

Aksi Solidaritas HMI Palembang

Aksi Solidaritas HMI Palembang

SENIN, 24 SEPTEMBER 2018 , 21:58:00