RMOLSUMSEL

Home     


RELA “TERBAKAR” DEMI IMPIAN
SABTU, 15 JULI 2017 , 11:13:00 WIB
LAPORAN: SADAM MAULANA

HUDAIDAH/RMOLSUMSEL/SADAM MAULANA
  

RMOL. Merelakan warna kulit menjadi hitam bagi seorang wanita tidaklah mudah. Terbakarnya kulit tubuh karena sengatan Matahari dapat membuat hilangnya kepercayaan diri. Potensi terjadinya perubahan warna kulit boleh jadi akan dihindari sebagian wanita.

Namun tidak demikian dengan Hudaidah. Demi cita-cita dan menggapai prestasi sebagai atlet Polo Air, Ida merelakan kulitnya terbakar. Dia tidak mempermasalahkan kulit mulusnya menjadi korban sengatan Matahari asalkan dapat meraih prestasi.

"Bukan cuma kulit hitam, sejak aktif di Polo Air saya juga jarang ada di rumah, waktu dengan keluarga sangat terbatas. Apalagi kalau lagi TC (Training Camp) jangka panjang bisa-bisa Lebaran di jalan," kata Ida.

Pengorbanan Ida memang tidak sia-sia. Sejak aktif di Polo Air pada 2007, buah hati pasangan Abdul Kadir dan Salami sudah meraih berbagai prestasi. Tidak hanya di tingkat nasional, namun hingga mancanegara.

Prestasi prestius pertama yang diraih Ida ialah saat tim Polo Air Indonesia mampu meraih medali Perak setelah tampil sebagai runner up SEA Games 2011 di Palembang.

Meski gagal juara, namun capaian ini tetap membanggakan bagi wanita kelahiran Palembang, 28 Agustus 1991. Terlebih Ida tampil bersama tim terbaik Indonesia dan bermain di tanah kelahiran.

Selang empat tahun berikutnya prestasi tingkat Asia Tenggara kembali ia raih. Namun kali ini Tim Polo Air Indonesia hanya mampu meraih medali perunggu SEA Games 2015 di Singapura.

"Tampil bersama timnas dan berhasil menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia merupakan pengalaman paling berkesan. Apalagi ini merupakan kejuaraan tingkat Asia," ujarnya.

Untuk tingkat nasional, Ida juga mampu membawa timnya berbicara banyak. Bersama kontingen Sumatera Selatan (Sumsel), Ida sanggup membawa timnya melangkah jauh untuk meraih medali Perak Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau.

Sedangkan pada PON 2016 di Jawa Barat (Jabar), Ida bersama tim Polo Air Sumsel harus puas dengan capaian medali Perunggu. Meski demikian raihan ini tetap berkesan bagi Sulung dari enam bersaudara.

Apalagi, saat tampil di PON Ida selalu bermain bersama Karmila Utari yang merupakan adik kandungnya. Ya, Ida dan Karmila memang sering tampil bersama di Polo Air. Terutama di tingkat nasional.

Saat pertama kali mengenal Polo Air, Ida yang aktif di Renang sejak bangku Sekolah Dasar (SD) mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan. Ketika itu orang pertama yang mengenalkan Polo Air kepada Ida adalah pelatih renang-nya, Agustina Ria.

Bukan hanya Ida, Karmila Utari yang aktif di renang turut ditawari. Awalnya orangtua Ida tidak setuju. Apalagi, pilihan Ida untuk serius di Polo Air harus membuatnya terpisah dengan keluarga dalam waktu yang cukup lama.

Bersama Karmila, Ida harus rela pindah Sekolah ke Sekayu, Musi Banyuasin (Muba). Pilihan yang dilematis. Namun kesempatan tidak datang dua kali hingga akhirnya Ida memutuskan untuk pindah Sekolah demi menekuni cabang olahraga (Cabor) Polo Air.

"Saya pindah pada 2006 saat SMA dan Karmila waktu itu masih kelas 6 SD. Walaupun berat meninggalkan keluarga saya tetap ambil kesempatan ini sekaligus membuktikan kepada orangtua bahwa pilihan saya tidak salah," ungkapnya.

Keputusan Ida memang tepat. Keraguan orangtua terbalaskan dengan keberhasilan Ida menembus skuad timnas Polo Air sejak tahun 2008.

Dan keberhasilan menjadi juara pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) U-20 di Palembang 2010 semakin mempertebal kepercayaan orangtua. Terlebih Ida tampil bersama Karmila yang lebih muda empat tahun.

"Sejak saat itu kami (saya dan Karmila) selalu bermain bersama. Terutama saat membela panji Provinsi Sumsel," tuturnya.

Hingga kini, Ida masih dipercaya tampil bersama timnas. Dia juga sudah mendapat garansi akan tampil di SEA Games 2017 di Malaysia. Wanita dengan tinggi 170 cm ini juga optimis dapat menyumbangkan medali.

"Dengan persiapan yang matang saya yakin pada SEA Games kali ini kami bisa kembali menyumbangkan medali. Dibandingkan sebelumnya kekuatan kami juga tidak banyak berubah," terangnya.

Menghadapi SEA Games 2017, tim Polo Air melakukan persiapan yang cukup matang dengan menggelar TC di Sidney, Australia. Selama di Negeri Kanguru tim Polo Air juga mengikuti kejuaraan Sidney Youth Festival.

Meski hasil yang diraih kurang memuaskan, namun ujicoba ini setidaknya dapat menjadi bahan evaluasi, jelang beberapa pekan pelaksanaan SEA Games 2017. Hingga target meraih medali dapat terwujud.

Khusus untuk Ida, dia memiliki target pribadi untuk tampil di Asian Games 2018. Baginya, pelaksanaan Asian Games tahun depan merupakan kesempatan terakhir sebelum memutuskan untuk pensiun.

"Usai Asian Games saya berencana pensiun. Dan setelah itu saya punya keinginan untuk jadi wasit Polo Air wanita pertama di Indonesia," akunya.

"Saya ingin tetap aktif karena Polo Air telah memberikan kesan berharga. Dari Polo Air saya bisa jalan-jalan keluar Negeri dan yang sebelumnya tidak pernah terbayangnya," ujarnya.[rik]


Baca juga:
REHABILITASI DIKABULKAN, AMMAR ZONI JANJI TOBAT
PELUNCURAN PETA BARU NKRI
DAPAT RESTU MEGA, GIRI LANGSUNG BERGERAK
RESMI DITAHAN, PELAPOR KAESANG MERASA DIKRIMINALISASI PENGUASA
YOGYAKARTA DIGUNCANG GEMPA BERKEKUATAN 4,2 SR


Komentar Pembaca






Berita Populer

Tim Sepakbola PALI Seperti Dikebiri
Terus Semangat, Sriwijaya FC Ikut Turnamen Walikota Padang
Usai Sabet Emas Porprov, Dhani Wakili Sumsel di Kejurnas Biliar