Disdik Larang Sekolah Jual Seragam, Tapi Faktanya?

Sosial  SABTU, 15 JULI 2017 , 14:15:00 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD WIWIN

Disdik Larang Sekolah Jual Seragam, Tapi Faktanya?

Ilustrasi/net

RMOL. Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering (OKU), tegas melarang sekolah baik negeri ataupun swasta untuk menjual seragam pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun 2017 ini.

Hal itu disampaikan Kepala Disdik OKU H. A Tarmizi. Dimana kata dia, ada sejumlah peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (permendikbud) yang menjadi acuan.

Salah satunya, Permendikbud No. 45/ 2014 tentang pakaian seragam sekolah bagi peserta didik jenjang pendidikan dasar hingga menengah.

Karena, dirinya sudah mengingatkan sekolah agar mentaati peraturan tersebut.

Bahkan, untuk pakaian olahraga dan seragam khusus misalnya batik, yang menjadi identitas sekolah, tidak boleh mewajibkan atau memaksa orang tua siswa untuk membeli di sekolah.

"Silahkan mau beli seragam di toko atau di pasar, karena itu hak orang tua atau wali murid," kata Tarmizi, Sabtu (15/7).

Hanya saja, pernyataan Kadisdikbud ini seolah bertolak belakang dengan kenyataan yang ada.

Hampir tiap sekolah yang membuka PPDB mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas, bahkan TK sekalipun, justru seakan "mewajibkan" siswa baru untuk memenuhi kelengkapan belajar di sekolah yang dituju.

Modusnya sangat cantik, bahkan seakan tidak bersentuhan langsung dengan panitia penerimaan siswa baru atau guru sekalipun.

"Sekarang pihak sekolah (panitia atau guru) memang tidak jual seragam. Tapi kebanyakan mereka mengakalinya dengan menjalin kerjasama dengan kantin atau koperasi sekolah," beber seorang wali murid MI, warga Baturaja Timur.

Ini dibuktikannya, saat dirinya meregistrasi atau daftar ulang anaknya yang diterima di salah satu sekolah SMA/ SMK Negeri di Baturaja.

"Untuk atribut, baju olahraga bahkan sepatu diwajibkan beli di sekolah. Kalau seragam putih abu-abu, Pramuka, kebanyakan pihak sekolah menyarankan beli di sekolah (kantin atau koperasi sekolah)," bebernya.

Nah, kalau orang tua ingin memesan sendiri seragam, pihak sekolah telah menunjuk tempat salah satu tukang jahit.

"Ya, seperti mereka main cantik. Bagi yang ingin memesan seragam diluar, pihak sekolah mennunjukkan salah satu tukang jahit kalau mau jahit sendiri. Itu diharuskan pada tukang jahit yang ditunjuk tadi," ujarnya.

Seragam sekolah yang umum, kalau beli yang disediakan di sekolah harganya Rp280 ribu - Rp285 ribu persetel. Untuk seragam kejuruan bahkan ada yang tembus Rp350 ribu persetel. Itupun  tergantung ukuran.

Sedangkan kalau beli di luar atau memesan di tukang jahit, satu setel seragam sekolah bisa didapat dengan harga sekitar Rp240 ribu persetel, tergantung ukuran.

"Kalau sepatu, khusus yang di kejuruan pihak sekolah membolehkan beli di luar. Akan tetapi mereka menyarankan sebaiknya beli di dalam," imbuhnya.

Diprediksi, modus macam ini rata-rata dipakai pihak sekolah. Mulai dari SD sampai tingkat menengah atas.

Bagi orang tua yang tidak mau ribet, biasanya mereka oke-oke saja. Beda dengan ibu ibu yang cerdik, sepatu atau seragam yang disediakan pihak sekolah biasanya difoto, dan mereka membelinya ke pasar. Alasannya lebih murah.

"Jangankan SD, murid TK baru pun diwajibkan beli seragam di sekolah. Ini juga terjadi di salah satu TK negeri di Baturaja," ungkapnya.[sri]








Komentar Pembaca
Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

SELASA, 19 JUNI 2018 , 11:00:00

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

SENIN, 18 JUNI 2018 , 09:00:00

Said Aqil: Staquf Ke Israel Bukan Agenda NU!

Said Aqil: Staquf Ke Israel Bukan Agenda NU!

KAMIS, 14 JUNI 2018 , 12:00:00

Guru Honorer Terima SK

Guru Honorer Terima SK

KAMIS, 26 APRIL 2018 , 18:53:00

Pagaralam Direndam Banjir

Pagaralam Direndam Banjir

MINGGU, 22 APRIL 2018 , 21:47:00

Rara Sosialisasi Asian Games

Rara Sosialisasi Asian Games

SELASA, 22 MEI 2018 , 07:45:00