Indonesia Rawan Kena Serangan Malware

Lifestyle  JUM'AT, 08 SEPTEMBER 2017 , 12:51:00 WIB

Indonesia Rawan Kena Serangan Malware

net

RMOL. Laporan Microsoft Cyber Security mengungkapkan negara berkembang di Asia Pasifik rawan terkena seran­gan virus atau malware . Salah satunya Indonesia.

Microsoft Asia Pasifik ke­marin merilis temuan re­gional dari Laporan Security Intelligence (SIR) Volume 22 yang menemukan bahwa negara berkembang seperti Banglades, Kamboja, Indo­nesia, Myanmar, dan Vietnam termasuk lima besar negara di Asia Pasifik yang paling terekspos oleh program ber­bahaya. Pada kuartal II-2016, 45,2 persen komputer di In­donesia terserang malware. Angka ini lebih tinggi dengan angka rata-rata global pada kuartal yang sama sebesar 20,8 persen.

Associate General Coun­sel, Microsoft Asia Pasifik, Jepang & Australia Antony Cook menjelaskan, kategori perangkat lunak berbahaya yang paling sering ditemui di Indonesia pada kuartal II- 2016 adalah Trojans dengan 41,5 persen serangan pada seluruh komputer. Jumlah itu naik 37,8 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Worms menempati posisi kedua, den­gan 24,5 persen serangan pada seluruh komputer atau turun 26,3 persen dibandingkan periode sebelumnya.

"Bagaimanapun, kita tidak akan selamanya tetap aman dan dapat mencapai kapasitas secara penuh pada dunia yang selalu terhubung ini, tanpa me­mahami ancaman keamanan siber dan menambah pemaha­man mengenai perkembangan cyber crime," ujarnya.

Menurut dia, laporan ini juga menemukan bahwa seki­tar satu dari empat komputer di Bangladesh, Kamboja, dan Indonesia yang menjalankan produk keamanan real-time Microsoft terkena serangan malware antara Januari sampai Maret 2017. Masing-masing melaporkan adanya serangan malware dengan rata-rata tingkat lebih dari 20 persen pada kuartal I-2017. Angka ini lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan rata-rata global sebesar 9 persen.

Dia menambahkan, Ran­somware adalah salah satu jenis malware yang paling terkenal pada 2017. Pada paruh pertama tahun ini, dua gelombang serangan ransom­ware, yakni Wanna Crypt dan Petya. Virus ini memanfaat­kan kerentanan pada sistem operasi Windows usang di seluruh dunia dan menonaktif­kan ribuan perangkat dengan membatasi akses data secara tidak sah melalui enkripsi.

"Hal ini tidak hanya meng­ganggu kehidupan sehari-hari individu tapi juga melum­puhkan banyak operasional perusahaan," katanya.

Di sisi lain, negara-negara di Asia Pasifik dengan level kematangan teknologi infor­masi yang lebih tinggi, seperti Selandia Baru dan Singapura memiliki performa yang lebih baik dibandingkan rata-rata global.

Untuk mengantisipasi seran­gan malware, dia menyarank­an tidak menggunakan Wi-Fi umum, rajin memperbaharusi sistem operasi dan program lunak lainnya. Selain itu, bikin kata kunci yang sulit. Jika itu dilakukan akan mengurangi serangan malware. [sri]


























Komentar Pembaca
Ini Alasan Airlangga Dipertahankan

Ini Alasan Airlangga Dipertahankan

RABU, 17 JANUARI 2018 , 17:00:00

Wiranto: Teruskan Pak OSO!

Wiranto: Teruskan Pak OSO!

RABU, 17 JANUARI 2018 , 15:00:00

Reshuffle Untuk 2019

Reshuffle Untuk 2019

RABU, 17 JANUARI 2018 , 13:00:00

H Mularis Djahri - H Syahdina Ali Daftar ke KPU

H Mularis Djahri - H Syahdina Ali Daftar ke KPU

RABU, 10 JANUARI 2018 , 19:02:00

Didampingi Ayah

Didampingi Ayah

SABTU, 25 NOVEMBER 2017 , 10:17:00

Laka Tunggal 'Nyaris' Setnov

Laka Tunggal 'Nyaris' Setnov

KAMIS, 30 NOVEMBER 2017 , 16:30:00