Pertumbuhan Ekonomi versus Menjaga Lingkungan

Oleh: Dedi Gunawan Widyatmoko

OPINI  MINGGU, 07 JANUARI 2018 , 18:40:00 WIB

Pertumbuhan Ekonomi versus Menjaga Lingkungan
 KETIKA saya usia TK sampai kelas 4 an SD, ada beberapa pohon kelapa di depan rumah saya. Hampir setiap pagi saya dibangunkan dengan suara burung Manyar (saya tidak tahu terjemahanya yang pas dalam Bahasa Indonesia) yang bersarang di pohon-pohon kelapa tersebut.

Burung Manyar tersebut membuat sarang yang sangat unik, anyaman entah dari apa, dengan lubang sarang kecil yang hanya cukup untuk masuk burung dan di dalam seperti kantong yang lebar untuk menampung telur-telur yang kemudian menetas jadi anak-anaknya.

Seiring berjalanya waktu saya mendewasa, sarang burung manyar itu tidak ada lagi…..suara kicau burung manyar yang sebelumnya hampir sepanjang hari kini tidak terdengar lagi…..

Saya tidak tahu penyebabnya (mungkin perlu penelitian lebih lanjut untuk mengungkapnya). Barangkali juga adanya revolusi industri (terutama senapan angin di desa saya….hehhehehe) yang menjadi salah satu penyebab punahnya burung-burung manyar tersebut.

Setiap hal pasti punya minimal dua sisi. Bagi pecinta lingkungan (mungkin salah satunya adalah saya), hal ini adalah sebuah tragedi. Tapi bagi para tetangga saya petani padi, ini mungkin mempermudah mereka untuk menjaga padinya. Juga para produsen senapan angin, mereka banyak mendapatkan uang dengan memproduksi senapan anginya. Semakin banyak orang yang hobby berburu, maka akan semakin laris produksinya dan otomastis meningkatkan taraf ekonominya.

Dilema ini terjadi pada setiap hal yang melibatkan kepentingan para environmentalist versus economist. Dua sudut pandang yang sering sulit dipertemukan.

Dan sekarang saya sedang di Australia. Selain mengagumi kebersihanya, saya juga mengagumi cara mereka mencintai alam. Hampir di semua tempat terdapat burung-burung yang berkeliaran bebas di alam terbuka.

Ada berbagai jenis burung yang indah dari yang kecil sampai yang besar berkeliaran. Ada burung Kakaktua, Beo, Gagak, Pelikan, Camar dan masih banyak yang lain yang saya tidak begitu tahu jenisnya satu persatu (saya bukan seorang ahli perburungan…hehehehe).

Juga cara mereka memperlakukan hewan-hewan sangatlah bisa ditiru. Kanguru, Koala, dan beberapa hewan asli Australia lainya begitu dilindungi. Pembangunan perumahan, pabrik dan perkantoran selalu memperhitungkan habitat hewan-hewan tersebut. Hampir setiap kota selalu menyediakan taman terbuka, dan semunya pasti dipenuhi aneka jenis burung. Untuk hewan-hewan lain dijaga keberadaanya di taman nasional.

Selalu ada harapan baik pada setiap keadaan. Kita juga melihat adanya upaya pelestarian alam di Negara kita tercinta Indonesia, sering juga kita kita dengar diskusi tentang Amdal (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan). Intinya, kesadaran mengenai pelestarian lingkungan semakin tinggi. Dan Indonesia adalah salah satu Negara penanda tangan Paris Concord (pakta tentang pelestarian lingkungan - climate change, global warming dan lain-lain), sebuah kesepakatan yang tengah menjadi isu hangat karena Mr. Trumph dari USA menarik diri dari kesepakatan tersebut.

Apabila Amdal benar-benar diterapkan tanpa toleransi/KKN, ditambah lagi peraturan-peraturan mengenai pelestarian hewan, misalnya dilarang berburu atau membunuh hewan (perlu kajian lebih lanjut….), saya yakin Indonesia akan lebih indah dari Australia.

Bukankah sebagai negara tropis dengan julukan Jamrud Khatulistiwa kita mempunyai keanekaragaman hayati yang diakui terbanyak di dunia ?! Akan ada banyak burung indah menghiasi lingkungan kita. Akan ada lagi kicauan burung membangunkan tidur kita di pagi hari. Akan ada lingkungan yang segar yang bebas kita nikmati tanpa perlu bayar.

Hanya perlu upaya yang lebih serius yang saya rasa akan sepadan dengan hasil yang akan kita dapat, meningkatnya lingkungan sehat dan kebahagiaan warga karena mempunya lingkungan yang sehat, bagus dan indah.

Pertumbuhan ekonomi itu sangat penting, akan tetapi kebahagiaan yang akan kita dapat dengan mempunyai lingkungan yang indah, sehat dan bersih juga tidak kalah pentingnya. Dua hal tersebut harus berjalan beriringan tanpa mengorbankan salah satunya. Aamiin.[rmol]


Dedi Gunawan Widyatmoko, S.E.
Siswa Program Master of Maritime Policy di ANCORS (The Australian National Centre for Ocean Resources and Security), University of Wollongong, Australia. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili instansi manapun



Komentar Pembaca
Pahlawan, Pecundang, atau Sekadar Joker

Pahlawan, Pecundang, atau Sekadar Joker

JUM'AT, 07 SEPTEMBER 2018

Tiap 10 Tahun di Lubang yang Sama

Tiap 10 Tahun di Lubang yang Sama

SELASA, 04 SEPTEMBER 2018

Maju Tak Gentar Laskar Bulu Tangkis Indonesia!
Lubang Sari Rapet si Donald

Lubang Sari Rapet si Donald

KAMIS, 23 AGUSTUS 2018

Selamat Berpesta Olahraga!

Selamat Berpesta Olahraga!

SABTU, 18 AGUSTUS 2018

Selamat.. Turki Merdeka!

Selamat.. Turki Merdeka!

SABTU, 18 AGUSTUS 2018

#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?

#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 , 20:00:00

Airlangga Berpeluang Digarap KPK

Airlangga Berpeluang Digarap KPK

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 , 15:00:00

Tak Ada Bukti Istana Terlibat Asia Sentinel

Tak Ada Bukti Istana Terlibat Asia Sentinel

RABU, 19 SEPTEMBER 2018 , 13:00:00

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

Surat Pengunduran Alex dan Ishak

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 , 16:36:00

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

Mahasiswa Sumsel Mulai Bergerak

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2018 , 17:33:00

Bantuan Kemanusiaan Pusri Untuk Lombok NTB

Bantuan Kemanusiaan Pusri Untuk Lombok NTB

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2018 , 11:56:00