Pendidikan Formal Harusnya Nggak Penting Bagi Pejabat Publik

Politik  KAMIS, 07 DESEMBER 2017 , 23:52:00 WIB | LAPORAN: RAHMAD RAMLI

Pendidikan Formal Harusnya Nggak Penting Bagi Pejabat Publik
RMOL. Entah itu anggota DPR, menteri, kepala daerah, atau presiden sekalipun hendaknya tidak harus memiliki pendidikan formal karena mereka adalah politisi yang menjabat sebagai pejabat publik.

“Pendidikan formal menjadi tidak penting untuk menduduki jabatan publik. Yang harus dilihat adalah rekam jejak dan integritasnya,” demikian ditegaskan oleh Ketua Departemen Media dan Komunikasi Publik DPP Partai NasDem Willy Aditya dalam diskusi “Merumuskan Format Pendidikan Politik” yang digelar di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, menjadi politisi itu tidak butuh gelar atau jenjang pendidikan yang tinggi. “Itu kebutuhan untuk menjadi akademisi. Menjadi politisi itu yang penting keberpihakan,” tegasnya kembali.

Dia menyatakan, secara pribadi dirinya tidak sepakat dengan anggota dewan yang menlanjutkan studinya. “Buat apa? Lebih baik dia mencurahkan segala tenaganya untuk berkhidmat di DPR, buat para konstituennya,” tandasnya.

Menurut aktivis ‘98 ini, salah kaprahnya politisi dan para pembuat kebijakan ini disebabkan keterjebakan mereka terhadap metode skolastik dalam pendidikan politik. “Akhirnya mereka terjebak dalam demokrasi Athenian. Politik seolah hanya milik para filosof saja seperti zaman Yunani kuno dulu,” imbuhnya.

Padahal, Willy melanjutkan, saat ini adalah era demokrasi deliberatif. “Ini biasa disebut dengan demokrasi gelombang ketiga. Dasar dari demokrasi ini adalah partisipasi publik,” tambahnya.

Akibat dari karakter elitis semacam ini, ruang politik dalam demokrasi representatif saat ini menjadi sekadar pemilu atau pilkada saja. Publik seperti tidak memiliki ruang politik lain.

“Sudah waktunya kita meluaskan ruang politik tidak sekedar pemilu atau pilkada. Seorang kepala daerah bisa memasang APBD-nya di ruang-ruang publik, entah itu masjid, taman, atau apapun. Jadi publik terlibat dalam kehidupan politik yang lebih luas,” tuturnya.

Demikian juga anggota DPR. Fungsi representasi semestinya bisa menjadi ruang pendidikan politik yang paling mengena. “Catatannya, jangan cuma bagi-bagi traktor kalau reses. Tapi sampaikan juga tentang pentingnya peraturan A, UU B, dan lainnya,” cetus Willy. [rhd]


Komentar Pembaca
Mendagri Bikin TNI Cemburu

Mendagri Bikin TNI Cemburu

SENIN, 29 JANUARI 2018 , 13:00:00

Melawan Hoax Dan Ujaran Kebencian

Melawan Hoax Dan Ujaran Kebencian

JUM'AT, 26 JANUARI 2018 , 21:00:00

Jokowi Harus Terbitkan Perppu LGBT

Jokowi Harus Terbitkan Perppu LGBT

JUM'AT, 26 JANUARI 2018 , 19:00:00

Ishak Mekki Tinggalkan Rumah Dinas

Ishak Mekki Tinggalkan Rumah Dinas

RABU, 14 FEBRUARI 2018 , 09:45:00

Hengkang dari PDIP, Irwansyah ke PKS

Hengkang dari PDIP, Irwansyah ke PKS

RABU, 10 JANUARI 2018 , 12:31:00

H Mularis Djahri - H Syahdina Ali Daftar ke KPU

H Mularis Djahri - H Syahdina Ali Daftar ke KPU

RABU, 10 JANUARI 2018 , 19:02:00