RMOLSUMSEL

Home     


"GEBUK", BAHASA GAUL PRESIDEN JOKOWI UNTUK TEGAS DAN LAW ENFORCEMENT?
JUM'AT, 19 MEI 2017 , 09:40:00 WIB

PRESIDEN JOKOWI/NET
  

RMOL.Saat memberikan sambutan pengantar pertemuan dengan para Pemimpin Redaksi di Istana Merdeka Jakarta, Rabu (17/5), Presiden Joko Widodo sempat menggunakan kata "gebuk" ketika membicarakan kelompok dan atau aktivitas yang ditenggarai bertentangan dan merongrong Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI. Sontan kata "gebuk" menjadi headline media mainstrem dan trending topik di media sosial.

Bagi kalangan aktivis dan jurnalis yang umurnya sudah berkepala empat, kata "gebuk" dengan cepat membawa ingatan pada sosok Presiden Kedua Republik Indonesia, Jenderal Besar Soeharto, The Smiling General.

(Alm) Bapak Drs. H. Tarman Azzam, M.Sc. (Ketua Umum PWI Pusat 1998-2003 dan 2003-2008) pernah bercerita kepada penulis, selama beberapa periode beliau menjabat Ketua Wartawan Istana dimasa Pak Harto berkuasa, Pak Tarman tidak pernah melihat raut marah di wajah Pak Harto. Pak Harto sangat luar biasa mampu mengendalikan raut wajahnya. Segala emosi yang menggelora di dada Pak Harto seolah bisa beliau lokalisir di dada saja, tidak sampai nampak di wajah. Dan jika Pak Harto sudah sangat marah terkait suatu urusan kenegaraan dan penyebab marah beliau harus segera diselesaikan secepat-cepatnya, para pembantu Pak Harto biasanya mengidentifikasi dengan kalimat "ta' gebuk". Jika Pak Harto sudah mengeluarkan kalimat "ta' gebuk", itu artinya urusannya teramat sangat serius dan Pak Harto sangat marah, dan para pembantu beliau harus segera bertindak. Terjemahan bebas kalimat "Ta' gebuk" kedalam bahasa Indonesia kira-kira setara dengan kalimat "saya gebuk" yang diucapkan dengan intonasi serius. Bagaimana para pembantu Pak Harto menyelesaikan urusan yang terkait ucapan Pak Harto tidak akan dibahas disini.

Presiden Jokowi juga dikenal publik jarang bahkan mendekati tidak pernah terlihat marah. Sebagai orang yang lahir dan besar di lingkungan bahkan di pusat budaya Jawa yaitu Solo dan Yogyakarta, sebagaimana Pak Harto juga demikian, ungkapan dengan menggunakan kata "gebuk" oleh Presiden Jokowi tidaklah salah jika ditafsirkan bahwa topik yang dibicaralan Presiden Jokowi merupakan sesuatu yang tidak saja serius namun juga kritis yang mengundang emosi Presiden sedemikian rupa sehingga memilih menggunakan kata "gebuk" dalam kalimat yang dipakai.

Tentu saja penulis tidak bermaksud menyamakan bahwa Pak Harto dan Presiden Jokowi memiliki pemahaman yang sama tentang bagaimana seharusnya pembantu-pembantu Presiden merespon penggunaan kata tersebut. Pak Harto mengucapkan kalimat tersebut dalam kondisi politik kenegaraan berada sepenuhnya dalam kendali beliau. Sementara Presiden Jokowi mengucapkan kalimat tersebut dalam kondisi politik kenegaraan sepenuhnya dijalankan sesuai dengan amanat reformasi, sesuai dengan norma-norma demokrasi, sesuai dengan koridor hukum.

Penulis lebih memaknai kalimat Presiden Jokowi tersebut sebagai ungkapan Presiden Jokowi untuk mengatakan dan menyampaikan pesan, baik kepada publik maupun kepada pembantu-pembantunya, bahwa beliau sangat serius, sangat tegas, dan sekaligus memerintahkan para pembantu-pembantunya untuk juga serius dan tegas menegakan hukum terhadap semua bentuk aktivitas dan kelompok yang ditenggarai bertentangan dan merongrong Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI.

Dan karena Presiden Jokowi juga dikenal sebagai Presiden humanis, maka kata "gebuk" nampaknya lebih tepat dimaknai sebagai bahasa gaul Presiden Jokowi untuk menggabungan makna  tegas dan law enforcement secara bersamaan untuk menghadapi aktivitas dan kelompok apapun yang merongrong empat pilar berbangsa dan bernegara Indonesia.

OLEH: HENDRA J KEDE


[sri]






Baca juga:
ADIAN NAPITUPULU DIMINTA JANGAN ADU JOKOWI DAN JK
HABIB MAHDI APRESIASI PEMKOT
SEPAK BOLA DURIAN TANGKAL RADIKALISME
AHOKERS PALEMBANG TUAI KECAMAN, INI DIA ULAHNYA
TOLAK KHILAFAH, PEMUDA MUHAMMADIYAH SADARKAN HTI


Komentar Pembaca






Berita Populer

Orang Ini Disebut Juara 1 Koruptor di Indonesia
Ida Fitriati Jadi Calon Tunggal PBB
Film G30S/PKI Boleh Ditonton Asal Lolos Sensor