RMOLSUMSEL

Home     


KAMPUNG NELAYAN SUNGSANG
H HAZUAR BIDUI: POTENSINYA MELEBIHI SINGAPURA
RABU, 10 MEI 2017 , 11:40:00 WIB

FOTO/NET
  

RMOL. Sungsang berada di muara Sungai Musi yang menghadap Selat Bangka atau Laut Cina Selatan yang begitu strategis. Sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan.

Hasil tangkapan ikan laut, beragam jenis udang, kepiting rawa, yang diperdagangkan nelayan Sungsang begitu mudah ditemukan. Sementara warga lainnya, bekerja sebagai pengepul daun nipah, pedagang atau buruh.

"Sungsang juga memiliki kampung nelayan yang begitu eksotis untuk dinikmati wisatawan mulai dari alamnya, kulinernya dan indahnya nuansa keragaman budaya yang ada," kata tokoh masyarakat Banyuasin, H Hazuar Bidui AZ kepada RMOLSumsel, Rabu (10/5).

Potensi lainnya yang masih bisa terus digaji untuk meningkatkan minat wisatawan adalah sejarah lahirnya Sungsang. Apalagi wisata sejarah memiliki daya magnet kuat bagi wisatawan terutamana mereka dari mancanegara.

"Desa Sungsang diperkirakan sudah lahir sebelum adanya Kerajaan Sriwijaya, terbentuk sejak abad ke-17. Di masa Kesultanan Palembang, Desa Sungsang dipimpin ngabehi atau kepala dusun. Kesultanan Palembang juga menunjuk Paluwo sebagai demang, yang tugasnya mengawasi lalu lintas pelayaran di muara Sungai Musi pada masa itu, menarik bukan," lanjut Bakal Calon Bupati Banyuasin periode 2018-2023 ini menjelaskan.

Sungsang juga dikenal sebagai dusun tertua di wilayah pesisir timur kabupaten Banyuasin, wilayah administratif Banyuasin II. Sebagai Ibu Kota Kecamatan Banyuasin II, Sungsang memiliki 17 desa yang luasnya mencapai 3.632 kilometer persegi atau lima kali luas Singapura.

"Begitu besarnya potensi yang ada di Bumi Sedulang Setudung, kalau digaraf sedemikian rupa maka, saya yakin keindahan dan eksotisme itu melebihi Singapura," lanjutnya.   
 
Tidak berhenti sampai disitu saja, wisatawan juga bakal disuguhi khasanah budaya di 16 desa lainnya di Sungsang yang merupakan pengembangan yang dilakukan masyarakat Sungsang dengan mengajak para pendatang dari Bugis, Jawa, Sunda.

Dengan posisinya yang strategis dan luas tersebut, membuat pemerintah Sumatera Selatan (Sumsel) dan Indonesia berambisi menjadikan Sungsang sebagai kawasan ekonomi yang ditunjang sejumlah pelabuhan Tanjung Api-Api.

"Artinya pemerintah sadar betul akan potensi yang berlimpah itu, tinggal lagi kita galakkan agar lebih 'menggelegar' kemana-mana," imbuhnya.

Bagi para wisatawan yang gemar dengan handicraft (kerajinan tangan) dapat bertemu langsung bahkan mempelajari langsung dari tangan terampil disana.

"Selain menjadi nelayan, sebagian masyarakat Sungsang juga menjual daun nipah. Umumnya, dijual ke Palembang dan Jambi. Secara turun-menurun masyarakat Sumsel banyak menggunakan daun nipah. Untuk atap rumah, atau dibuat dinding yang disebut kajang untuk perahu. Daun nipah juga dijadikan bahan pembuatan tikar, aneka keranjang, caping, sapu lidi, serta sebagian dijadikan pucuk atau pembungkus rokok tembakau. Luar biasa bukan," pungkasnya.[bubun/rik]


Baca juga:
DUKUNG JR NBA, PAGARALAM SIAP JADI PUSAT PELATIHAN
PERIKSA SURAT KENDARAAN
EKS KARHUTLA DITANAMI POHON LANGKA
TUAN RUMAH BONN CHALLENGE, GUBERNUR SUMSEL DISERBU PUJIAN
PILKADA SERENTAK 2018, PKB MASIH ADEM AYEM


Komentar Pembaca






Berita Populer

Audisi Liga Dangdut Indonesia, Sumsel Provinsi Paling Antusias
Wow! Meriahnya Audisi LIDA, Pintu pun Dijaga Brimob
Musisi Belanda Ditantang Mainkan Lagu Palembang