RMOLSUMSEL

Home     


THE IMAM AND THE PASTOR AJARKAN MERAWAT KEBERAGAMAN
KAMIS, 10 AGUSTUS 2017 , 08:55:00 WIB

THE IMAM AND THE PASTOR/NET
  

RMOL. Puluhan anak muda Jakarta dari berbagai latar belakang nonton bareng (nobar) film The Imam and The Pastor sambil berdiskusi tentang membina kedamaian dan merawat keragaman bertajuk tema 'Dari Konflik Menuju Damai (#FromConflictToPeace)'.

Selain untuk menyambut kedatangan Imam Asshafa dan Pastur James Wuye yang difilmkan dalam dokumenter tersebut, kegiatan yang diinisiasi Pusad Paramadina ini sekaligus dalam rangka peringatan dirgahayu ke-72 RI dan pembuka dari rangkaian aktivitas peringatan ulang tahun ke-17 Yayasan Tifa.

Menurut Direktur Eksekutif Pusat Studi Agama dan Demokrasi (Pusad) Universitas Paramadina, Ihsan Ali Fauzi, film The Imam and The Pastor merupakan medium yang baik bagi anak muda untuk belajar memahami dan menyikapi perbedaan tanpa kekerasan. Bahkan, melalui film ini, anak muda bisa belajar bagaimana kekerasan yang dipicu perbedaan agama kemudian dapat berproses menuju bina damai.

"Kita bisa belajar banyak dari bagaimana Pastur James dan Imam Asshafa mengesampingkan ego dan perbedaan masing-masing, kemudian bekerjasama menghentikan kekerasan yang menelan banyak korban, termasuk keluarga dan teman mereka," ujar Ihsan, Kamis (10/8), seperti diberitakan RMOL.Co.

Lebih lanjut, Ihsan mengatakan, dalam film ini, bisa dilihat bagaimana perbedaan yang disikapi dengan kekerasan menciptakan penderitaan tanpa ujung. Oleh sebab itu, anak muda yang belajar sejak upaya bina damai sejak dini diharapkan dapat mencegah kemungkinan terjadinya konflik kekerasan di masa yang akan datang.

"Anak muda adalah penopang utama generasi masa depan. Di tangan mereka lah kekerasan bisa dicegah, terutama dalam konteks konflik antara agama," tambahnya.

Sejalan dengan pendapat Ihsan, Direktur Eksekutif Yayasan Tifa Darmawan Triwibowo menambahkan, pemutaran film ini menjadi pembuka diskusi bagaimana menumbuhkan sikap toleransi dan kemampuan untuk berdamai dengan perbedaan.

"Tifa percaya bahwa kemampuan memahami dan menghargai keberagaman adalah kunci (bagi kita semua) untuk membangun tatanan sosial yang damai di tengah dunia yang kian terhubung, kompleks, dan makin majemuk. Intoleransi hanya akan membawakan diskriminasi, sedangkan diskriminasi akan melecut kebencian yang pada akhirnya akan melahirkan kekerasan," paparnya.

Pemutaran yang dilakukan di Paviliun 28 Jakarta ini merupakan kegiatan pembuka dari rangkaian nonton bareng di berbagai komunitas. Selain di Paviliun 28, film ini juga akan diputar di beberapa tempat lainnya, salah satunya di Katedral Jakarta pad 14 Agustus 2017 nanti.[sri] 


Baca juga:
TANGGALKAN EGO SEKTORAL, SAATNYA BENAHI PERGARAMAN INDONESIA
PENGAMAT: PILPRES 2019 BAKAL SEPANAS PILKADA JAKARTA
IKUTLAH! UBK GELAR WRITING CONTEST FOR BUNG KARNO
HENTIKAN SALING MENISTA, JADIKAN PANCASILA PERILAKU BERBANGSA
GELAR AKSI SOLIDARITAS


Komentar Pembaca






Berita Populer

Pangdam II Ajak Umat Islam Tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan
Metode Tingkatkan Minat Baca, Sekolah ini Sediakan Gerobak
Narkoba Marak, Pesta Malam Akan Dibatasi